Tampilkan postingan dengan label Love like coffee. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love like coffee. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Oktober 2017

Selamat Pagi wahai Sore di penghujung Malam



"Melukiskan wajahmu di otakku setiap pagi adalah kemampuan sekaligus hobi terhebat ku"

Pagi menghadirkan sebuah cerita tentang rasa, rasa terbangun dari mimpi semalam, rasa merajut kenangan tentang perjalanan, rasa tentang secangkir kopi pahit dan aroma pagi. Bahagia atau bermain dengan kelam, pagi mengambil andilnya dalam memutuskan. Pagi adalah perjalanan dan langkah kaki menuju hari esok yang entah bagaimana. Pagi datang setiap hari untuk dipilih, memilih kanan atau kiri, depan atau belakang. Mengawali rangkaian cerita dan sebagai pembuka asa dari dari ruang gambar yang hampir memudar.

Klise dan tak mampu dipungkiri, perjalanan mencapai titik penghabisan, selayaknya waktu sore hari di kala hujan reda yang menghapus jejak-jejak hingga nyaris hilang. riuhnya kendaraan yang berganti menjadi tenang berlatarkan melodi jingga. Cahaya temaram yang mengantar jalan menuju pulang, membawa wajah lelah yang sesak dimakan rasa. Diantara ruang waktu yang terlalu lama bersemayam, perlahan diam dan memutuskan untuk sirna, entah kemana angin membawa pergi.

Malam menghabiskan waktu menghapus janji yang pernah terucap, ribuan kata yang pernah saling berbalas, dan lengkung senyum yang menjadi penghias. Janji yang tak mampu ditepati, pesan yang setiap katanya menambah porsi harap, senyum yang setiap inchinya menambah damba. masa yang setiap terkenang membunuh sadar. Singgah yang tak pernah berakhir menjadi sungguh. Cerita dan setiap simpang di dalam perjalanan, lampu dan lukisan yang berderet di sepanjang jalan, lalu semesta memaksa untuk henti.



Terima kasih untuk kopi pahit dan aroma pagi...

Selasa, 10 Oktober 2017

Menagih Janji






Dear yang telah melupakan dan dilupakan...

Hey, kamu... Apa kabar? Masih menjadi kamu sampai hari ini? atau sudah berubah karena mengganggap beberapa sesuatu yang bias lalu kamu definisikan "Gila".
Lima Tahun! Yap... Sudah lima tahun, sejak hari dimana aku menanyakan sebuah mimpi, lebih mungkin, tapi biarlah aku masih belum bisa bercerita banyak dengan mimpi itu. lalu kamu? mungkin secangkir kopi hitam pahit kesukaanmu tidak akan sanggup menjadi peneman cerita dari semua yang sudah kamu lakukan. Maaf kalau mimpiku berubah, banyak hal yang membuat tanganku tak mampu lagi menggapai cerita-cerita manis yang kutuliskan dalam secarik kertas.

Hey, kamu... Sudah berubah kah selera musik kamu? atau kita masih memiliki cara pandang yang sama mengenai nada? tentang aksara yang meneduhkan, tentang daun yang berguguran, tentang hujan yang melukis langit, tentang waktu yang bergerak mundur. Tahu tidak? terkadang pola pikirmu merusak duniaku, merusak tiap syaraf tingkah ku, maaf jika aku tak lagi mengagumimu, sepertinya lima tahun cukup untuk mengagumimu, ingat! hanya kagum, tak lebih. Oh iya, kalau selera musik kita masih sama, aku merekomendasikan Payung Teduh ya? Band ini sama seperti wajah kamu, selalu meneduhkan.

Hey, kamu... masih ingat cerita kita? tentang ombak, asap dan perjalanan. Ah, sudahlah... aku lupa bahwa aku gila, cerita itu pasti sudah terlupakan, semoga suatu saat ada mimpi yang membawanya ke dalam ingatanmu ya. Oh iya kemarin aku mencarimu, tak kutemui, sepertinya aku masih bodoh dalam mencari, mungkin takut tertangkap basah bahwa aku sedang mencari, sama seperti halnya kamu yang selalu bersembunyi. Ingat tidak hari itu? aaaah... betapa bodohnya aku untuk memaksamu mengingat hal-hal tidak penting itu. Tapi biarlah, yang penting aku senang. Ingat tidak hari itu, hari dimana kita berjanji akan saling culik menculik, hahaha... Watu itu aku pikir kita ini seperti dua anak kecil yang bernyanyi riang ditaman yang penuh mainan.

Hey, kamu... bertahun-tahun kita tak saling sapa, entah karena mimpi kita yang tak lagi sama atau mungkin cerita kita yang telah berbeda. Aku sadar betul bahwa aku telah menyimpang jauh dari rel yang seharusnya, tapi aku 100% yakin kamu masih berjalan di trek yang sama, betul kan? kalau tidak bagaimana bisa kawanku mengabari kehadiranmu di sore itu sedang bermain-main dengan mimpi-mimpimu. Mungkin jikalau aku hadir dan menyapa... aaah tidak, tentu saja aku tidak akan menyapamu terlebih dahulu, untuk apa? toh kata-kata selamat tinggal pun tak pernah terucap.

Hey, kamu... bagaimana mungkin hari itu kamu bisa kembali menyapaku? bagaimana mungkin layar di kaca handphone ku kembali menghadir namamu? Oh iya. aku baru tersadar setelah beberapa baris kalimat dari mu. Sebuah undangan pernikahan yang kamu tautkan bersama sebuah gambar beserta denah tempat diberlangsungkan resepsi dan akad nikah. Aku bergumam "Oh, akhirnya setelah sekian lama" lalu kubalas dengan ucapan maaf karena aku sedang berada di lain kota karena pekerjaan. Entah kenapa aku harus meminta maaf, tapi hari itu doaku tulus untukmu, agar semua proses berjalan dengan lancar dan kamu diberi kebahagiaan bersama priamu, sungguh aku tulus dan terima kasih telah mengundangku.

