Tampilkan postingan dengan label sebuahcerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sebuahcerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Oktober 2017

Selamat Pagi wahai Sore di penghujung Malam



"Melukiskan wajahmu di otakku setiap pagi adalah kemampuan sekaligus hobi terhebat ku"

Pagi menghadirkan sebuah cerita tentang rasa, rasa terbangun dari mimpi semalam, rasa merajut kenangan tentang perjalanan, rasa tentang secangkir kopi pahit dan aroma pagi. Bahagia atau bermain dengan kelam, pagi mengambil andilnya dalam memutuskan. Pagi adalah perjalanan dan langkah kaki menuju hari esok yang entah bagaimana. Pagi datang setiap hari untuk dipilih, memilih kanan atau kiri, depan atau belakang. Mengawali rangkaian cerita dan sebagai pembuka asa dari dari ruang gambar yang hampir memudar.

Klise dan tak mampu dipungkiri, perjalanan mencapai titik penghabisan, selayaknya waktu sore hari di kala hujan reda yang menghapus jejak-jejak hingga nyaris hilang. riuhnya kendaraan yang berganti menjadi tenang berlatarkan melodi jingga. Cahaya temaram yang mengantar jalan menuju pulang, membawa wajah lelah yang sesak dimakan rasa. Diantara ruang waktu yang terlalu lama bersemayam, perlahan diam dan memutuskan untuk sirna, entah kemana angin membawa pergi.

Malam menghabiskan waktu menghapus janji yang pernah terucap, ribuan kata yang pernah saling berbalas, dan lengkung senyum yang menjadi penghias. Janji yang tak mampu ditepati, pesan yang setiap katanya menambah porsi harap, senyum yang setiap inchinya menambah damba. masa yang setiap terkenang membunuh sadar. Singgah yang tak pernah berakhir menjadi sungguh. Cerita dan setiap simpang di dalam perjalanan, lampu dan lukisan yang berderet di sepanjang jalan, lalu semesta memaksa untuk henti.



Terima kasih untuk kopi pahit dan aroma pagi...

Selasa, 10 Oktober 2017

Menagih Janji






Dear yang telah melupakan dan dilupakan...

Hey, kamu... Apa kabar? Masih menjadi kamu sampai hari ini? atau sudah berubah karena mengganggap beberapa sesuatu yang bias lalu kamu definisikan "Gila".
Lima Tahun! Yap... Sudah lima tahun, sejak hari dimana aku menanyakan sebuah mimpi, lebih mungkin, tapi biarlah aku masih belum bisa bercerita banyak dengan mimpi itu. lalu kamu? mungkin secangkir kopi hitam pahit kesukaanmu tidak akan sanggup menjadi peneman cerita dari semua yang sudah kamu lakukan. Maaf kalau mimpiku berubah, banyak hal yang membuat tanganku tak mampu lagi menggapai cerita-cerita manis yang kutuliskan dalam secarik kertas.

Hey, kamu... Sudah berubah kah selera musik kamu? atau kita masih memiliki cara pandang yang sama mengenai nada? tentang aksara yang meneduhkan, tentang daun yang berguguran, tentang hujan yang melukis langit, tentang waktu yang bergerak mundur. Tahu tidak? terkadang pola pikirmu merusak duniaku, merusak tiap syaraf tingkah ku, maaf jika aku tak lagi mengagumimu, sepertinya lima tahun cukup untuk mengagumimu, ingat! hanya kagum, tak lebih. Oh iya, kalau selera musik kita masih sama, aku merekomendasikan Payung Teduh ya? Band ini sama seperti wajah kamu, selalu meneduhkan.

Hey, kamu... masih ingat cerita kita? tentang ombak, asap dan perjalanan. Ah, sudahlah... aku lupa bahwa aku gila, cerita itu pasti sudah terlupakan, semoga suatu saat ada mimpi yang membawanya ke dalam ingatanmu ya. Oh iya kemarin aku mencarimu, tak kutemui, sepertinya aku masih bodoh dalam mencari, mungkin takut tertangkap basah bahwa aku sedang mencari, sama seperti halnya kamu yang selalu bersembunyi. Ingat tidak hari itu? aaaah... betapa bodohnya aku untuk memaksamu mengingat hal-hal tidak penting itu. Tapi biarlah, yang penting aku senang. Ingat tidak hari itu, hari dimana kita berjanji akan saling culik menculik, hahaha... Watu itu aku pikir kita ini seperti dua anak kecil yang bernyanyi riang ditaman yang penuh mainan.

Hey, kamu... bertahun-tahun kita tak saling sapa, entah karena mimpi kita yang tak lagi sama atau mungkin cerita kita yang telah berbeda. Aku sadar betul bahwa aku telah menyimpang jauh dari rel yang seharusnya, tapi aku 100% yakin kamu masih berjalan di trek yang sama, betul kan? kalau tidak bagaimana bisa kawanku mengabari kehadiranmu di sore itu sedang bermain-main dengan mimpi-mimpimu. Mungkin jikalau aku hadir dan menyapa... aaah tidak, tentu saja aku tidak akan menyapamu terlebih dahulu, untuk apa? toh kata-kata selamat tinggal pun tak pernah terucap.

Hey, kamu... bagaimana mungkin hari itu kamu bisa kembali menyapaku? bagaimana mungkin layar di kaca handphone ku kembali menghadir namamu? Oh iya. aku baru tersadar setelah beberapa baris kalimat dari mu. Sebuah undangan pernikahan yang kamu tautkan bersama sebuah gambar beserta denah tempat diberlangsungkan resepsi dan akad nikah. Aku bergumam "Oh, akhirnya setelah sekian lama" lalu kubalas dengan ucapan maaf karena aku sedang berada di lain kota karena pekerjaan. Entah kenapa aku harus meminta maaf, tapi hari itu doaku tulus untukmu, agar semua proses berjalan dengan lancar dan kamu diberi kebahagiaan bersama priamu, sungguh aku tulus dan terima kasih telah mengundangku.

Padang, 2014

Rabu, 16 Agustus 2017

Sementara




"Sementara akan kukarang cerita, Tentang mimpi jadi nyata... Untuk asa kita berdua."

“Apa Kabar?”
Dua buah kata yang bagaikan memberi makan ego, memekarkan bunga yang hampir layu kembali, dan menjawab semua tanya tentang ruang waktu yang sempat terlompati. Hari ini, rindu terobati... entah esok, entah lusa, yang jelas hari ini ia sembuh.
Semesta memainkan perannya di tengah asa yang memudar, Waktu seolah bergerak sinusoidal untuk menjemput kembali, diantara langkah kaki yang nyaris tak pernah beranjak. Diantara cerita-cerita yang masih berjejak.

“Aku Rindu...”
Klise untuk mengatakan tentang rasa yang sebenarnya, klise untuk menafikan diri untuk berkata jujur. Biarlah rindu berada diujung dahi kita masing-masing tanpa pernah terucap. Paling tidak binar mata tak mampu berbohong.

Seolah hari ini aku kembali menggali kotak yang berisikan kumpulan cerita dan memainkannya kembali hanya untuk mengenyangkan rindu. Lagi-lagi bibirku tersenyum mengenang semuanya, karena hanya waktu yang kala itu mengalahkan setiap pertemuan. Karena setiap cerita bersamamu begitu menyenangkan, meski hanya mendengarkan ceritamu di sebuah sudut rumah kopi yang bahkan tak kamu sukai.

Kanvas imajinasiku berlari-lari melukiskan detail garis waktu kala itu, menghapus hadirmu adalah hal tersulit bagiku, di momen terburuk serta terhebat yang diselingi wajahmu, sang kuas menari-nari lincah, lalu berhenti untuk menambahkan sesuatu; entah air mata atau lengkungan senyum.

Seperti hari itu, di momen terhebatmu yang sekaligus salah satu momen burukku, mengamatimu dari jauh adalah salah satu kebodohanku kala itu, tapi aku memang sebodoh itu, demi menunggu dan mengabadikan senyuman banggamu dari jauh dan mendapati engkau yang tersenyum riang bersama pria mu kala itu...  di hari wisudamu.

Kita adalah lingkaran waktu yang kembali ke titik asalnya, yang membedakan adalah kematangan dan bagasi kenangan masing-masing. Biarlah semesta berkonspirasi, menemukan celah-celah kehidupan yang entah bergerak kemana. Menuju akhir cerita dan memastikan setiap rasa, yang jelas hari ini adalah bahagiaku, entah esok atau lusa.

“Percayalah hati lebih dari ini, pernah kita lalui. Takkan lagi kita jauh melangkah... untuk sementaraaaa.”

Solok, Sumatera Barat. 

Kamis, 01 September 2016

Dark Alley

Izinkan aku merangkai kata kembali

Tentang sebuah malam yang entah mengapa begitu sunyi
Tentang sebuah cerita yang entah harus bahagia atau menangis
Sementara, aku berkawan dengan riangnya geliat kelelapan
Berjalan sendirian menuju tempat melihat angkasa
Memikirkan cara melangkah menuju jalan terang
Lalu meninggalkan semua yang kelam.

Tak ada yang selamanya, begitu juga sepi yang melekat
Warna-warna berlari-larian lalu bintang melukis riuhnya langit
Seakan memohon untuk digapai menggoda hasrat
Biarkan… Biarkaaan…

Berdiam dan terdiam berkawan, berpegang tangan manja
Demi membunuh sisa-sisa kehidupan yang terkikis
Waktu berjalan cepat mengingatkan setiap kosong
Berlari tapi hasrat bermimpi bak palang henti.

