Tampilkan postingan dengan label kangen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kangen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juli 2015


Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Entah kenapa aku ingin menulis tentang mu hari ini (lagi). Tentang kamu yang hilang tapi masih dalam jangkauan. Tentang kamu yang entah kapan mendeklarasikan selesainya percakapan kita. Tentang kamu yang membangun tinggi-tinggi sebuah perbatasan agar aku tak dapat memanjatnya, padahal cukup kamu bilang 'Stop' saja aku tidak akan berani masuk selangkah pun, ya aku sebegitu penurutnya.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Aku belum bodoh, terlebih gila... Setiap neuron di pikiranku masih berfungsi selayaknya, seperti hal-nya percakapan-percakapan santai kita di awal pertemuan, seperti cerita-cerita yang selalu kamu bagi setiap malamnya, seperti aksara yang terkirim melalui smartphone kita, semua nya normal dan terjadi begitu saja. Ya, sebelum lahirnya ekspektasi atau gurauan orang di sekeliling kita, mungkin awalnya semua adalah rahasia.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Sungguh satu persoalan pun tak aku mengerti tentang cerita ini, kamu yang datang, kamu yang tertawa, kamu yang menangis, kamu yang bercerita lalu kamu yang pergi, seperti lucid dream yang tiba-tiba terbangunkan, awalnya semua seolah nyata, seolah wajah yang ku tatap dekat itu benar milik mu, seolah suara yang kudengar itu tepat suara mu, lalu aku tersentak dan semuanya bohong. Tidak ada lagi suara yang menceritakan entah tangis entah tawa, tidak ada lagi referensi tentang musik yang secara kebetulan selera kita sama dan sama seperti mimpi, semuanya tanpa penjelasan.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Secangkir ekspresso panas tanpa gula, uuuh... membayangkannya saja sudah terasa betapa pahit ketika mengalir di kerongkongan, tapi kamu meminumnya dengan santai lalu berbincang hangat. Deburan ombak mungkin akan selalu menjadi hal yang kuingat tentang dirimu, semoga sama halnya seperti kamu, tidak usah kita ceritakan lagi, mari kita masukkan ke dalam kotak biar terkunci rapat lalu ku buang ke tengah lautan, yang pasti aku masih akan selalu mengingat isi di dalam kotak itu.


Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Kita bercerita tentang gunung, tentang laut, tentang pantai tentang ombak. Asap rokok yang bergumul, ampas kopi yang menggumpal, lantunan musik yang semarak di udara, lalu selipan rahasia yang terekat. Kamu yang menyadarkan aku kalau dunia ini adalah sebuah playground untuk berpetualang, atau hanya berlari-larian dengan pemandangan belakang pegunungan atau pantai yang kamu sukai. Ya, setiap tempat mempunyai rasa-nya masing-masing, memiliki cerita yang dibubuhkan untuk di kenang sewaktu-waktu dan kamu yang menutup semua cerita ini tanpa tanda titik. Dan aku yang masih saja menunggu kamu untuk menutup dan memberikan tanda titik di akhir cerita ini.





Rabu, 08 April 2015

Untukmu yang kujumpai di hari senin

Hari ini aku seolah terbang kembali ke masa lalu, sebuah harddisk dari komputer lama berhasil diperbaiki teman kantorku, kupindahkan semua file yang berada didalamnya, file-file yang sudah sangat lama tak pernah kulihat. Sebuah folder bertuliskan 'Segala yang indah' merangkum satu masa di dalamnya. Masa putih abu-abu, masa yang kata orang penuh cerita, penuh rasa, penuh warna. Aku pertama kali merasakan pacaran pun di masa ini. Terlambat memang kalau melihat teman-temanku yang sejak SMP sudah berkali-kali bertukar pasangan tapi ya sudahlah, toh ini bukan sebuah perlombaan.

Sebuah Mp3 player dan kamera pocket adalah barang wajib selain buku pelajaran yang selalu ku bawa setiap harinya menuju ke sekolah. Mp3 player yang menjadi teman ku dijalan selama perjalan menuju ke sekolah jalan kaki, yah sekolah ku tidak lebih dari 500 meter jaraknya, dan kamera pocket yang memaksa ku menghabiskan seluruh tabungan demi merangkum cerita melalui gambar-gambar didalamnya.