Padang, 2014

Rabu, 16 Agustus 2017

Sementara




"Sementara akan kukarang cerita, Tentang mimpi jadi nyata... Untuk asa kita berdua."

“Apa Kabar?”
Dua buah kata yang bagaikan memberi makan ego, memekarkan bunga yang hampir layu kembali, dan menjawab semua tanya tentang ruang waktu yang sempat terlompati. Hari ini, rindu terobati... entah esok, entah lusa, yang jelas hari ini ia sembuh.
Semesta memainkan perannya di tengah asa yang memudar, Waktu seolah bergerak sinusoidal untuk menjemput kembali, diantara langkah kaki yang nyaris tak pernah beranjak. Diantara cerita-cerita yang masih berjejak.

“Aku Rindu...”
Klise untuk mengatakan tentang rasa yang sebenarnya, klise untuk menafikan diri untuk berkata jujur. Biarlah rindu berada diujung dahi kita masing-masing tanpa pernah terucap. Paling tidak binar mata tak mampu berbohong.

Seolah hari ini aku kembali menggali kotak yang berisikan kumpulan cerita dan memainkannya kembali hanya untuk mengenyangkan rindu. Lagi-lagi bibirku tersenyum mengenang semuanya, karena hanya waktu yang kala itu mengalahkan setiap pertemuan. Karena setiap cerita bersamamu begitu menyenangkan, meski hanya mendengarkan ceritamu di sebuah sudut rumah kopi yang bahkan tak kamu sukai.

Kanvas imajinasiku berlari-lari melukiskan detail garis waktu kala itu, menghapus hadirmu adalah hal tersulit bagiku, di momen terburuk serta terhebat yang diselingi wajahmu, sang kuas menari-nari lincah, lalu berhenti untuk menambahkan sesuatu; entah air mata atau lengkungan senyum.

Seperti hari itu, di momen terhebatmu yang sekaligus salah satu momen burukku, mengamatimu dari jauh adalah salah satu kebodohanku kala itu, tapi aku memang sebodoh itu, demi menunggu dan mengabadikan senyuman banggamu dari jauh dan mendapati engkau yang tersenyum riang bersama pria mu kala itu...  di hari wisudamu.

Kita adalah lingkaran waktu yang kembali ke titik asalnya, yang membedakan adalah kematangan dan bagasi kenangan masing-masing. Biarlah semesta berkonspirasi, menemukan celah-celah kehidupan yang entah bergerak kemana. Menuju akhir cerita dan memastikan setiap rasa, yang jelas hari ini adalah bahagiaku, entah esok atau lusa.

“Percayalah hati lebih dari ini, pernah kita lalui. Takkan lagi kita jauh melangkah... untuk sementaraaaa.”

Solok, Sumatera Barat. 

Senin, 09 Mei 2016

Setengah 5 Sore



Selamat malam pemilik suara yang meneduhkan, hari ini aku memimpikanmu, entah kenapa semua hal tentangmu seakan merasuk dan mengembalikan cerita lampau, di mimpiku kamu tersenyum, sebuah lengkungan yang lama tak ku lihat di bibirmu. Aku menari bersama sang malam, aku bertamasya dengan kelam, malam terasa begitu bergelora ketika pintu mimpiku kau ketuk.


Mereka bilang mimpi tentang seseorang mengartikan adanya rindu dari tokoh di alam mimpi, ah biarkan tafsir-tafsir itu bermain. Mungkin alam bawah sadarku yang merindukanmu, merangkai kisah yang sempurna lalu hancur ketika pagi menguratkan cahayanya. Mimpi itu hanya datang sekali, sekali namun di masa yang melonjakan semua rindu. Entah rindu entah kekecewaan, aku sudah tak dapat membedakan.


Peri kecil seolah berbagi kebahagiaan dan menceritakan semua dongeng romansa. Menurutku cinta tidak begitu syahdunya, biarlah aku menjadi antagonis yang mengerutkan kening, menjadikanku matahari garang yang pergi ketika malam tiba. Pangeran berkuda putih dengan pakaian menawan tak selamanya berkawan. Mimpi alam bawah sadar lebih realis dari dongeng Cinderella. Biarlah perlahan buku ini tertutup hingga halaman terakhir.


Jarak mengambil perannya, jarak menemukan maksudnya lalu berhenti di titik akhirnya. Kenangan tersimpan, keraguan berkawan. Rindu telah mati dibunuh sepi, perjalanan tak mencapai tujuan. Haru menjadi lawan, sendu bersemayam. Sesungguhnya waktu adalah jawaban, tak ada yang tak pernah sembuh oleh waktu. Namun begitulah, tak selamanya juga pagi terlalu cepat datang.


Sudah saatnya aku berkemas, meninggalkan nyanyian burung di taman yang sedang bermesraan manja dengan kenangan. Menghidupkan rindu-rindu lain, memupuk dan merawatnya. Bukan menanam luka meski kita tak pernah saling membenci.

Rabu, 16 September 2015

Senja yang terbuat dari rinai hujan



Bau kopi-nya semerbak, Suasananya terkesan vintage dengan nuansa kayu yang berwarna coklat menuju krem, interior dengan segala ornamen-ornamen dan ambience yang temaram menemani sore yang akan segera berganti menjadi gelap. Aku masih asyik menghisap rokok ku sambil sesekali menghirup kemasan biji kopi yang terletak di meja barista, biji kopi sachet besar yang sengaja diberi bolongan-bolongan agar bau-nya dapat dirasakan tanpa harus membuka kemasan, seandainya kamarku memiliki wangi seperti ini aku pasti mudah terlelap.

Jakarta hari itu seolah tak mau meninggalkan persona-nya secuil pun, kemacetan di tambah hujan sore itu memaksa para pegawai seirama menepikan kendaraannya sejenak, termasuk diriku. Sebenarnya bisa saja aku pulang dengan mantel motor ke rumah lalu segera merebahkan badan, toh rumah ku tak sejauh para pegawai di kantorku yang lain, tapi aku benci rutinitas, kali ini sengaja kuparkirkan vespa ku di sebuah coffee shop yang memang barista-nya sudah ku kenal beberapa bulan terakhir.