Tak ada yang selamanya, begitu juga badai yang menerjang
Ada saatnya menyapu serpihan kekhawatiran lalu menggapai
Waktu tak akan dapat menahan ego yang begitu kuat
Biarkan… Biarkaaan…

Besar menjadi kecil, lalu kecil perlahan membesar

Bukan mati diterpa duniawi, bukan hancur dimakan arang

Rabu, 16 September 2015

Senja yang terbuat dari rinai hujan



Bau kopi-nya semerbak, Suasananya terkesan vintage dengan nuansa kayu yang berwarna coklat menuju krem, interior dengan segala ornamen-ornamen dan ambience yang temaram menemani sore yang akan segera berganti menjadi gelap. Aku masih asyik menghisap rokok ku sambil sesekali menghirup kemasan biji kopi yang terletak di meja barista, biji kopi sachet besar yang sengaja diberi bolongan-bolongan agar bau-nya dapat dirasakan tanpa harus membuka kemasan, seandainya kamarku memiliki wangi seperti ini aku pasti mudah terlelap.

Jakarta hari itu seolah tak mau meninggalkan persona-nya secuil pun, kemacetan di tambah hujan sore itu memaksa para pegawai seirama menepikan kendaraannya sejenak, termasuk diriku. Sebenarnya bisa saja aku pulang dengan mantel motor ke rumah lalu segera merebahkan badan, toh rumah ku tak sejauh para pegawai di kantorku yang lain, tapi aku benci rutinitas, kali ini sengaja kuparkirkan vespa ku di sebuah coffee shop yang memang barista-nya sudah ku kenal beberapa bulan terakhir.

"Nih Boi, pesenan lu. Hot Chocolate dan ini gula lo" Redy menyerahkan pesananku ditambah dua sachet gula rendah kalori. Ia tahu kalau aku selalu memakai gula yang ku bawa sendiri sejak hari pertama aku duduk di 'Ruang Kopi'.

"Makasi Boi..." Jawabku sambil meletakkan sachet besar biji kopi yang sejak tadi asyik ku mainkan dan ku hirup.

"Oiya Boi, gue tinggal bentar yah? Gue mau ngambil susu dulu, stok tinggal sedikit nih."

"Okeh"

"Ntar kalo ada apa-apa, sama Arina aja yah" Redy menunjuk salah seorang barista yang baru pertama kali kulihat hari itu. Arina terlihat mengangguk tanda meng-iyakan, barista baru sepertinya, wajahnya nampak innocent dan ada sedikit ketakutan kala ditinggal Redy.

"Ooooh okeh sip..."

"Arina yah namanya? baru disini ya?"

"Iyah mas, baru dua minggu, part time aja disini sambil skripsian soalnya, jadi lumayan banyak waktu"

"Oooh iyah. Bulan lalu aku kesini belom keliatan kayaknya, aku Tama" Kita saling mengangguk tanpa bersalaman

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ruang Kopi adalah salah satu tempat yang menjadi saksi dalam perjalanan cerita ku, perjalanan dalam mencari seseorang yang ketika melihat atau bersamanya dalam pikiranku akan mengangguk dan berkata "She's the One".
Sahabat-sahabatku kadang menyebut diriku seorang yang 'picky', setelah aku beberapa kali menyudahi pendekatanku dengan orang-orang yang dikenalkan sebelum benar-benar dekat, aku selalu menyanggah disebut pemilih seperti yang dilabeli mereka.

"Gak ada yang sempurna Tam, inget ada satu hal yang gak akan pernah bisa lo lawan, waktu" Tegas Gege mengingatkanku. Gege adalah salah satu sahabatku yang pernah mengenalkan teman kantornya denganku, dan berakhir hanya sekali pertemuan dan tiga kali telponan.

"Apa yang salah dengan mencari seseorang yang memiliki satu hobi sama gue?"

"Aduuuh Tam, apa sih yang kurang dari seorang Sean, udah cantik, karirnya bagus, dan yang penting dia ngasih lampu ijo, kenapa lo malah berenti sih?" Kali ini Reisa yang sibuk menceramahiku setelah aku tak lagi menghubungi sepupu jauhnya.

"Gak ada chemistry, gue ngerasa she's not the one." Jawabku lemah.

"Terus lo masih mau nyari cewek yang sesuai sama hobi langka lo itu? Baca buku Pramoedya Ananta Tour dan Puisi Sapardi Djoko Damono, atau mendengarkan lagu dari Band band indie berkesan jadul yang entah apa judulnya dari vinyl di kamar lo itu? ingat Tam, sekarang 2015." Reisa sudah mulai gerah dengan statementku tadi.

"Gak gitu juga, gue mengidolakan wanita yang suka membaca buku, gue mengangumi aksara dan gue harap dia sama, gak harus sastrawan atau penyair, gue menyukai banyak penulis muda, Aan Mansyur, Adhitya Mulya, Pidi Baiq, dan banyak lainnya. Begitu juga musik, Gue mencintai setiap not yang dihadirkan oleh musisi idealis, bukan pengejar pundi pundi rupiah yang semakin gak jelas arah rimbanya. Dialog dini hari, Sore, Balllad of the Cliche, Banda Neira, atau sekelas Efek Rumah Kaca contohnya."

"Waktu jalan sama Sean, ku dengar ringtone handphone-nya bunyi, Armada - Pergi Pagi Pulang Pagi" Sambungku beberapa saat setelahnya, nampak Reisa menahan ludah mendengar statementku, Gege tertawa lepas.

"Mungkin dia Armada Ranger garis keras! Hahahaha... Waktu lo pergi sama dia, dia gak pake kaos A4P kan? Armada Pergi Pagi Pulang Pagi? Hahahaha" Gege masih asyik dengan imajinasinya sambil asyik tertawa.

"Tam! Oke gue akuin kalo selera musiknya gak sama atau se-asyik elo, tapi itu kan bagian dari selera, lagian juga elo masih bisa ngubah semuanya kan? Sisi bagus dia masih banyak kok!" Reisa seolah membenarkan namun masih tak ingin kalah.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari sudah menunjukkan pukul 20.40, aku masih terhanyut dengan kesendirianku hari itu, ditengah sebuah tempat bernama Ruang Kopi yang pekat aroma kopi dan nuansa kayu, aku mengagumi interior dan ambience yang dihadirkan di ruangan ini. Hujan sudah mulai berdamai dengan jalan Jakarta, satu persatu pengunjung kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Arina sedang sibuk membereskan meja sisa pengunjung, mencucinya dan sesekali tersenyum ketika lewat dihadapanku. Wajahnya terlihat sederhana tanpa banyak polesan seperti wanita kebanyakan, apron yang ia kenakan terlihat matching dengan jilbab coklatnya. Kuperhatikan ia sibuk memainkan handphone-nya dan sesaat kemudian dicolokkan ke main speaker.
"Semesta bicara tanpa bersuara
 Semesta ia kadang buta aksara
 Sepi itu indah, percayalah
 Membisu itu anugerah"
Sesaat aku terkejut, terdengar jelas suara dari Ananda Badudu dan Rara Sekar merangkum satu ruangan bernama Ruang Kopi malam itu, Arina terlihat tersenyum sendiri, wajahnya teduh dan terlihat senang mendengar lagu yang ia putar dari iPhone-nya.

"Mas, saya Sholat Isya dulu ya? Nanti kalo ada pelanggan minta tolong suruh duduk aja dulu ya mas?" Arina bertanya dan hanya kujawab dengan anggukan.

Lalu ia mengambil mukena yang terletak didalam tas-nya seraya mengeluarkan buku lalu memasukkannya kembali, Aku tau buku itu dari sampulnya, sebuah buku yang baru-baru ini ku beli di Gramedia. 'Sapardi Djoko Damono - Hujan Bulan Juni'.

"Arina, itu buku-nya Sapardi? Hujan Bulan Juni?" Kupastikan penglihatanku tak salah.

"Iya mas," Jawabnya heran

"Suka?"

"Menurut aku, gak ada penyair lain yang bisa mendefinisikan hujan seindah Sapardi Djoko Damono" Aku tersenyum sambil memerhatikan kedua mata Arina yang terlihat canggung.

"Permisi Mas".


“tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni 
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni 
dihapusnya jejak-jejak kakinyayang ragu-ragu di jalan itu 
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni 
dibiarkannya yang tak terucapkan 
diserap akar pohon bunga itu”  
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni


Padang, 6 Agustus 2015












Minggu, 26 Juli 2015


Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Entah kenapa aku ingin menulis tentang mu hari ini (lagi). Tentang kamu yang hilang tapi masih dalam jangkauan. Tentang kamu yang entah kapan mendeklarasikan selesainya percakapan kita. Tentang kamu yang membangun tinggi-tinggi sebuah perbatasan agar aku tak dapat memanjatnya, padahal cukup kamu bilang 'Stop' saja aku tidak akan berani masuk selangkah pun, ya aku sebegitu penurutnya.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Aku belum bodoh, terlebih gila... Setiap neuron di pikiranku masih berfungsi selayaknya, seperti hal-nya percakapan-percakapan santai kita di awal pertemuan, seperti cerita-cerita yang selalu kamu bagi setiap malamnya, seperti aksara yang terkirim melalui smartphone kita, semua nya normal dan terjadi begitu saja. Ya, sebelum lahirnya ekspektasi atau gurauan orang di sekeliling kita, mungkin awalnya semua adalah rahasia.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Sungguh satu persoalan pun tak aku mengerti tentang cerita ini, kamu yang datang, kamu yang tertawa, kamu yang menangis, kamu yang bercerita lalu kamu yang pergi, seperti lucid dream yang tiba-tiba terbangunkan, awalnya semua seolah nyata, seolah wajah yang ku tatap dekat itu benar milik mu, seolah suara yang kudengar itu tepat suara mu, lalu aku tersentak dan semuanya bohong. Tidak ada lagi suara yang menceritakan entah tangis entah tawa, tidak ada lagi referensi tentang musik yang secara kebetulan selera kita sama dan sama seperti mimpi, semuanya tanpa penjelasan.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Secangkir ekspresso panas tanpa gula, uuuh... membayangkannya saja sudah terasa betapa pahit ketika mengalir di kerongkongan, tapi kamu meminumnya dengan santai lalu berbincang hangat. Deburan ombak mungkin akan selalu menjadi hal yang kuingat tentang dirimu, semoga sama halnya seperti kamu, tidak usah kita ceritakan lagi, mari kita masukkan ke dalam kotak biar terkunci rapat lalu ku buang ke tengah lautan, yang pasti aku masih akan selalu mengingat isi di dalam kotak itu.


Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Kita bercerita tentang gunung, tentang laut, tentang pantai tentang ombak. Asap rokok yang bergumul, ampas kopi yang menggumpal, lantunan musik yang semarak di udara, lalu selipan rahasia yang terekat. Kamu yang menyadarkan aku kalau dunia ini adalah sebuah playground untuk berpetualang, atau hanya berlari-larian dengan pemandangan belakang pegunungan atau pantai yang kamu sukai. Ya, setiap tempat mempunyai rasa-nya masing-masing, memiliki cerita yang dibubuhkan untuk di kenang sewaktu-waktu dan kamu yang menutup semua cerita ini tanpa tanda titik. Dan aku yang masih saja menunggu kamu untuk menutup dan memberikan tanda titik di akhir cerita ini.





Rabu, 08 April 2015

Untukmu yang kujumpai di hari senin

Hari ini aku seolah terbang kembali ke masa lalu, sebuah harddisk dari komputer lama berhasil diperbaiki teman kantorku, kupindahkan semua file yang berada didalamnya, file-file yang sudah sangat lama tak pernah kulihat. Sebuah folder bertuliskan 'Segala yang indah' merangkum satu masa di dalamnya. Masa putih abu-abu, masa yang kata orang penuh cerita, penuh rasa, penuh warna. Aku pertama kali merasakan pacaran pun di masa ini. Terlambat memang kalau melihat teman-temanku yang sejak SMP sudah berkali-kali bertukar pasangan tapi ya sudahlah, toh ini bukan sebuah perlombaan.

Sebuah Mp3 player dan kamera pocket adalah barang wajib selain buku pelajaran yang selalu ku bawa setiap harinya menuju ke sekolah. Mp3 player yang menjadi teman ku dijalan selama perjalan menuju ke sekolah jalan kaki, yah sekolah ku tidak lebih dari 500 meter jaraknya, dan kamera pocket yang memaksa ku menghabiskan seluruh tabungan demi merangkum cerita melalui gambar-gambar didalamnya.

Sosok didalam sebuah foto menyita perhatianku hari itu. Windy Senja Putri, sosok yang menjadi cerita di akhir masa SMA ku, sosok yang sepertinya hanya dia yang memiliki folder khusus di harddisk-ku dengan nama "Senja", sama seperti nama tengahnya. Satu hal yang menjadi pertanyaan ku saat ini "Sudah Menikah?"

Hari itu hari senin, aku diingatkan oleh sebuah foto yang terpampang dilayar komputerku, seorang gadis mungil dengan baju putih dan rok putih duduk disebelahku sambil mendengarkan Mp3 milikku tanpa menatap ke kamera, begitu juga dengan diriku yang tepat disebelahnya. Sebuah foto yang diambil candid oleh seorang temanku, sepertinya kita sedang asyik mendengar lagu sambil melihat pertunjukkan yang digelar disekolah.

"Kamu mau jadi apa suatu hari nanti?" tanyanya didalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Aku... hmmm, aku pengen jadi orang yang bisa keliling dunia. kenapa nanya begitu?"
"Pengen tau aja, aku pengen jadi dosen, lulusan luar negri, hmmm... paris." jawabnya sumringah
"Amiiin." kuperhatikan wajahnya, ada senyum kecil disana, lesung pipinya semakin dalam akibat senyum itu, pandangannya asyik ke arah jalan.

Kembali kuperhatikan foto dilayar komputerku,melihat-lihat foto lainnya dan berhenti pada sebuah foto yang menampilkan sebuah band dengan vokalis perempuan, acara promosi provider disekolah, satu hal yang kembali menyeruak dalam ingatanku adalah hujan. Yap, hari itu senin dan hujan. sang vokalis dan bandnya seolah tidak perduli dengan rintikan hujan dilapangan pagi menjelang siang itu, lagu yang dinyanyikan berjudul "I Will Fly" lagu romantis yang juga ada di Mp3 playerku. Aku meng-capture gambar hari itu dari kamera pocketku dibawah pohon rindang bersama kamu yang tepat berada disebelahku, menikmati setiap nada, merasakan setiap kata. lagu selanjutnya kembali dinyanyikan, "Love is You - Ten 2 Five".

Let me love you
With all my heart
You are the one for me
You are the light in my soul
Let me hold you
With my arms
I wanna feel love again
Cuz I know
Love is you...
Senin, sepulang sekolah. Aku sedang asyik nongkrong-nongkrong dikantin sambil menunggu rapat ekstrakuliluker yang kuikuti, rapat pemilihan ketua yang baru. Sebuah sms mendarat di ponsel ku, dari Windy, memintaku menemuinya di ruangan kelas. Aku ingat karena sebuah foto ditengah rapat yang diambil oleh adik kelasku jelas menampilkan mood ku sedang tidak baik saat itu. Ekspresiku ini memang tidak bisa dibohongi, ketika kesal, marah, senang, atau menyimpan sesuatu dikepalaku semua terlihat jelas tanpa perlu ditanyakan.

"Kamu tau kan?" tanya-nya dengan nada setengah tinggi
"Tau apa? Kamu ngomong apa sih? kok tiba-tiba marah begini"
"Aku tau kalo kamu tau semuanya kok Tam... Tentang hubungan aku"
"Sama dia? Iya aku tau, aku tau semuanya" kupotong kata-katanya, nada bicaraku ikut tinggi
"...." suasana dikelas hening dalam beberapa waktu, terlihat wajahnya yang menahan tangis
"Aku takut Tam, aku takut, aku semakin nyaman sama kamu" Bicaranya tertahan, mungkin oleh air mata.
"Aku sayang sama kamu Win, itu aja... aku gak perduli tentang dia"
"Tapi aku perduli..." Air matanya jatuh tak terbendung, hari itu hanya ruangan kelas yang menjadi saksi.
"....." aku tak bisa menjawab atau sekedar melanjutkan argumen dari kata-kata terakhirnya.
"Sekarang kamu mau kita kayak gimana?"
"Aku gak tau" jawabnya terisak
"Win... Udah nangisnya" kuseka air mata yang menetes dari sudut matanya dengan ibu jariku, entah kenapa, aku seolah tak sudi membiarkan pipinya dibasahi air mata, terlebih karena diriku.
"Aku mulai sekarang pergi dari hidup kamu, aku gak akan bersikap seperti kemarin, aku yang bodoh ngedeketin kamu yang sejak awal aku udah tau kamu punya cowok. Maafin aku ya Win, makasih buat lima bulan terakhir ini, kamu tetep spesial buat aku."
"....." Windy masih terdiam, kutinggalkan ia dalam keadaan seperti itu.

Sore hari-nya sebuah sms mendarat di handphone bututku,
"Tam...?"
Kuletakkan HP-ku dikantong celana tanpa keinginan membalas, yah... sejak awal aku tau dan mengerti kondisi ku, Windy sudah menjalin hubungan dengan pasangannya kurang lebih dua tahun, dan setahu ku satu tahun terakhir mereka menjalankan hubungan jarak jauh. Pacarnya yang lebih tua dua tahun harus kuliah di luar kota. Yah, memang aku si bodoh yang mencoba mendapatkan keuntungan dari kondisi ini. Hari itu aku memutuskan untuk menyerah, harus ada yang mengalah dalam hal ini, dan aku lah sang pendosa yang mencoba hadir dan berharap. Kuputuskan untuk pergi, meninggalkan cerita dan rasa yang bahkan sejak awal aku sudah mengetahui endingnya.

Jam hari itu sudah menunjukkan pukul 20.45 WITA, kuputuskan menyudahi berada di depan layar laptop yang sudah menyita waktu ku dari sore hari sepulang dari proyek dilapangan, senin selalu menjadi hari yang padat. Pantas saja, aku belum makan malam ternyata, keasyikan flashback dengan kenangan lama. Kuambil kunci mobil yang tergeletak di meja ruang tamu, begitu pun dengan Handphone ku yang sedang di charge, dua buah notifications dari Path, satu buah surat di mailing list, dan satu buah notification dari BBM.

Windy Senja Putri Invited You to chat over Blackberry Messenger.           

T:  "Hai, Win... Apa Kabar?"
W: "Baik Tam, Kamu?"
T:  "Aku baik, Stay dimana sekarang?"
W: "Aku di Jakarta kok, Kamu? Kayaknya sibuk banget ya bapak engineer ini, hahaha"
T:  "Gak ah, Aku kan cuma kuli, kamu tuh yang sibuk banget kayaknya sepulang dari paris, menyenangkan ngajar?"
W: "Bangeeet, I love doin' my dream job... kamu dimana sekarang?"
T:  "Aku di lepas pantai Kalimantan Timur"
W: "....."
T:  "Win."
W: "Ya."
T: "Sudah menikah?"
W: "Belum, belum ada yang cocok kayaknya..."

Perhatianku tertuju kepada secarik kertas diatas meja, sebuah tiket perjalanan yang baru sore tadi kudapatkan. "Hatta/Tama Wira/Mr. BPN - CGK".


Padang, Maret 2015

Kamis, 16 Januari 2014

Lelaki Yang Menangis




Raut wajahnya tenang, menunggu sepertinya sudah menjadi sahabat baginya, bisa ia bunuh bisa ia nikmati. Perlahan langit senja memalingkan wajahnya, mundur secara berkala, merahnya bagai tersipu malu dan berubah menjadi pekat. Lalu gerimis datang seolah berperan menjadi penghibur, bermain pantomim dihadapannya, membisu dalam ruang yang ia ciptakan sendiri. Wajahnya berubah sendu, mungkin bosan atau mungkin juga lelah, ia menengadahkan kepalanya seolah mencari jawaban diantara awan hitam, hanya kesunyian yang didapatnya.