Sosok didalam sebuah foto menyita perhatianku hari itu. Windy Senja Putri, sosok yang menjadi cerita di akhir masa SMA ku, sosok yang sepertinya hanya dia yang memiliki folder khusus di harddisk-ku dengan nama "Senja", sama seperti nama tengahnya. Satu hal yang menjadi pertanyaan ku saat ini "Sudah Menikah?"

Hari itu hari senin, aku diingatkan oleh sebuah foto yang terpampang dilayar komputerku, seorang gadis mungil dengan baju putih dan rok putih duduk disebelahku sambil mendengarkan Mp3 milikku tanpa menatap ke kamera, begitu juga dengan diriku yang tepat disebelahnya. Sebuah foto yang diambil candid oleh seorang temanku, sepertinya kita sedang asyik mendengar lagu sambil melihat pertunjukkan yang digelar disekolah.

"Kamu mau jadi apa suatu hari nanti?" tanyanya didalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Aku... hmmm, aku pengen jadi orang yang bisa keliling dunia. kenapa nanya begitu?"
"Pengen tau aja, aku pengen jadi dosen, lulusan luar negri, hmmm... paris." jawabnya sumringah
"Amiiin." kuperhatikan wajahnya, ada senyum kecil disana, lesung pipinya semakin dalam akibat senyum itu, pandangannya asyik ke arah jalan.

Kembali kuperhatikan foto dilayar komputerku,melihat-lihat foto lainnya dan berhenti pada sebuah foto yang menampilkan sebuah band dengan vokalis perempuan, acara promosi provider disekolah, satu hal yang kembali menyeruak dalam ingatanku adalah hujan. Yap, hari itu senin dan hujan. sang vokalis dan bandnya seolah tidak perduli dengan rintikan hujan dilapangan pagi menjelang siang itu, lagu yang dinyanyikan berjudul "I Will Fly" lagu romantis yang juga ada di Mp3 playerku. Aku meng-capture gambar hari itu dari kamera pocketku dibawah pohon rindang bersama kamu yang tepat berada disebelahku, menikmati setiap nada, merasakan setiap kata. lagu selanjutnya kembali dinyanyikan, "Love is You - Ten 2 Five".

Let me love you
With all my heart
You are the one for me
You are the light in my soul
Let me hold you
With my arms
I wanna feel love again
Cuz I know
Love is you...
Senin, sepulang sekolah. Aku sedang asyik nongkrong-nongkrong dikantin sambil menunggu rapat ekstrakuliluker yang kuikuti, rapat pemilihan ketua yang baru. Sebuah sms mendarat di ponsel ku, dari Windy, memintaku menemuinya di ruangan kelas. Aku ingat karena sebuah foto ditengah rapat yang diambil oleh adik kelasku jelas menampilkan mood ku sedang tidak baik saat itu. Ekspresiku ini memang tidak bisa dibohongi, ketika kesal, marah, senang, atau menyimpan sesuatu dikepalaku semua terlihat jelas tanpa perlu ditanyakan.

"Kamu tau kan?" tanya-nya dengan nada setengah tinggi
"Tau apa? Kamu ngomong apa sih? kok tiba-tiba marah begini"
"Aku tau kalo kamu tau semuanya kok Tam... Tentang hubungan aku"
"Sama dia? Iya aku tau, aku tau semuanya" kupotong kata-katanya, nada bicaraku ikut tinggi
"...." suasana dikelas hening dalam beberapa waktu, terlihat wajahnya yang menahan tangis
"Aku takut Tam, aku takut, aku semakin nyaman sama kamu" Bicaranya tertahan, mungkin oleh air mata.
"Aku sayang sama kamu Win, itu aja... aku gak perduli tentang dia"
"Tapi aku perduli..." Air matanya jatuh tak terbendung, hari itu hanya ruangan kelas yang menjadi saksi.
"....." aku tak bisa menjawab atau sekedar melanjutkan argumen dari kata-kata terakhirnya.
"Sekarang kamu mau kita kayak gimana?"
"Aku gak tau" jawabnya terisak
"Win... Udah nangisnya" kuseka air mata yang menetes dari sudut matanya dengan ibu jariku, entah kenapa, aku seolah tak sudi membiarkan pipinya dibasahi air mata, terlebih karena diriku.
"Aku mulai sekarang pergi dari hidup kamu, aku gak akan bersikap seperti kemarin, aku yang bodoh ngedeketin kamu yang sejak awal aku udah tau kamu punya cowok. Maafin aku ya Win, makasih buat lima bulan terakhir ini, kamu tetep spesial buat aku."
"....." Windy masih terdiam, kutinggalkan ia dalam keadaan seperti itu.