"Nih Boi, pesenan lu. Hot Chocolate dan ini gula lo" Redy menyerahkan pesananku ditambah dua sachet gula rendah kalori. Ia tahu kalau aku selalu memakai gula yang ku bawa sendiri sejak hari pertama aku duduk di 'Ruang Kopi'.

"Makasi Boi..." Jawabku sambil meletakkan sachet besar biji kopi yang sejak tadi asyik ku mainkan dan ku hirup.

"Oiya Boi, gue tinggal bentar yah? Gue mau ngambil susu dulu, stok tinggal sedikit nih."

"Okeh"

"Ntar kalo ada apa-apa, sama Arina aja yah" Redy menunjuk salah seorang barista yang baru pertama kali kulihat hari itu. Arina terlihat mengangguk tanda meng-iyakan, barista baru sepertinya, wajahnya nampak innocent dan ada sedikit ketakutan kala ditinggal Redy.

"Ooooh okeh sip..."

"Arina yah namanya? baru disini ya?"

"Iyah mas, baru dua minggu, part time aja disini sambil skripsian soalnya, jadi lumayan banyak waktu"

"Oooh iyah. Bulan lalu aku kesini belom keliatan kayaknya, aku Tama" Kita saling mengangguk tanpa bersalaman

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ruang Kopi adalah salah satu tempat yang menjadi saksi dalam perjalanan cerita ku, perjalanan dalam mencari seseorang yang ketika melihat atau bersamanya dalam pikiranku akan mengangguk dan berkata "She's the One".
Sahabat-sahabatku kadang menyebut diriku seorang yang 'picky', setelah aku beberapa kali menyudahi pendekatanku dengan orang-orang yang dikenalkan sebelum benar-benar dekat, aku selalu menyanggah disebut pemilih seperti yang dilabeli mereka.

"Gak ada yang sempurna Tam, inget ada satu hal yang gak akan pernah bisa lo lawan, waktu" Tegas Gege mengingatkanku. Gege adalah salah satu sahabatku yang pernah mengenalkan teman kantornya denganku, dan berakhir hanya sekali pertemuan dan tiga kali telponan.

"Apa yang salah dengan mencari seseorang yang memiliki satu hobi sama gue?"

"Aduuuh Tam, apa sih yang kurang dari seorang Sean, udah cantik, karirnya bagus, dan yang penting dia ngasih lampu ijo, kenapa lo malah berenti sih?" Kali ini Reisa yang sibuk menceramahiku setelah aku tak lagi menghubungi sepupu jauhnya.

"Gak ada chemistry, gue ngerasa she's not the one." Jawabku lemah.

"Terus lo masih mau nyari cewek yang sesuai sama hobi langka lo itu? Baca buku Pramoedya Ananta Tour dan Puisi Sapardi Djoko Damono, atau mendengarkan lagu dari Band band indie berkesan jadul yang entah apa judulnya dari vinyl di kamar lo itu? ingat Tam, sekarang 2015." Reisa sudah mulai gerah dengan statementku tadi.

"Gak gitu juga, gue mengidolakan wanita yang suka membaca buku, gue mengangumi aksara dan gue harap dia sama, gak harus sastrawan atau penyair, gue menyukai banyak penulis muda, Aan Mansyur, Adhitya Mulya, Pidi Baiq, dan banyak lainnya. Begitu juga musik, Gue mencintai setiap not yang dihadirkan oleh musisi idealis, bukan pengejar pundi pundi rupiah yang semakin gak jelas arah rimbanya. Dialog dini hari, Sore, Balllad of the Cliche, Banda Neira, atau sekelas Efek Rumah Kaca contohnya."

"Waktu jalan sama Sean, ku dengar ringtone handphone-nya bunyi, Armada - Pergi Pagi Pulang Pagi" Sambungku beberapa saat setelahnya, nampak Reisa menahan ludah mendengar statementku, Gege tertawa lepas.

"Mungkin dia Armada Ranger garis keras! Hahahaha... Waktu lo pergi sama dia, dia gak pake kaos A4P kan? Armada Pergi Pagi Pulang Pagi? Hahahaha" Gege masih asyik dengan imajinasinya sambil asyik tertawa.

"Tam! Oke gue akuin kalo selera musiknya gak sama atau se-asyik elo, tapi itu kan bagian dari selera, lagian juga elo masih bisa ngubah semuanya kan? Sisi bagus dia masih banyak kok!" Reisa seolah membenarkan namun masih tak ingin kalah.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari sudah menunjukkan pukul 20.40, aku masih terhanyut dengan kesendirianku hari itu, ditengah sebuah tempat bernama Ruang Kopi yang pekat aroma kopi dan nuansa kayu, aku mengagumi interior dan ambience yang dihadirkan di ruangan ini. Hujan sudah mulai berdamai dengan jalan Jakarta, satu persatu pengunjung kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Arina sedang sibuk membereskan meja sisa pengunjung, mencucinya dan sesekali tersenyum ketika lewat dihadapanku. Wajahnya terlihat sederhana tanpa banyak polesan seperti wanita kebanyakan, apron yang ia kenakan terlihat matching dengan jilbab coklatnya. Kuperhatikan ia sibuk memainkan handphone-nya dan sesaat kemudian dicolokkan ke main speaker.
"Semesta bicara tanpa bersuara
 Semesta ia kadang buta aksara
 Sepi itu indah, percayalah
 Membisu itu anugerah"
Sesaat aku terkejut, terdengar jelas suara dari Ananda Badudu dan Rara Sekar merangkum satu ruangan bernama Ruang Kopi malam itu, Arina terlihat tersenyum sendiri, wajahnya teduh dan terlihat senang mendengar lagu yang ia putar dari iPhone-nya.

"Mas, saya Sholat Isya dulu ya? Nanti kalo ada pelanggan minta tolong suruh duduk aja dulu ya mas?" Arina bertanya dan hanya kujawab dengan anggukan.