Dalam diam air mata lelaki itu berjatuhan, tetes demi tetes tanpa pernah berani ia seka, diantara gerimis hujan, pekatnya malam, bintang yang enggan menyapa, dan angin yang menghangatkan. Bibirnya bergumam seolah ingin berbicara, hanya giginya yang bergemeretakan, matanya berkaca-kaca mengharu, hari itu... jam itu...  adalah sebuah perpisahan terakhirnya. Sudah hampir tujuh tahun, semua ingatan seakan bermain-main dipikirannya dan waktu ternyata tidak cukup tangguh menyembuhkan ingatannya. 

Kamis, 07 November 2013

Heyho!







Hari ini gue kejebak ujan disaat nemuin klien buat bikin buku tahunan disebuah kafe punya temen, klien gue ini anak SMA, masih kelas 3, udah bertahun" gue bikin buku taunan sekolah, Gazibu Yearbook namanya, bahkan anak" SMA yang dulu pernah gue bikinin buku tahunannya sekarang udah pada lulus kuliah, punya anak 2 dan hadiah menarik lainnya.

Skip obrolan klien ini, bukan itu sesuatu gak penting yang mau gue bahas, yang menarik dari hari ini adalah Gue kekurung ujan dilokasi yang sangat gak menarik, Pasar Baru, Padang. Tempat ini angker buat gue sekarang, kenapa mpu? YA KARENA ISINYA ANAK BARU SEMUA!!!. Gue kekurung ujan setelah ngobrol" unyu sama senior gue yang punya tempat, abis itu dia pergi, tinggalah diriku sendiri.(dipopulerkan oleh Alm. Nike Ardila). Gue sendirian ditempat ini, masih sepi, dan satu persatu orang dateng kesini, sampe tempat ini penuh, gue masih asyik ngedengerin lagu sambil ngetwit sampe akhirnya gue sadar kalo cuma gue yang duduk dibangku ini sendiri. FAK DEM SIT! (dan setelah gue peratiin,gue yakin gue angkatan paling tua dikafe ini)

Pasangan pertama adalah dua orang yang kayaknya lagi PDKT, cowoknya terlihat PD dengan kegagahannya, stelan kemeja lengan panjang item yang digulung dan celana krem yang ngepas, megang rokok sambil ngopi item. Si cowok kelihatannya anak teknik mesin yang mao begadang bikin tugas, atau dia cowok pengantuk yang sering tiba-tiba ketiduran atau juga dia cuma sok jantan di depan si cewek dengan mesen kopi item sambil klepas-klepus. Si cowok sibuk maen ramal-ramalan tangan sama si cewek, Cerdas! ~Eh, Kok lo tau dia lagi PDKT mpu?~ oh gue lupa bilang, gue kenal sama si kemeja item ini, dia junior gue ditongkrongan, tadi gue ngobrol-ngobrol dan sempet gue tanya. ~Yelah Broooo

Pasangan kedua adalah sepasang anak muda yang sepertinya ketika mereka masih SD gue udah jadi mahasiswa, iya... tampangnya bocah banget! dan si cowok pake baju kuning dengan gambar Spongebob... iya Spongebob yang ituuu! mereka terlihat sangat profesional dalam dunia perpacaran, menarik!. Setelah gue liat-liat gue mereka masuk dalam kategori orang-orang yang berpacaran dengan panggilan sayang mimi-pipi, atau umi-abi, atau malah Njing-Tot. Yasudahlah, biarkan saja mereka bahagia di alam sana. Peace, Love and Gaul (dipopulerkan oleh Dwi Andika dan satu lagi cewek yang gue lupa namanya dalam acara planet remaja)

Pasangan ketiga ada tepat disebelah gue, yep! gue bisa denger detail dr pembicaraan mereka tanpa harus berkepo-kepo ria, dimeja itu cuma ada satu orang cewek yang lagi sibuk dengan Smartphone-nya, terkadang dia ngunyah risoles mayonaise dimejanya, tampangnya terlihat harap-harap cemas, awalnya gue takut dia kebelet boker dan lagi nahan supaya gak kecepirit. Dugaan gue salah, beberapa menit kemudian muncul seorang cowok didepan mejanya, naro helm dibawah dan langsung bilang "Maaf, ya kamu nunggu lama", Si cewek terdiam, bahkan si cowok belom sempet naro tas atau malah nyeka mukanya yang basah gara-gara ujan"an,  mungkin kalo gue jadi si cewek gue juga bakal terdiam. Hal ini ngebawa gue ke beberapa waktu lalu, waktu gue masih punya gebetan, waktu gue ngerasain apa itu pacaran. Yah kira-kira setengah abad yang lalu lah.

Hari itu langit sore dirumah gue mendung, gue berangkat dari rumah pake mobil pinjeman dari nyokap, gue pergi buat ngejemput dia setelah gue dapet sms kalo dia kejebak ujan di tempat bimbel, gue mengiyakan karena jarang-jarang dia minta jemput, kita bimbel ditempat yang sama, tapi jadwalnya beda. Ternyata bener gak jauh dari tempat itu ujan lebat banget, dan wilayah itu terkenal ujan dikit banjir banyak. Gue sampe ditempat bimbel sore itu, tepat didepan pager ada sosok putih kecil yang setiap dia senyum gue aja gue ngerasa deg-degan, jarak dari tempat dia berdiri ke mobil lumayan buat bikin lepek kalo dihajar lari-larian. Gue ambil payung di dalem mobil dan langsung keluar menuju tempat dia berdiri, 'Maaf ya, kamu nunggu lama', entah kenapa cuma kalimat itu yang keluar, gue seret payungin dia sampe kedalem mobil. Di dalem mobil dia nanya, "kok kamu yang minta maaf, kan aku yang minta tolong?" gue diem gak nemuin jawaban... yang jelas hari itu gue gak pengen dia berlama-lama atau bahkan ujan-ujanan buat pulang, hari itu gue pengen dia tau kalo ada orang yang mungkin cemburu jika hujan terlebih dulu nyentuh tangannya, hari itu gue ngerasa belum puas buat ada dideketnya, hari itu gue merasa tempat yang sangat nyaman itu adalah mobil, saat dia ada disebelah gue. Yep! terkadang pria itu dengan mudah menjadi bodoh untuk wanitanya. Hujan hanya hal kecil yang terlibat diantara keduanya.




Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia

Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan
    

Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya
  

Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan
   

Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya
    

Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu

              Tulus ~ Sepatu

Senin, 28 Januari 2013

Untuk Ibu Guru Pelupa


Selamat Pagi Kakaaak...

Kata" yang selalu aku ucapkan ketika BBM ku berbunyi dipagi hari, tidak jarang BBM itu yang membangunku di pagi hari setelah kita terlibat percakapan cukup panjang dimalam sebelumnya, kamu si Ibu guru yang selalu aku kagumi sejak pertemuan pertama kita di Kota mu.

Senja dikota itu terasa sangat panas, aku benci panas, karena awan yang menutupi matahari terlihat lebih mendamaikan daripada terik yang melawan. Aku benci kotamu, hahaha (No Offense). Akan tetapi, senja di sore hari dikotamu terlihat lebih menyenangkan sesaat ketika kita bertemu, kamu seperti awan yang menantang matahari, terlebih ketika kita saling memperkenalkan diri. Ibu guru pelupa yang usianya lebih muda beberapa bulan dari ku, Ibu guru pelupa yang telah menjadi ibu guru yang dicintai banyak muridnya.

"Kamu penyiar ya?" kata ku ketika kita saling berbincang
"Bukaaan" Aaaargh suaranya terlalu lembut untuk berkata bukan.

Sekembalinya aku ke kota ku, aku rasa hubungan kita selesai, selesai begitu saja karena kita hanya sekedar berkenalan, mungkin hanya twitter yang menghubungkan, dan pada saat aku kembali ke kota mu untuk yang kedua kali pun aku tidak bertemu dirimu.

"Aku ingin bertemu lagi dan berbincang cukup lama..." batinku ketika berada dikotamu saat itu.

Hari itu ponselku berbunyi

"Mpuuu... Apa kabar? kapan nih main ke sini lagi"
Yep... sms dari Ibu guru pelupa, entah dari mana ia mendapatkan nomorku, yang jelas pada hari itu kita berbincang banyak hal sampai sama" mengundurkan diri untuk terlelap.

Satu DM twitter mendarat dikotaknya.
"Mpu minta Pin BB donk, aku newbie yang belum punya banyak temen di contact nih"
kukirimkan Pin ku, dan memulai chat dengannya.
"Apa kabar kakaaaak..." mungkin ini kata" pertama ku pada saat itu.
 Entah bagaimana dan kenapa, kita banyak bercerita, dari fikiran menuju jemari, dan disambungkan melalui sinyal" antar Blackberry Messenger, begitu seterusnya, menyenangkan.

Halo... Ibu guru pelupa, Apa kabar dirimu saat ini? Bagaimana murid"mu disana? masih semenarik saat kamu bercerita banyak denganku? Masih kah mereka mengirim gambar" lucu dengan tangan kecilnya? Aku merasa tersaingi, begitu banyak yang mengagumi kamu Ibu guru pelupa, boleh minta ramuannya? hmmm... biar kutebak, pasti suara kamu yang membuat mereka terpesona... atau bahkan Pria mu juga dulu jatuh cinta padamu karena mendengar suaramu?.

Hey, Ibu guru pelupa... suaramu ditelpon begitu menggoda, tapi kalau suara itu bercampur isak tangis aku hanya akan diam, diam karena aku tidak ingin hal tersebut terjadi, diam karena aku hanya mampu mendengarkan saja, aku tidak mampu berkata-kata untuk menegarkan, aku rasa hak ku saat itu hanya diam. Entah kenapa kamu mau bercerita banyak denganku, "Karena dari awal ketemu kamu, aku tau kamu itu baik mpu," jawaban itu yang aku dapat saat menanyakanmu hal itu.