Sore hari-nya sebuah sms mendarat di handphone bututku,
"Tam...?"
Kuletakkan HP-ku dikantong celana tanpa keinginan membalas, yah... sejak awal aku tau dan mengerti kondisi ku, Windy sudah menjalin hubungan dengan pasangannya kurang lebih dua tahun, dan setahu ku satu tahun terakhir mereka menjalankan hubungan jarak jauh. Pacarnya yang lebih tua dua tahun harus kuliah di luar kota. Yah, memang aku si bodoh yang mencoba mendapatkan keuntungan dari kondisi ini. Hari itu aku memutuskan untuk menyerah, harus ada yang mengalah dalam hal ini, dan aku lah sang pendosa yang mencoba hadir dan berharap. Kuputuskan untuk pergi, meninggalkan cerita dan rasa yang bahkan sejak awal aku sudah mengetahui endingnya.

Jam hari itu sudah menunjukkan pukul 20.45 WITA, kuputuskan menyudahi berada di depan layar laptop yang sudah menyita waktu ku dari sore hari sepulang dari proyek dilapangan, senin selalu menjadi hari yang padat. Pantas saja, aku belum makan malam ternyata, keasyikan flashback dengan kenangan lama. Kuambil kunci mobil yang tergeletak di meja ruang tamu, begitu pun dengan Handphone ku yang sedang di charge, dua buah notifications dari Path, satu buah surat di mailing list, dan satu buah notification dari BBM.

Windy Senja Putri Invited You to chat over Blackberry Messenger.           

T:  "Hai, Win... Apa Kabar?"
W: "Baik Tam, Kamu?"
T:  "Aku baik, Stay dimana sekarang?"
W: "Aku di Jakarta kok, Kamu? Kayaknya sibuk banget ya bapak engineer ini, hahaha"
T:  "Gak ah, Aku kan cuma kuli, kamu tuh yang sibuk banget kayaknya sepulang dari paris, menyenangkan ngajar?"
W: "Bangeeet, I love doin' my dream job... kamu dimana sekarang?"
T:  "Aku di lepas pantai Kalimantan Timur"
W: "....."
T:  "Win."
W: "Ya."
T: "Sudah menikah?"
W: "Belum, belum ada yang cocok kayaknya..."

Perhatianku tertuju kepada secarik kertas diatas meja, sebuah tiket perjalanan yang baru sore tadi kudapatkan. "Hatta/Tama Wira/Mr. BPN - CGK".


Padang, Maret 2015

Kamis, 16 Januari 2014

Lelaki Yang Menangis




Raut wajahnya tenang, menunggu sepertinya sudah menjadi sahabat baginya, bisa ia bunuh bisa ia nikmati. Perlahan langit senja memalingkan wajahnya, mundur secara berkala, merahnya bagai tersipu malu dan berubah menjadi pekat. Lalu gerimis datang seolah berperan menjadi penghibur, bermain pantomim dihadapannya, membisu dalam ruang yang ia ciptakan sendiri. Wajahnya berubah sendu, mungkin bosan atau mungkin juga lelah, ia menengadahkan kepalanya seolah mencari jawaban diantara awan hitam, hanya kesunyian yang didapatnya.


Dalam diam air mata lelaki itu berjatuhan, tetes demi tetes tanpa pernah berani ia seka, diantara gerimis hujan, pekatnya malam, bintang yang enggan menyapa, dan angin yang menghangatkan. Bibirnya bergumam seolah ingin berbicara, hanya giginya yang bergemeretakan, matanya berkaca-kaca mengharu, hari itu... jam itu...  adalah sebuah perpisahan terakhirnya. Sudah hampir tujuh tahun, semua ingatan seakan bermain-main dipikirannya dan waktu ternyata tidak cukup tangguh menyembuhkan ingatannya.