Lalu ia mengambil mukena yang terletak didalam tas-nya seraya mengeluarkan buku lalu memasukkannya kembali, Aku tau buku itu dari sampulnya, sebuah buku yang baru-baru ini ku beli di Gramedia. 'Sapardi Djoko Damono - Hujan Bulan Juni'.

"Arina, itu buku-nya Sapardi? Hujan Bulan Juni?" Kupastikan penglihatanku tak salah.

"Iya mas," Jawabnya heran

"Suka?"

"Menurut aku, gak ada penyair lain yang bisa mendefinisikan hujan seindah Sapardi Djoko Damono" Aku tersenyum sambil memerhatikan kedua mata Arina yang terlihat canggung.

"Permisi Mas".


“tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni 
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni 
dihapusnya jejak-jejak kakinyayang ragu-ragu di jalan itu 
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni 
dibiarkannya yang tak terucapkan 
diserap akar pohon bunga itu”  
― Sapardi Djoko DamonoHujan Bulan Juni


Padang, 6 Agustus 2015












Minggu, 26 Juli 2015


Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Entah kenapa aku ingin menulis tentang mu hari ini (lagi). Tentang kamu yang hilang tapi masih dalam jangkauan. Tentang kamu yang entah kapan mendeklarasikan selesainya percakapan kita. Tentang kamu yang membangun tinggi-tinggi sebuah perbatasan agar aku tak dapat memanjatnya, padahal cukup kamu bilang 'Stop' saja aku tidak akan berani masuk selangkah pun, ya aku sebegitu penurutnya.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Aku belum bodoh, terlebih gila... Setiap neuron di pikiranku masih berfungsi selayaknya, seperti hal-nya percakapan-percakapan santai kita di awal pertemuan, seperti cerita-cerita yang selalu kamu bagi setiap malamnya, seperti aksara yang terkirim melalui smartphone kita, semua nya normal dan terjadi begitu saja. Ya, sebelum lahirnya ekspektasi atau gurauan orang di sekeliling kita, mungkin awalnya semua adalah rahasia.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Sungguh satu persoalan pun tak aku mengerti tentang cerita ini, kamu yang datang, kamu yang tertawa, kamu yang menangis, kamu yang bercerita lalu kamu yang pergi, seperti lucid dream yang tiba-tiba terbangunkan, awalnya semua seolah nyata, seolah wajah yang ku tatap dekat itu benar milik mu, seolah suara yang kudengar itu tepat suara mu, lalu aku tersentak dan semuanya bohong. Tidak ada lagi suara yang menceritakan entah tangis entah tawa, tidak ada lagi referensi tentang musik yang secara kebetulan selera kita sama dan sama seperti mimpi, semuanya tanpa penjelasan.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Secangkir ekspresso panas tanpa gula, uuuh... membayangkannya saja sudah terasa betapa pahit ketika mengalir di kerongkongan, tapi kamu meminumnya dengan santai lalu berbincang hangat. Deburan ombak mungkin akan selalu menjadi hal yang kuingat tentang dirimu, semoga sama halnya seperti kamu, tidak usah kita ceritakan lagi, mari kita masukkan ke dalam kotak biar terkunci rapat lalu ku buang ke tengah lautan, yang pasti aku masih akan selalu mengingat isi di dalam kotak itu.


Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Kita bercerita tentang gunung, tentang laut, tentang pantai tentang ombak. Asap rokok yang bergumul, ampas kopi yang menggumpal, lantunan musik yang semarak di udara, lalu selipan rahasia yang terekat. Kamu yang menyadarkan aku kalau dunia ini adalah sebuah playground untuk berpetualang, atau hanya berlari-larian dengan pemandangan belakang pegunungan atau pantai yang kamu sukai. Ya, setiap tempat mempunyai rasa-nya masing-masing, memiliki cerita yang dibubuhkan untuk di kenang sewaktu-waktu dan kamu yang menutup semua cerita ini tanpa tanda titik. Dan aku yang masih saja menunggu kamu untuk menutup dan memberikan tanda titik di akhir cerita ini.





Rabu, 08 April 2015

Untukmu yang kujumpai di hari senin

Hari ini aku seolah terbang kembali ke masa lalu, sebuah harddisk dari komputer lama berhasil diperbaiki teman kantorku, kupindahkan semua file yang berada didalamnya, file-file yang sudah sangat lama tak pernah kulihat. Sebuah folder bertuliskan 'Segala yang indah' merangkum satu masa di dalamnya. Masa putih abu-abu, masa yang kata orang penuh cerita, penuh rasa, penuh warna. Aku pertama kali merasakan pacaran pun di masa ini. Terlambat memang kalau melihat teman-temanku yang sejak SMP sudah berkali-kali bertukar pasangan tapi ya sudahlah, toh ini bukan sebuah perlombaan.

Sebuah Mp3 player dan kamera pocket adalah barang wajib selain buku pelajaran yang selalu ku bawa setiap harinya menuju ke sekolah. Mp3 player yang menjadi teman ku dijalan selama perjalan menuju ke sekolah jalan kaki, yah sekolah ku tidak lebih dari 500 meter jaraknya, dan kamera pocket yang memaksa ku menghabiskan seluruh tabungan demi merangkum cerita melalui gambar-gambar didalamnya.

Sosok didalam sebuah foto menyita perhatianku hari itu. Windy Senja Putri, sosok yang menjadi cerita di akhir masa SMA ku, sosok yang sepertinya hanya dia yang memiliki folder khusus di harddisk-ku dengan nama "Senja", sama seperti nama tengahnya. Satu hal yang menjadi pertanyaan ku saat ini "Sudah Menikah?"

Hari itu hari senin, aku diingatkan oleh sebuah foto yang terpampang dilayar komputerku, seorang gadis mungil dengan baju putih dan rok putih duduk disebelahku sambil mendengarkan Mp3 milikku tanpa menatap ke kamera, begitu juga dengan diriku yang tepat disebelahnya. Sebuah foto yang diambil candid oleh seorang temanku, sepertinya kita sedang asyik mendengar lagu sambil melihat pertunjukkan yang digelar disekolah.