Hey Ibu guru pelupa... kenapa kamu masih bisa sebegitu dewasa dengan apa yang terjadi? meskipun kadang" kamu bertindak bodoh tahap tapi bagiku kamu tetap saja dewasa, lagi" satu point tambahan yang aku dapat dari dirimu.

Hey Ibu guru pelupa... telingaku masih dalam mode stand by untuk medengar cerita"mu, apapun tentang dirimu dan pria mu, meskipun pria mu (yang juga aku kenal) sering berkata kasar dan berbuat bodoh tapi aku percaya kalau dia adalah guardian angel mu, terkadang memang laki-laki itu tidak pernah timbuh dewasa, mereka juga suka bermain barbie, tapi sadarilah bahwa itu tidak akan bertahan lama, sepak bola selalu lebih menarik bagi para pria daripada barbie.

Hey Ibu guru pelupa... Aku harap kamu tidak lupa dengan 'kita', sama seperti aku yang selalu menyimpan cerita tentang kamu dan membumbuinya dengan password agar cuma aku yang tahu isi cerita itu. Meskipun namamu Ibu guru pelupa tapi aku yakin terkadang kamu dapat mengingat cerita" kita.

Ibu guru pelupa, terima kasih ya telah datang ke kota ku di waktu libur kamu bersama dengan Pria mu, tapi satu hal yang masih belum sempat kita lakukan, 'foto bareng' hahaha... kamu yang minta kemaren itu yaaaa... lupa? tapi gapapalah, ntar kalo ketemu lagi bakal aku ingetin. Oh iya, maaf juga kalau aku tidak bersikap seperti biasa kalau kita bertemu, meskipun aku mengenal priamu tapi kamu selalu berkata kalau dia 'cemburuan', dan sialnya dia selalu ada kalo kita lagi ketemu, hahaha...

Ibu guru pelupa banyak yang bilang kalo aku suka sama kamu dan aku ngarep banget karena kamu udah punya cowok, hadeeeh... gak pernah aku tanggepin sih, mereka cuma blom tau aja seberapa deket kita... makanya aku diemin aja, ditwitter juga sering kayak gitu, alaaaah... rempong abis.

Ibu guru pelupa, kapan yah kita bisa menyingkirkan koneksi Blackberry messenger ini, mungkin segelas kopi bisa jadi perantara percakapan kita, bercerita banyak hal dan kamu didepan aku itu sepertinya menyenangkan, oh iya... tetep pake bahasa inggris ya? sembari ngajarin aku gituh.

Be tough ya Ibu guru pelupa, kamu itu luarbiasa, aku jarang mengagumi orang, dan kamu salah satu yang masuk dalam list lho... satu hal yang pasti Allah itu bakal selalu ada buat orang seperti kamu, yang pantang menyerah dan mengandalkan kaki kamu sendiri untuk tetap berdiri tegar. let's against the world. satu hal lagi, kamu punya hal" mengagumkan di sekitar kamu dan orang" luar biasa bakal selalu merangkul kamu disaat terjatuh dan bangkit lagi.

Mata aku udah 5watt kak, aku tidur duluan ya... GudNait Ibu guru pelupa.

~~Riczky Syaputra
#30HarimenulisSuratCinta
"Surat Untuk Ibu Guru Pelupa dikota sebelah"

Sabtu, 19 Januari 2013

SEMINGGU MENJADI GEEK!

Yup, entah apa yang lagi gue lakuin kali ini, but for sure... this week is my Geek's Week.

Geek disini adalah gue cuma berdiam diri dikamar (keluar buat beli makan doank dan kalo paket internet abis) karena sedang antusias dengan sesuatu. dikamar posisi terlama gue adalah berada didepan komputer, mata gue bergerak liar dengan apa yang gue liat disana. Gue ngerasa useless? Enggak, karena waktu berjalan begitu cepat karena gue terlalu seneng dengan apa yang gue hadapin.

Antusias kenapa? Banyak hal, beruntung internet udah hadir dikamar gue yang gedenya cuma 3x4 ini, gue semakin ngerasa tertantang dengan dunia yang dipenuhi orang" hebat ini, mungkin merenung dan berfikir jadi aktivitas favorit gue di Geek's Week kali ini, gue semakin ngerasa kecil (not as phisically) dan ngerasa bodoh. Kenapa? Karena setiap hal yang tersaji didunia ini diperuntukkan untuk orang" yang bekerja keras untuk menjadi hebat.

Hal ini diawali dari Gazibu Yearbook (bisnis gue) yang lagi nyari" sekolah buat dibikinin yearbooknya, mungkin dulu persaingannya belom banyak dan gue masih ngerasa safe dengan sekolah yang gue pegang, tapi sekarang? wooow... we've to do a competition. Semakin banyak saingan ini yang bikin gue semakin ngerasa kalo gue gak belajar lebih gue bakal diselip, berangkat dari situ gue memulai Geek's Week ini, gue balik ke kostan, dan mulai merenung. Gue ngabisin waktu sampai jam 3 pagi buat menemukan sesuatu yang gue sendiri gak tau itu apa, gue butuh pengembangan, gue belom puas dengan apa yang ada, tangan gue terus menerus nulis, entah apa tujuan dari coretan" yang gue bikin.

Geek's Week ini bikin gue jadi kelelawar, Tidur jam 6 pagi dan bangun jam 1an. Bangun" pun yang gue lakuin nyoret" kertas lagi dan browsing internet. Gue masih nyari apa yang harus gue lakuin, seberapa mampukah gue ngelawan apapun yang terjadi. beberapa website yang gue kunjungin pun seakan memaksa gue buat tampil lebih dan gak ngandelin coincidence yang terjadi, hal ini membuat gue terus mikir, sampe suatu saat gue ngeliat salah satu akun yang gue follow ditwitter yang lagi ngebahas WMM AWARD (Wirausaha Muda Mandiri), salah satu event yang diselenggarain dijakarta, tahun lalu gue dateng dan tercengang karena ide brilian dari orang" hebat yang tergabung disana, tahun ini gue pengen dateng tapi gak jadi, terlalu banyak yang harus dilakukan dipadang. WMM AWARD ini semakin bikin gue gila ketika temen gue yang juga entrepreneur dan udah punya toko sendiri dateng ke kostan gue dan mamerin gelang WMM AWARD yang didapet karena dia ikut meskipun gak lolos, gue? cuma sempet donlot form di internet dan terdiam karena gak tau mau ngisi apa.

Sabtu siang, gue ngeliat coretan kertas yang terlalu banyak dan terkumpul tidak rapi tergeletak ditempat tidur, dan lagi" hal yang gue lakuin adalah browsing internet dan gue menemukan video finalis WMM AWARD di YouTube, Pemenangnya berasal dari Creative IT Industri dan berumur 22 Tahun, Omzet pertahun 2 Miliar, gue tercengang hebat, gue terdiam. Gue putusin buat mengambil coretan" yang berantakan dikasur gue tadi, semua gue rapiin dan gue rangkum didalem sebuah buku, coretan asal"an tadi menjelma menjadi planning, solution, do and don't, dan rangkaian mimpi" yang akan terealisasi hanya dengan keringat dan perjuangan orang hebat. Geek's Week selesai, sudah saatnya gue buat ngadepin dunia yang dipenuhi orang" hebat ini. Mereka bisa, lalu kenapa kita tidak memulainya agar BISA! Let's against the world as we could, until death do us part!







Senin, 03 Desember 2012

#TerimaKasihSederhana

Hey, Birthday Boy!




I'm 23rd now... sebuah usia yang dulu gue rasa, 'NJRIT, TUA BANGET...'
but i'm 23rd now, dan gue berani buat bilang 'Im Mature Enough Now', banyak pelajaran luarbiasa yang bisa gue dapet dalem hidup selama 23tahun ini, Riczky Syaputra yang dulu cuma anak manja, Riczky Syaputra yang pernah kabur dari rumah, yang pernah ngambek gara" duit jajan kurang, dan sering ngelawan dan ngebantah setiap perkataan alm. mama n papa, People Change! dan Here i am.

2 Desember 2012
Gue kebangun jam 11 pagi setelah begadang sampe subuh, itupun kebangun gara" ada janji buat bikin Buku Tahunan Sekolah dan dengan tololnya BB gue berserakan, batre dimana, tutupnya dimana, henponnya dimana, Buat hal ini gue akuin gue masih tolol, butuh istri sepertinya, hahaha... Gue idupin dan ngeliat banyak BBM masuk, semuanya ngasih ucapan luarbiasa, sama halnya ditwitter, sejak jam 12 mulai banyak  mention masuk, dan berlaku sepanjang hari itu, satu invitation request di BB, seorang teman lama yang tahun lalu begitu spesial, yah Kamu... 2nd december 2011 just gonna be last year... yeah i still cherished all the things happened. Hari ini mungkin agak berbeda karena gak ada kamu sang konseptor ulung ditahun lalu, gue rasa hari-hari gue diumur 23 bakal biasa banget, standar lah... and you know what i did? gue tidur dikostan sampe sore setelah ketemu Anak" SMANTEN yang ngajak gue jadi MC dan sekaligus nawarin Buku Tahunan, yah... wasteing time and replying mention on twitter.

Malem gue ada rapat @StandUpIndo_Pdg di Kopmil, kita mau ngebahas beberapa hal, salah satunya performer buat beberapa gigs kedepan dan juga mau ngebahas pembagian keuntungan acara #AbsurdTourPDG yang cetar membahana kalo kata abege" labil jaman sekarang, dan Voilaaaa... satu surprise dari anak" @StandUpIndo_PDG dan gue yakin konseptor acara ini ada 3 orang, Praz, Gita, dan Ayi... satu kotak penuh cup cake kita makan bareng", dan ditengah kue itu ada BIR BINTANG, iyah... ini ketololan @Praz_Teguh pasti.