"Kamu mau jadi apa suatu hari nanti?" tanyanya didalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Aku... hmmm, aku pengen jadi orang yang bisa keliling dunia. kenapa nanya begitu?"
"Pengen tau aja, aku pengen jadi dosen, lulusan luar negri, hmmm... paris." jawabnya sumringah
"Amiiin." kuperhatikan wajahnya, ada senyum kecil disana, lesung pipinya semakin dalam akibat senyum itu, pandangannya asyik ke arah jalan.

Kembali kuperhatikan foto dilayar komputerku,melihat-lihat foto lainnya dan berhenti pada sebuah foto yang menampilkan sebuah band dengan vokalis perempuan, acara promosi provider disekolah, satu hal yang kembali menyeruak dalam ingatanku adalah hujan. Yap, hari itu senin dan hujan. sang vokalis dan bandnya seolah tidak perduli dengan rintikan hujan dilapangan pagi menjelang siang itu, lagu yang dinyanyikan berjudul "I Will Fly" lagu romantis yang juga ada di Mp3 playerku. Aku meng-capture gambar hari itu dari kamera pocketku dibawah pohon rindang bersama kamu yang tepat berada disebelahku, menikmati setiap nada, merasakan setiap kata. lagu selanjutnya kembali dinyanyikan, "Love is You - Ten 2 Five".

Let me love you
With all my heart
You are the one for me
You are the light in my soul
Let me hold you
With my arms
I wanna feel love again
Cuz I know
Love is you...
Senin, sepulang sekolah. Aku sedang asyik nongkrong-nongkrong dikantin sambil menunggu rapat ekstrakuliluker yang kuikuti, rapat pemilihan ketua yang baru. Sebuah sms mendarat di ponsel ku, dari Windy, memintaku menemuinya di ruangan kelas. Aku ingat karena sebuah foto ditengah rapat yang diambil oleh adik kelasku jelas menampilkan mood ku sedang tidak baik saat itu. Ekspresiku ini memang tidak bisa dibohongi, ketika kesal, marah, senang, atau menyimpan sesuatu dikepalaku semua terlihat jelas tanpa perlu ditanyakan.

"Kamu tau kan?" tanya-nya dengan nada setengah tinggi
"Tau apa? Kamu ngomong apa sih? kok tiba-tiba marah begini"
"Aku tau kalo kamu tau semuanya kok Tam... Tentang hubungan aku"
"Sama dia? Iya aku tau, aku tau semuanya" kupotong kata-katanya, nada bicaraku ikut tinggi
"...." suasana dikelas hening dalam beberapa waktu, terlihat wajahnya yang menahan tangis
"Aku takut Tam, aku takut, aku semakin nyaman sama kamu" Bicaranya tertahan, mungkin oleh air mata.
"Aku sayang sama kamu Win, itu aja... aku gak perduli tentang dia"
"Tapi aku perduli..." Air matanya jatuh tak terbendung, hari itu hanya ruangan kelas yang menjadi saksi.
"....." aku tak bisa menjawab atau sekedar melanjutkan argumen dari kata-kata terakhirnya.
"Sekarang kamu mau kita kayak gimana?"
"Aku gak tau" jawabnya terisak
"Win... Udah nangisnya" kuseka air mata yang menetes dari sudut matanya dengan ibu jariku, entah kenapa, aku seolah tak sudi membiarkan pipinya dibasahi air mata, terlebih karena diriku.
"Aku mulai sekarang pergi dari hidup kamu, aku gak akan bersikap seperti kemarin, aku yang bodoh ngedeketin kamu yang sejak awal aku udah tau kamu punya cowok. Maafin aku ya Win, makasih buat lima bulan terakhir ini, kamu tetep spesial buat aku."
"....." Windy masih terdiam, kutinggalkan ia dalam keadaan seperti itu.

Sore hari-nya sebuah sms mendarat di handphone bututku,
"Tam...?"
Kuletakkan HP-ku dikantong celana tanpa keinginan membalas, yah... sejak awal aku tau dan mengerti kondisi ku, Windy sudah menjalin hubungan dengan pasangannya kurang lebih dua tahun, dan setahu ku satu tahun terakhir mereka menjalankan hubungan jarak jauh. Pacarnya yang lebih tua dua tahun harus kuliah di luar kota. Yah, memang aku si bodoh yang mencoba mendapatkan keuntungan dari kondisi ini. Hari itu aku memutuskan untuk menyerah, harus ada yang mengalah dalam hal ini, dan aku lah sang pendosa yang mencoba hadir dan berharap. Kuputuskan untuk pergi, meninggalkan cerita dan rasa yang bahkan sejak awal aku sudah mengetahui endingnya.

Jam hari itu sudah menunjukkan pukul 20.45 WITA, kuputuskan menyudahi berada di depan layar laptop yang sudah menyita waktu ku dari sore hari sepulang dari proyek dilapangan, senin selalu menjadi hari yang padat. Pantas saja, aku belum makan malam ternyata, keasyikan flashback dengan kenangan lama. Kuambil kunci mobil yang tergeletak di meja ruang tamu, begitu pun dengan Handphone ku yang sedang di charge, dua buah notifications dari Path, satu buah surat di mailing list, dan satu buah notification dari BBM.

Windy Senja Putri Invited You to chat over Blackberry Messenger.           

T:  "Hai, Win... Apa Kabar?"
W: "Baik Tam, Kamu?"
T:  "Aku baik, Stay dimana sekarang?"
W: "Aku di Jakarta kok, Kamu? Kayaknya sibuk banget ya bapak engineer ini, hahaha"
T:  "Gak ah, Aku kan cuma kuli, kamu tuh yang sibuk banget kayaknya sepulang dari paris, menyenangkan ngajar?"
W: "Bangeeet, I love doin' my dream job... kamu dimana sekarang?"
T:  "Aku di lepas pantai Kalimantan Timur"
W: "....."
T:  "Win."
W: "Ya."
T: "Sudah menikah?"
W: "Belum, belum ada yang cocok kayaknya..."

Perhatianku tertuju kepada secarik kertas diatas meja, sebuah tiket perjalanan yang baru sore tadi kudapatkan. "Hatta/Tama Wira/Mr. BPN - CGK".