We're Just Comedian... We're not trying to be funny... We prepare things to make a lot of laugh...
makasi banyak buat semuanya dimalem itu, @Praz_Teguh @ayiqorry @ghitanh @Famhei @Serlypioz @Zetri12 @BillyCapri @FarandyRyan @dickazz @FadhlyAPK
YOU RAWK GUYS!!! dan satu lagi WE'RE FAMILY DUDE!!! buat yang pada saat itu gak dateng dan tetep ngasih selamat, a lot of thanks for you all guys... terima kasih. Abis itu kita ngopmil bareng" sampe sekitaran jam 10. ternyata benar, sebuah moment luarbiasa pertama terlewati dengan senyuman yang tertempel erat di otak gue, ternyata benar tidak perlu sang konseptor ulung untuk membuat hari ini menjadi lebih ceria.

*nb: Agak mulai 'ngeh' pas si Praz yang ngebatalin gue jemput ghita, ternyata ini maksud semuanya, hahaha... Oiya pas didalem mobil, Praz, Ayi, Ghita prepare kue udah keliatan gara" lampu mobil didalem yang idup, BHAAAK!!!*


Selepas dari kopmil, gue nyampe dikost tanpa mikir apa" lagi, gue udah cukup bersyukur karena hari ini masih ada sahabat" gue buat ngerayain bareng, gue masuk kamar, ganti baju dan kedengeran suara @fandibone dari luar "Mpu... Mpu... Lo ngambil jarkomdat gak? besok kuliah pagi looo..." dan gue buka kamar dengan males, nothing interest to have a conversation about subject when nite force me to take a rest, hahaha... dan pas gue buka pintu... VOILAAAA!!!






Ternyata mereka udah prepare di hari itu, satu buah kue tersaji manis didepan kamar gue, dan disana ada @BangSH4D @fandibone dan lagi" @fadhlyAPK hahaha... what a nite! 2 surprises came to me, meskipun cuma ber4 tapi satu hal yang pasti, GUE GAK SENDIRI! dan malam itu gue tidur nyenyak dengan senyuman luarbiasa dihati gue. Thanks Guys! Kita calon orang" sukses dimasa kita nanti, karena kita Insinyur Ceria. Lagi" tidak memerlukan konseptor ulung untuk menemukan sebuah rasa terima kasih yang tersimpan tulus.














3 Desember 2012
You see those pictures, They're my angels.... No Doubt!
@nisaabcdelf @karinrissa @iNiirini  How cute they are *cubit cubit*... Meskipun udah ditanggal 3 tapi gue masih bisa ngerasain kebahagian yang kata orang semu, karena hidup menuntut keseimbangan, dan lawan bahagia adalah kesedihan. WHATEVER! Hari ini gue ada janji sama nisa buat jalan, gue pun kebangun dari tidur siang yang menyenangkan gara" BBM dari mahluk keparat ini, hahaha *mungkin gue bakal dijambak kalo dia baca ini* kita janjian jam 4, molor jadi jam 5. gue sampe di Rumah Kopi Nunos dan Nisa udah ada didalem, mungkin gue ditakdirkan untuk cukup peka dengan lingkungan, beberapa hal gue tangkep pada saat itu, kue yang dibeli di 'Dallas' (gue sering beli kue sama Nisa disini), Obrolan Kak Vina (orang Rumah Kopi Nunos) tentang Ulang Tahun dan Nisa yang sibuk BBMan entah ama siapa, yapi itu baru tebak"an sotoy gue aja sik.

Baru sekitar 10 menitan gue diRumah Kopi Nunos, buka leptop pun baru beberapa menit, pesenan belom dateng, dan ngobrol" ama Nisa juga baru beberapa paragraf (Yup, dia sibuk BBMan). Tiba" nongol sesosok mahluk putih, kuyus, lucuuu dari pintu di Lantai 2 Nunos, yep... namanya cencen aka curin aka Rini Febriyanti, beliau yang gue rasa baru pertama kali napakin kaki di Nunos masuk sambil ngebawa Helm, iya Helm! Warna ijo lagi! muncul dengan wajah polos dan ngomong tiga kata "Ngapain lo disini...?" dan gue ngakak paraaaaah! Buahahahaha Curiiiiin! You screw the surprise! *masih ngakak pas nulis ini* karena jujur gue masih gak tau kalo kalian bakal ngelakuin ini semua sampe didetik sebelum si cencen masuk. Dan datanglah seorang bebeeeeeb Karina Dian Erica yang baru pulang dari Bukittinggi dan langsung menuju Ruko Nunos (Aaaaak... pasti capek ya beb, cinih cinih akooh pijitin *kemudian digaplok*) + Annisa Ismed (yg abis pura" ke WC padahal nyiapin semuanya dibawah tuuuh :D) dengan sebuah kue dan lilin yang rempong abis! We do what people do... Tiup lilin dan lanjutin ngakak gara" si cencen.

That moment... One thing that i felt, All of you completed my world, it was like that i never wanted that moment finished... again and again, the time wrapped fastly, we have to ended the moment, with you all dear... world stop cycling even just a sec, with you all dear... ordinary things become extra oradinary. Lalu? kenapa gue mesti kesepian dengan menyandang status sebagai jomblo single, toh gue punya mereka yang selalu ada dimoment" terbaik dan terpait di hidup gue, mereka yang selalu ngasih spirit luarbiasa disaat gue jatuh, mereka yang menambah kebahagiaan gue disaat gue ngerasa cukup, yep! satu hal yang pasti GUE SAYANG KALIAN, seandainya kalian bertiga mau jadi bini gue, gue rela deh, yang penting rukun. BHAAAK!!! Lagi-lagi ratusan kebahagian meretas tanpa adanya konseptor ulung, bukankah intinya satu hal bernama 'ketulusan', dan hari itu semuanya melebur luarbiasa.


Yes, I'm 23rd Now... with Super Fellow around me...

Mungkin gue terlalu bosan untuk menangis, mungkin gue terlalu angkuh untuk menunjukkan rasa terima kasih yang membuncah hebat, tapi satu hal yang gue pengen lo semua tau, Terima Kasih sudah menempatkan gue diposisi hebat ini. Ketika gue ngerasa sendiri, gue bisa baca blog ini sambil tersenyum lagi, yep! Karena Gue Gak Sendiri... Gue punya orang" spesial disekeliling gue. #TerimaKasihLuarbiasa karena gue diberi kesempatan untuk mengenal kalian. kalian luar biasa *ariel noah style*


With a huge Respect
Riczky Syaputra

Senin, 26 November 2012

Melankolia



"Bagaimana kalau gaya gravitasi itu hilang? Apa aku menjadi bisa mencintai kata cinta?"

Mereka menyebut itu cinta, bagiku hanya sapaan sarkastik.
Bagaimana mungkin ketika sebuah perasaan bisa tersenyum dan berkata riang lalu ditepian pohon mahony berdiri lunglai seseorang yang benar" mencintai.
Kunyalakan sebatang rokokku, asapnya menghitam, semakin lama semakin pekat. Angin sore tak lagi menyejukkan, daun" yang berguguran pun tak lagi bernuansa romantis, semua hanya aksesoris diantara senja yang tak lagi meneriakkan kenyamanan.

"Sudah berapa lama disini?" Sapaan itu mengejutkanku
"Sudah hampir satu jam" Jawabku malas.
Seorang gadis yang sudah hampir tiga tahun aku kenal, meletakan tasnya dan duduk dihadapanku, ia melihat kearah asbak, tersenyum miris, empat batang puntung rokok tergeletak tidak berguna.
"Masih berteman dengan ini?" tanyanya sambil mengangkat sebungkus rokok yang tersisa setengahnya tepat diantara mataku dan matanya
"Ya, mungkin ini adalah teman terbaikku saat ini" kuambil barang tersebut dari tangannya, mengeluarkan sebatang lalu menyalakan mancis dan meletakkan kembali disebelah bungkus rokok. kuisap panjang dan menghembuskan perlahan.
"Bodoh..." Gumammu pelan.
"Coba kamu lihat mereka" kukeluarkan satu batang lagi dari bungkus rokok tadi, kuletakkan tepat disebelah mancis.
"Mereka berteman akrab, mereka saling melengkapi, mereka ada karena satu sama lain, mereka adalah sebab dan akibat, aku lebih memilih untuk tidak memiliki keduanya daripada hanya dapat menyimpan satu diantaranya" Aku melanjutkan.
"Kamu terlalu mudah dalam menyimpulkan" ia mematahkan teori sekaligus rokokku bersamaan.
"Itu karena aku selalu yakin dalam memilih"
"Aku rasa kamu akan selalu menjadi pemimpin yang bijak, paling tidak untuk diri kamu sendiri"
"Tidak, aku masih belum bisa menjinakkan hatiku"
Detik berdetak tiga kali, lalu suaramu memecah bisu sekelebat.
"Oh iya, aku lupa bertanya, Apa kabar?" Sebuah nada yang indah, aku tau maksudmu bukan mengalihkan alur pembicaraan, hanya tidak pernah ingin mengubah kebiasaan lama.
"Masih sama, masih menunggu pagi..."
________________________________________________________________________________

Lagi-lagi mereka menyebut itu cinta, aku menyebutnya ambisi semu.
Berlari dan terengah-engah, mencari lalu kehilangan, berbicara tentang kebahagiaan, menjaga selama-lamanya. lalu apa lagi?
Sabtu malam, lagi-lagi lagu cinta, film drama percintaan, kata-kata mutiara bertaburkan pujian, kenapa tidak kepedihan saja yang mereka tawarkan, bukankah dunia ini menuntut keseimbangan?

"Mana mimpi kamu dihari kemarin?"
"Mati ditelan gelombang ombak" Kujawab pasrah
"Aku ingin kita berteman selama-lamanya"
"Itu hanya janji bodoh jika aku mengucapkan hal serupa"
"Memangnya kamu tidak ingin menjalin hari-hari seperti ini selamanya" kamu meyakinkan
"Tidak, kalau hari ini aku bertemu kamu dan besok aku bertemu dengan seorang wanita berparas cantik dan berpakaian indah aku akan mengejarnya dan lebih memilih menyayanginya sampai ia berucap seperti dirimu hari ini"
"Lalu kenapa kamu tidak lelah untuk menunggu harapan yang semu ini yang tidak pernah ditawarkan untukmu, aku tidak ingin melihat kamu seperti ini"
"Jika kita harus berpisah dan tidak bertemu lagi aku rela, aku hanya sedang menebak-nebak hari itu, batinku siap" Aku menutup percakapan setelah melihat butiran air mata disudut matamu.
Engkau menangis, menangis sepi, menangis hampa, sekitar 5menit, aku mengusap air mata dipipimu satu kali, lalu membiarkan air mata selanjutnya.
"Kamu berpura-pura sedih"
"Tidak, aku berpura-pura bahagia" Aku menjawab lirih
"Aku ingin kita dekat lalu kamu menolak"
"Suatu saat aku akan memohon agar kita jauh"
Gadis itu berlalu, matanya sembab, pipinya memerah, perlahan ia menghilang dari kejauhan, hatinya berbisik dari kejauhan "Aku tidak akan memutuskan sebuah hubungan terlalu cepat karena aku tidak ingin kehilangan terlalu cepat, kamu akan mengetahuinya suatu saat nanti, aku yang selalu mencoba tegar dan mendoakanmu, aku menangis bukan karena lemah, aku tersenyum bukan karena bahagia, satu hal yang pasti... kamu selalu menjadi tempat terindahku dalam berbagi, kamu dan dunia kamu, menarik".

Kita lebih dari teman meskipun hanya sesekali bersama, kita bukan pribadi-pribadi yang sedang menjalin hubungan penuh kata cinta meskipun kita saling menjaga, kita bukan musuh yang saling mencaci dengan sumpah serapah saat membenci meskipun terkadang tusukan menghujam perih, kita ada hanya karena kebetulan" kecil yang tak pernah dipersiapkan...


P.S.: Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan siapa. mengapa dan bagaimana...

Selasa, 10 Juli 2012

Satu benda saja... Radio

"lagu ini untukmu... hanya untuk dirimu... pahamilah maksudku... ku masih inginkanmu"
~Drew, Radio


Sudah berapa lama sejak hari itu? Hampir setahun, bahkan aku sudah lupa kapan tepatnya, hari dimana aku memutuskan untuk tidak lagi menyandang status sebagai penyiar diradio kecil yang terletak dikampus itu, yah... radio kecil, tapi tidak pernah terlalu kecil untuk membatasi kreativitas tiap manusia yang berada didalamnya, tidak terlalu kecil untuk menyalurkan ekspresi yang membuncah dari setiap penyiarnya, tidak terlalu kecil untuk menjadikan seseorang yang dulunya hanya mencari jati diri menemukan karakter kuat pada dirinya.

Musik sendu yang bermain ditiap malamnya pun sudah tidak ada, bisa dipastikan penyiar galau itu sudah tidak lagi mempersiapkan jari"nya diatas mixer menunggu waktu yang tepat untuk call sign, tema" yang selalu menjadi andalannya agar siaran tidak 'itu-itu melulu' pun sudah tidak lagi tersaji manis diudara, gelak tawa yang mungkin menjadi sebuah kewajiban untuknya sudah asing terdengar. Aku tidak berhenti dari dunia ini, aku hanya menutup mulut sebentar untuk menjadi lebih besar, aku tetap belajar dengan mendengar, aku masih mencintai tiap feeder di atas mixer, tiap list lagu yang harus terus berputar, tiap sapaan kepada pendengar yang entah sedang apa saat aku berbicara, aku mencintai setiap hal kecil yang berada didalam ruang siaran.

Bocah itu masih mendengarkan radio dipaginya, sebuah radio yang entah apa merknya, pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, pagi hari diantara memakai baju seragam putih-birunya, pagi hari saat menunggu giliran mandi. Pagi hari adalah waktu yang luarbiasa untuknya karena disana ia lagi" menemukan teman yang akan menemani sebelum bercengkrama dengan teman" sebenarnya, dengan lagu" hits yang selalu diputar oleh sang kawan yang hanya suara saja yang ia kenali, pagi menjadi sangat luarbiasa sepertinya.
Selama SMA ia tetap berteman dengar suara" yang berada dispeaker radio tersebut, bahkan ketika ibunya bertanya mau jadi apa? ia menjawab bahagia "Jadi penyiar mah,". Kuliah ia mencoba merealisasikan cita-citanya, voilaaa... ia diterima disebuah radio eks radio kampus didaerah dan selama empat tahun ia bekerja disana dengan gaji 'kalo ada ambil, kalo gak yah, gimana lagi', bukan hanya jadi penyiar ia juga mengetahui lebih banyak tentang dunia radio disini, ups, tidak... mungkin masih sangat sedikit, sekali lagi tadi radio yang ditempatinya hanya radio kecil.

Empat tahun... Yah empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempelajari banyak hal, empat tahun juga yang mengantarkan aku menuju pintu gerbang radio-radio yang lebih hebat, teringat suatu hari dimana aku menjadi seorang penyiar tamu disalah satu radio yang ratingnya paling tinggi dikota ini dan ditawari untuk menjadi salah satu bagian dari radio tersebut dan aku tolak, lalu datang lagi tawaran dari salah satu radio populer anak muda dan sekali lagi aku tolak. Sombong? Pilih-pilih? Bukan, hanya sebuah kebodohan yang mebuat aku menolak tiap tawaran tersebut hanya karena sebatas angka" dalam nominal rupiah atau pilih" radio dengan label 'terbaik' dikota ini. Aku hanya manusia yang selalu ingin berkreasi, berteriak lantang tentang kebebasan, membuka pintu selebar"nya untuk passion yang tak terbendung, aku ingin mandiri dengan caraku sendiri, aku ingin berlari dan melawati kerikil" tajam, aku ingin menjadi diriku yang mendobrak dunia tanpa harus menjadi budak dari keperkasaan sang waktu.


Aku masih ingin tertawa lepas diruang siaran, aku masih ingin merasakan dinginnya ruangan itu, aku masih ingin memutarkan lagu" sendu peneman malam, aku masih ingin bercerita banyak hal disetiap siaran, menyuguhkan tema" aneh lagi, lagi, dan lagi, aku masih ingin meneriakan call sign diakhir outro lagu, aku masih ingin mengangkat telpon pendengar dan mendengarkan cerita mereka... aku ingin... Someday, sama seperti hal-hal lainnya yang masih menjadi rahasia, aku akan meraih kembali mimpiku ini, berdiri menatap kedepan, mempersiapkan amunisi, mengasah kata demi kata dan kembali ke medan 'perang'. Aku percaya, di tempat yang lebih hebat, dengan tantangan yang luarbiasa, kembali menjadi pribadi bodoh yang terus belajar atau bahkan berlari sampai terengah-engah untuk meraihnya, demi menjadi pemenang dan menggengam setiap kata bernama impian yang tertempel erat dilangit-langit imajinasiku.


~Riczky Syaputra, Announcer & Off Air Manager of Jingga Radio, Padang.

Minggu, 08 Juli 2012

Wajah" penuh syukur

Pagi itu terlalu pagi untukku, Hari minggu 17 juni 2012, seperti biasa aku masih terbangun dengan suara Adzan subuh dimushola yang terletak didalam komplek Mess Perwira Bahtera Suaka, sebuah tiket disaku jaketku menunjukkan keberangkatan pukul 10.00 dengan sebuah maskapai yang menamai dirinya sebuah kerajaan besar disumatera. Barang"ku sudah menumpuk di ruang tamu, menunggu diangkat dan berpindah tempat. Aku sudah memutuskan untuk berangkat menggunakan sebuah taksi ke bandara, kali ini berbeda, barang yang terlalu banyak menjadi masalah perjalanan kali ini, tidak mungkin aku menaiki DAMRI ke bandara, aku tidak mampu membawa satu buah koper, satu backpack berisi baju, satu buah printer besar, dua jinjing kantong plastik besar, dan satu buah tas kamera yang tidak mungkin aku lepaskan.

Taxi Bluebird berhasil aku stop didepan rumah, aku berpamitan dengan abangku, sengaja ku pilih burung biru ini, meskipun tidak sesuai dengan kantong mahasiswa tapi ia tidak meminta uang untuk balik tol dari bandara, berbeda dengan taksi lain yang bahkan hanya mau ditumpangi dengan harga tembak. Aku menyandarkan diri dibangku depan, sengaja kupilih didepan karena aku tau aku tidak lebih hebat dari supir taksi ini dan udara jakarta yang menyengat membuatku ingin berada dekat dari AC taksi ini. "Selamat pagi Mas, mau kemana?" sebuah kata sapaan dengan logat daerah jawa barat yang kental, aku mengangguk sambil memberi tahu arah tujuan, kemudian aku memilih menikmati jalan ibu kota, kembali ia mengajakku berbicara, "Mau terbang kemana Mas?" aku kira ini hanya sebuah formalitas awal sang supir, "Padang" jawabku sekenanya, aku lebih memilih untuk bersandar dan menikmati pemandangan keluar, aku masih belum tau kapan bisa menghirup udara jakarta lagi, mungkin nanti setelah aku lulus dan meraih gelar ST. "Di Jakarta ada job ya mas?" suara itu menyentak lamunanku, tiba" mata ku melirik supir taksi tersebut, ia tersenyum puas dengan pernyataan yang seolah terbenarkan oleh reaksiku yang terkejut.