Padang, Maret 2015

Kamis, 16 Januari 2014

Lelaki Yang Menangis




Raut wajahnya tenang, menunggu sepertinya sudah menjadi sahabat baginya, bisa ia bunuh bisa ia nikmati. Perlahan langit senja memalingkan wajahnya, mundur secara berkala, merahnya bagai tersipu malu dan berubah menjadi pekat. Lalu gerimis datang seolah berperan menjadi penghibur, bermain pantomim dihadapannya, membisu dalam ruang yang ia ciptakan sendiri. Wajahnya berubah sendu, mungkin bosan atau mungkin juga lelah, ia menengadahkan kepalanya seolah mencari jawaban diantara awan hitam, hanya kesunyian yang didapatnya.


Dalam diam air mata lelaki itu berjatuhan, tetes demi tetes tanpa pernah berani ia seka, diantara gerimis hujan, pekatnya malam, bintang yang enggan menyapa, dan angin yang menghangatkan. Bibirnya bergumam seolah ingin berbicara, hanya giginya yang bergemeretakan, matanya berkaca-kaca mengharu, hari itu... jam itu...  adalah sebuah perpisahan terakhirnya. Sudah hampir tujuh tahun, semua ingatan seakan bermain-main dipikirannya dan waktu ternyata tidak cukup tangguh menyembuhkan ingatannya. 

Senin, 03 Desember 2012

#TerimaKasihSederhana

Hey, Birthday Boy!




I'm 23rd now... sebuah usia yang dulu gue rasa, 'NJRIT, TUA BANGET...'
but i'm 23rd now, dan gue berani buat bilang 'Im Mature Enough Now', banyak pelajaran luarbiasa yang bisa gue dapet dalem hidup selama 23tahun ini, Riczky Syaputra yang dulu cuma anak manja, Riczky Syaputra yang pernah kabur dari rumah, yang pernah ngambek gara" duit jajan kurang, dan sering ngelawan dan ngebantah setiap perkataan alm. mama n papa, People Change! dan Here i am.

2 Desember 2012
Gue kebangun jam 11 pagi setelah begadang sampe subuh, itupun kebangun gara" ada janji buat bikin Buku Tahunan Sekolah dan dengan tololnya BB gue berserakan, batre dimana, tutupnya dimana, henponnya dimana, Buat hal ini gue akuin gue masih tolol, butuh istri sepertinya, hahaha... Gue idupin dan ngeliat banyak BBM masuk, semuanya ngasih ucapan luarbiasa, sama halnya ditwitter, sejak jam 12 mulai banyak  mention masuk, dan berlaku sepanjang hari itu, satu invitation request di BB, seorang teman lama yang tahun lalu begitu spesial, yah Kamu... 2nd december 2011 just gonna be last year... yeah i still cherished all the things happened. Hari ini mungkin agak berbeda karena gak ada kamu sang konseptor ulung ditahun lalu, gue rasa hari-hari gue diumur 23 bakal biasa banget, standar lah... and you know what i did? gue tidur dikostan sampe sore setelah ketemu Anak" SMANTEN yang ngajak gue jadi MC dan sekaligus nawarin Buku Tahunan, yah... wasteing time and replying mention on twitter.

Malem gue ada rapat @StandUpIndo_Pdg di Kopmil, kita mau ngebahas beberapa hal, salah satunya performer buat beberapa gigs kedepan dan juga mau ngebahas pembagian keuntungan acara #AbsurdTourPDG yang cetar membahana kalo kata abege" labil jaman sekarang, dan Voilaaaa... satu surprise dari anak" @StandUpIndo_PDG dan gue yakin konseptor acara ini ada 3 orang, Praz, Gita, dan Ayi... satu kotak penuh cup cake kita makan bareng", dan ditengah kue itu ada BIR BINTANG, iyah... ini ketololan @Praz_Teguh pasti.




We're Just Comedian... We're not trying to be funny... We prepare things to make a lot of laugh...
makasi banyak buat semuanya dimalem itu, @Praz_Teguh @ayiqorry @ghitanh @Famhei @Serlypioz @Zetri12 @BillyCapri @FarandyRyan @dickazz @FadhlyAPK
YOU RAWK GUYS!!! dan satu lagi WE'RE FAMILY DUDE!!! buat yang pada saat itu gak dateng dan tetep ngasih selamat, a lot of thanks for you all guys... terima kasih. Abis itu kita ngopmil bareng" sampe sekitaran jam 10. ternyata benar, sebuah moment luarbiasa pertama terlewati dengan senyuman yang tertempel erat di otak gue, ternyata benar tidak perlu sang konseptor ulung untuk membuat hari ini menjadi lebih ceria.

*nb: Agak mulai 'ngeh' pas si Praz yang ngebatalin gue jemput ghita, ternyata ini maksud semuanya, hahaha... Oiya pas didalem mobil, Praz, Ayi, Ghita prepare kue udah keliatan gara" lampu mobil didalem yang idup, BHAAAK!!!*


Selepas dari kopmil, gue nyampe dikost tanpa mikir apa" lagi, gue udah cukup bersyukur karena hari ini masih ada sahabat" gue buat ngerayain bareng, gue masuk kamar, ganti baju dan kedengeran suara @fandibone dari luar "Mpu... Mpu... Lo ngambil jarkomdat gak? besok kuliah pagi looo..." dan gue buka kamar dengan males, nothing interest to have a conversation about subject when nite force me to take a rest, hahaha... dan pas gue buka pintu... VOILAAAA!!!






Ternyata mereka udah prepare di hari itu, satu buah kue tersaji manis didepan kamar gue, dan disana ada @BangSH4D @fandibone dan lagi" @fadhlyAPK hahaha... what a nite! 2 surprises came to me, meskipun cuma ber4 tapi satu hal yang pasti, GUE GAK SENDIRI! dan malam itu gue tidur nyenyak dengan senyuman luarbiasa dihati gue. Thanks Guys! Kita calon orang" sukses dimasa kita nanti, karena kita Insinyur Ceria. Lagi" tidak memerlukan konseptor ulung untuk menemukan sebuah rasa terima kasih yang tersimpan tulus.














3 Desember 2012
You see those pictures, They're my angels.... No Doubt!
@nisaabcdelf @karinrissa @iNiirini  How cute they are *cubit cubit*... Meskipun udah ditanggal 3 tapi gue masih bisa ngerasain kebahagian yang kata orang semu, karena hidup menuntut keseimbangan, dan lawan bahagia adalah kesedihan. WHATEVER! Hari ini gue ada janji sama nisa buat jalan, gue pun kebangun dari tidur siang yang menyenangkan gara" BBM dari mahluk keparat ini, hahaha *mungkin gue bakal dijambak kalo dia baca ini* kita janjian jam 4, molor jadi jam 5. gue sampe di Rumah Kopi Nunos dan Nisa udah ada didalem, mungkin gue ditakdirkan untuk cukup peka dengan lingkungan, beberapa hal gue tangkep pada saat itu, kue yang dibeli di 'Dallas' (gue sering beli kue sama Nisa disini), Obrolan Kak Vina (orang Rumah Kopi Nunos) tentang Ulang Tahun dan Nisa yang sibuk BBMan entah ama siapa, yapi itu baru tebak"an sotoy gue aja sik.

Baru sekitar 10 menitan gue diRumah Kopi Nunos, buka leptop pun baru beberapa menit, pesenan belom dateng, dan ngobrol" ama Nisa juga baru beberapa paragraf (Yup, dia sibuk BBMan). Tiba" nongol sesosok mahluk putih, kuyus, lucuuu dari pintu di Lantai 2 Nunos, yep... namanya cencen aka curin aka Rini Febriyanti, beliau yang gue rasa baru pertama kali napakin kaki di Nunos masuk sambil ngebawa Helm, iya Helm! Warna ijo lagi! muncul dengan wajah polos dan ngomong tiga kata "Ngapain lo disini...?" dan gue ngakak paraaaaah! Buahahahaha Curiiiiin! You screw the surprise! *masih ngakak pas nulis ini* karena jujur gue masih gak tau kalo kalian bakal ngelakuin ini semua sampe didetik sebelum si cencen masuk. Dan datanglah seorang bebeeeeeb Karina Dian Erica yang baru pulang dari Bukittinggi dan langsung menuju Ruko Nunos (Aaaaak... pasti capek ya beb, cinih cinih akooh pijitin *kemudian digaplok*) + Annisa Ismed (yg abis pura" ke WC padahal nyiapin semuanya dibawah tuuuh :D) dengan sebuah kue dan lilin yang rempong abis! We do what people do... Tiup lilin dan lanjutin ngakak gara" si cencen.

That moment... One thing that i felt, All of you completed my world, it was like that i never wanted that moment finished... again and again, the time wrapped fastly, we have to ended the moment, with you all dear... world stop cycling even just a sec, with you all dear... ordinary things become extra oradinary. Lalu? kenapa gue mesti kesepian dengan menyandang status sebagai jomblo single, toh gue punya mereka yang selalu ada dimoment" terbaik dan terpait di hidup gue, mereka yang selalu ngasih spirit luarbiasa disaat gue jatuh, mereka yang menambah kebahagiaan gue disaat gue ngerasa cukup, yep! satu hal yang pasti GUE SAYANG KALIAN, seandainya kalian bertiga mau jadi bini gue, gue rela deh, yang penting rukun. BHAAAK!!! Lagi-lagi ratusan kebahagian meretas tanpa adanya konseptor ulung, bukankah intinya satu hal bernama 'ketulusan', dan hari itu semuanya melebur luarbiasa.


Yes, I'm 23rd Now... with Super Fellow around me...

Mungkin gue terlalu bosan untuk menangis, mungkin gue terlalu angkuh untuk menunjukkan rasa terima kasih yang membuncah hebat, tapi satu hal yang gue pengen lo semua tau, Terima Kasih sudah menempatkan gue diposisi hebat ini. Ketika gue ngerasa sendiri, gue bisa baca blog ini sambil tersenyum lagi, yep! Karena Gue Gak Sendiri... Gue punya orang" spesial disekeliling gue. #TerimaKasihLuarbiasa karena gue diberi kesempatan untuk mengenal kalian. kalian luar biasa *ariel noah style*


With a huge Respect
Riczky Syaputra

Selasa, 10 Juli 2012

Satu benda saja... Radio

"lagu ini untukmu... hanya untuk dirimu... pahamilah maksudku... ku masih inginkanmu"
~Drew, Radio


Sudah berapa lama sejak hari itu? Hampir setahun, bahkan aku sudah lupa kapan tepatnya, hari dimana aku memutuskan untuk tidak lagi menyandang status sebagai penyiar diradio kecil yang terletak dikampus itu, yah... radio kecil, tapi tidak pernah terlalu kecil untuk membatasi kreativitas tiap manusia yang berada didalamnya, tidak terlalu kecil untuk menyalurkan ekspresi yang membuncah dari setiap penyiarnya, tidak terlalu kecil untuk menjadikan seseorang yang dulunya hanya mencari jati diri menemukan karakter kuat pada dirinya.

Musik sendu yang bermain ditiap malamnya pun sudah tidak ada, bisa dipastikan penyiar galau itu sudah tidak lagi mempersiapkan jari"nya diatas mixer menunggu waktu yang tepat untuk call sign, tema" yang selalu menjadi andalannya agar siaran tidak 'itu-itu melulu' pun sudah tidak lagi tersaji manis diudara, gelak tawa yang mungkin menjadi sebuah kewajiban untuknya sudah asing terdengar. Aku tidak berhenti dari dunia ini, aku hanya menutup mulut sebentar untuk menjadi lebih besar, aku tetap belajar dengan mendengar, aku masih mencintai tiap feeder di atas mixer, tiap list lagu yang harus terus berputar, tiap sapaan kepada pendengar yang entah sedang apa saat aku berbicara, aku mencintai setiap hal kecil yang berada didalam ruang siaran.