Gaya ku sangat berantakan, kemeja flanel yg tidak dikancingkan, kaus belel yg kerahnya entah kemana, sepatu butut yg putihnya nyaris menjadi hitam, hanya jeansku yang terlihat layak, belum lama ini ku beli mengganti jeans yang sudah sangat parah bentuknya, tapi sopir ini terlihat sangat menghormati diriku, terlihat dari bagaimana ia bersikap. "Pesawatnya jam berapa mas?" tanyanya, "Jam 10.00 Pak" aku lebih memilih memanggilnya pak dibanding 'Mas' atau 'Bang' meskipun kisaran umurnya masih sekitar 35-40 tahun, kulihat identitas taksinya, tertulis nama Hariyanto disana, "Sudah lama bekerja di BlueBird Pak?", entah apa yang ada dipikiranku saat itu, yang jelas aku tertarik untuk berbicara dengan Pak Hariyanto, sebuah jawaban yang tak kusangka terlontar, jawaban panjang  dari pertanyaan tersebut, berbagai topik kami diskusikan, tentang BlueBird dan Gaji yang didapat, tentang supir tembak yang semakin merajalela, tentang persaingan sesama supir Bluebird, tentang sekolah dan kuliah. Singkat cerita Pak Hariyanto adalah seorang suami, ayah 2 orang anak yang sudah 13 tahun menjadi pengendara taksi di Jakarta, tempat yang ia pilih untuk merubah nasibnya, sama seperti jutaan warga lain yang menetap di Ibukota ini, satu kalimat luarbiasa yang saya dengarkan dari 45 menit pembicaraan kita adalah "Saya takut mas kalo mainin rezeki, harusnya saya dapet rezeki sehari seratus dua puluh lima ribu, trus saya curangin nembak penumpang dan dapet dua ratus ribu, itu malah jadinya bukan rezeki di saya ntar, belum lagi kalo ketauan atasan, anak saya dua mas, kalo saya dipecat mau gimana, toh sekarang aja saya udah ngerasa bersyukur koq" Jawab Pak Hariyanto, klise memang tapi inilah yang aku dapatkan dari Pak Hariyanto, Argo taksiku menunjukan angka Rp.96.000,- kuserahkan uang Rp 100.000,- lalu diam, supir lain biasanya berlalu saja daripada mengembalikan Rp.4000,- perak, tapi Pak hariyanto berbeda, ia menurunkan barangku yang banyak, lalu merogoh kantongnya dan memberikan kembalian 4.000 rupiah tersebut sambil berterima kasih dan mengucapkan selamat jalan, aku masih terdiam, entah apa yang ada dipikiranku saat itu, mungkin kagum.
#bahagiaitusederhana


Rabu, 11 April 2012

Dunia Mimpi

"Hari ini bahagia. Setengah perasaan cintaku padamu sepertinya memudar :)" - @falafu

Memudar, seperti senja yang tak lagi mau menyapa...
Memudar, seperti matahari pagi yang tak lagi membangunkan...
Memudar, seperti tetesan hujan yang enggan menghujam bumi...
Memudar, seperti Seorang Ratu yang meletakkan mahkotanya lalu pergi...

Ya sudah, toh semuanya memang pasti akan terjadi, yang aku ingat dulu aku begitu ganasnya dalam memaki diri sendiri, begitu brutalnya dalam menyalahkan hati, tapi sekarang tidak.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, mungkin dihari kemarin aku masih hidup diantara mimpi-mimpi kosong, lalu hari itu aku terbangun dan banyak hal yang ternyata menungguku. Aku memiliki sahabat-sahabat luarbiasa yang setia untuk berlari bersama dan menggapai cita, mereka tidak akan menungguku untuk hal-hal remeh, Aku memilih untuk terus berlari. Aku memiliki banyak pekerjaan yang membutuhkan tangan dan otakku ini agar segera terselesaikan, mereka hanya akan luntur dan tak lagi ada jika aku memilih untuk berdiam diri. Aku memiliki sebuah prioritas bernama 'Kuliah', sejak dulu aku bukan orang bodoh dan sebuah tambahan nama bertitelkan S.T. harus segera kusandang. Mereka lah yang membangunkanku dari mimpi tentang dirimu dan semua hal tentang kamu.

Bye, Merry Strawberry...


Rabu, 14 Desember 2011

5 Tahun

5 Tahun,, dan aku kembali menemukan ‘Persahabatan’ itu.
~2 Desember 2006, Mungkin disaat hari pertama gue berumur 17 adalah hari yang ‘special’ mengingat gue punya Angkatan yang saat itu memberikan kado yang mungkin biasa aja buat orang lain, tapi buat gue, itu semua special. Entah getaran apa yang tercipta pada saat itu, mungkin karena gue dikelilingin oleh orang yang gue sayang dan begitu juga sebaliknya, mereka adalah sahabat gue, lebih, saudara mungkin. 3Tahun kita dijadikan satu oleh organisasi bernama PASKIBRA, semuanya bareng-bareng, canda, tawa, dan airmata,  kita semua menjadi SATU dalam wadah bernama 19.

Gue kuliah, jauh banget... Gue jauh, mereka pun jauh, kita Cuma ketemu beberapa kali ketika ada liburan dan gue ke jakarta, kita gak lagi sama” merayakan ulangtahun dengan kejutan-kejutan seperti dulu, yah... keadaan memang menuntut seperti itu, kita harus disibukkan dengan Aktivitas ‘mengejar masa depan’ masing-masing.

~2 desember 2011,  5 Tahun kemudian aku menemukan kembali, sebuah rasa yang membuat semuanya bergetar hebat, wajah-wajah yang cukup lama aku kenali, sosok-sosok yang selalu ada dibelakang dengan kata-kata motivasi, mereka bukan 19, wajahnya berbeda... “Insinyur Ceria”, Entah apa yang terjadi, tapi merekalah sosok-sosok luarbiasa itu. Kumpulan Engineer yang tidak rajin (This is the Fact –red hohoho), kita disatukan oleh keadaan, keadaan kerasnya jurusan kami, memutar otak untuk mengalahkan sistem, menjadi kompak dengan semua keterbatasan, Yah... Inilah Insinyur ceria, sosok-sosok penuh senyuman yang hari-harinya tidak seperti engineer biasa, karena kita adalah Engineer Luarbiasa! Mereka yang selalu ada ketika aku kehilangan kedua orangtuaku, mereka yang datang ke rumah (solok) dan terlibat dalam acara prosesi pemakaman, menguatkan diriku, dan semua kebersamaan bersama mereka, Ini semua luarbiasa!!!

Umur gue udah 22 ternyata, dan seperti biasa, begadang ampe tengah malem ama crew Insinyur Ceria, agak aneh sih kelakuan mereka hari ini, gak ada yang ngasih selamet, dikerjain juga gak ada, padahal biasanya paling hobi tuh nyiramin yang lagi ulang tahun. okeeeh, gw terima... paginya tetep seperti biasa, kuliah dan presentasi... Oh iyah, dihari ini salah satu anggota Insinyur Ceria, Joni Pranata, Meninggalkan Padang dan Berangkat ke Bandung, kita gak bisa nganter dia karena ada presentasi, dan Jum’atan,  Maaf Jon, Sukses di rantau Jon, PASTI BISA!! Back to the main topic, gw pulang ke kost dan ngeliat Iman Rahman Duya sedang bersedih hati, “Mpu, tadi pintu lupo dikunci mpu, Hape Gaston jo modem iman ilang” hmmmm... gw mulai mikir yang aneh, gw check pintu kamar gw, ternyata gak dikunci, come on... gw kan selalu ngunci kamar kapan pun, bahkan Cuma buat ke warung depan, dan VOILAAA!!! Kamera gw ilang, kamar gue lebih berantakan dari sebelumnya (pas kan kata”nya), Panik kah saya? | Tentu tidak, gw liat kearah sepatu (tempat gue naro kunci cadangan) yep, posisinya bergeser, lagian gak ada tanda”nya kamar dibuka paksa, dan kenapa kamera yang diambil? Bukannya kamera didalem tas dan sama sekali gak keliatan kayak kamera? Hah? Hah? Dan lagi akting Gaston yang kehilangan Hape gak seperti Gaston yang biasanya, cuman panik” gak jelas, dan Iman yang kehilangan modem tampangnya kayak orang yang kehilangan duit 2 Milyar, GALAUUU... Hahaha,, Wahai Sahabat-sahabat Insinyur Ceria sekalian, sudah berapa lama kita berteman? Satu bulan? Dua bulan? 4 Tahun braders *ngacungin angka 4*, keliatan kali kalo ada yang aneh n ngeganjel. hahaha... Intinya gue dikerjain bareng sama adek” gue @iNiirini, @karinrissa, @nisaabcdelf dan @cyabil.

Sudah 4 Tahun lebih bersama calon sarjana ini, melintasi alam, bercengkrama dengan malam, menghabiskan waktu dengan penatnya tugas, bahu membahu untuk nilai terbaik,  bermain dengan detik demi detik, ketika satu tidak ada maka ada yang lainnya membantu dibelakang, kami akan selalu mengingat, kami akan selalu membantu, uluran tangan antar kita. Mungkin kalo kita gak pernah sekost bareng kayak gini semuanya gak akan terjadi. Thank God We’re Together...

~Fandi Achmad
~Iman Rahman Duya
                Udah sampe ujan”an beli kado... -.-“ makasi... makasi...
~Ashadi Prima
                Ndak nyangko kalo shadi  sato lo, You act without traced...     
~Ahmad Anshari
                “aduh, hape aku ilang lagi” buahahaha,,
~Erlangga Prima & Annisa Putriana
                Kalo lah baralek jan kawin carai bantuak kini ndak? hohoho



NB: Man, man... akting man tu haaaa... *inyaaa* colekpinggang iman *aiiik*