Bocah itu masih mendengarkan radio dipaginya, sebuah radio yang entah apa merknya, pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, pagi hari diantara memakai baju seragam putih-birunya, pagi hari saat menunggu giliran mandi. Pagi hari adalah waktu yang luarbiasa untuknya karena disana ia lagi" menemukan teman yang akan menemani sebelum bercengkrama dengan teman" sebenarnya, dengan lagu" hits yang selalu diputar oleh sang kawan yang hanya suara saja yang ia kenali, pagi menjadi sangat luarbiasa sepertinya.
Selama SMA ia tetap berteman dengar suara" yang berada dispeaker radio tersebut, bahkan ketika ibunya bertanya mau jadi apa? ia menjawab bahagia "Jadi penyiar mah,". Kuliah ia mencoba merealisasikan cita-citanya, voilaaa... ia diterima disebuah radio eks radio kampus didaerah dan selama empat tahun ia bekerja disana dengan gaji 'kalo ada ambil, kalo gak yah, gimana lagi', bukan hanya jadi penyiar ia juga mengetahui lebih banyak tentang dunia radio disini, ups, tidak... mungkin masih sangat sedikit, sekali lagi tadi radio yang ditempatinya hanya radio kecil.

Empat tahun... Yah empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempelajari banyak hal, empat tahun juga yang mengantarkan aku menuju pintu gerbang radio-radio yang lebih hebat, teringat suatu hari dimana aku menjadi seorang penyiar tamu disalah satu radio yang ratingnya paling tinggi dikota ini dan ditawari untuk menjadi salah satu bagian dari radio tersebut dan aku tolak, lalu datang lagi tawaran dari salah satu radio populer anak muda dan sekali lagi aku tolak. Sombong? Pilih-pilih? Bukan, hanya sebuah kebodohan yang mebuat aku menolak tiap tawaran tersebut hanya karena sebatas angka" dalam nominal rupiah atau pilih" radio dengan label 'terbaik' dikota ini. Aku hanya manusia yang selalu ingin berkreasi, berteriak lantang tentang kebebasan, membuka pintu selebar"nya untuk passion yang tak terbendung, aku ingin mandiri dengan caraku sendiri, aku ingin berlari dan melawati kerikil" tajam, aku ingin menjadi diriku yang mendobrak dunia tanpa harus menjadi budak dari keperkasaan sang waktu.


Aku masih ingin tertawa lepas diruang siaran, aku masih ingin merasakan dinginnya ruangan itu, aku masih ingin memutarkan lagu" sendu peneman malam, aku masih ingin bercerita banyak hal disetiap siaran, menyuguhkan tema" aneh lagi, lagi, dan lagi, aku masih ingin meneriakan call sign diakhir outro lagu, aku masih ingin mengangkat telpon pendengar dan mendengarkan cerita mereka... aku ingin... Someday, sama seperti hal-hal lainnya yang masih menjadi rahasia, aku akan meraih kembali mimpiku ini, berdiri menatap kedepan, mempersiapkan amunisi, mengasah kata demi kata dan kembali ke medan 'perang'. Aku percaya, di tempat yang lebih hebat, dengan tantangan yang luarbiasa, kembali menjadi pribadi bodoh yang terus belajar atau bahkan berlari sampai terengah-engah untuk meraihnya, demi menjadi pemenang dan menggengam setiap kata bernama impian yang tertempel erat dilangit-langit imajinasiku.


~Riczky Syaputra, Announcer & Off Air Manager of Jingga Radio, Padang.

Rabu, 11 April 2012

Dunia Mimpi

"Hari ini bahagia. Setengah perasaan cintaku padamu sepertinya memudar :)" - @falafu

Memudar, seperti senja yang tak lagi mau menyapa...
Memudar, seperti matahari pagi yang tak lagi membangunkan...
Memudar, seperti tetesan hujan yang enggan menghujam bumi...
Memudar, seperti Seorang Ratu yang meletakkan mahkotanya lalu pergi...

Ya sudah, toh semuanya memang pasti akan terjadi, yang aku ingat dulu aku begitu ganasnya dalam memaki diri sendiri, begitu brutalnya dalam menyalahkan hati, tapi sekarang tidak.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, mungkin dihari kemarin aku masih hidup diantara mimpi-mimpi kosong, lalu hari itu aku terbangun dan banyak hal yang ternyata menungguku. Aku memiliki sahabat-sahabat luarbiasa yang setia untuk berlari bersama dan menggapai cita, mereka tidak akan menungguku untuk hal-hal remeh, Aku memilih untuk terus berlari. Aku memiliki banyak pekerjaan yang membutuhkan tangan dan otakku ini agar segera terselesaikan, mereka hanya akan luntur dan tak lagi ada jika aku memilih untuk berdiam diri. Aku memiliki sebuah prioritas bernama 'Kuliah', sejak dulu aku bukan orang bodoh dan sebuah tambahan nama bertitelkan S.T. harus segera kusandang. Mereka lah yang membangunkanku dari mimpi tentang dirimu dan semua hal tentang kamu.

Bye, Merry Strawberry...


Minggu, 10 April 2011

Gege dan Cinta didalamnya


-Gege Mengejar Cinta- Adhitya Mulya

Buat mas Adit, pertama mohon maaf karena isi blognya bukan berupa review buku mas, tapi lebih dalemnya ini cerita yang inspiring banget. Yeah, let’s take a look, kamu” semua udah ada yang pernah baca buku ini? Gw baca buku ini taun 2007, diterbitinnya sih taun 2004. Gw adalah orang yang recommend buku ini buat lo” semua yang saat ini sedang mengejar cinta.

Gege (Geladi Garnida) namanya seorang cowok lugu dan chubby yang pada saat ini kerja disebuah station radio, dan satu hal yang luarbiasa adalah Dia belum pernah pacaran. Yap, dia belum pernah pacaran sejak pertama kali ngasih bunga ke cewek yang dia suka sejak jaman SMP, cewek itu namanya Caca, cewek cantik yang baik, sederhana n alim (yah, a lil bit perfect) tapi gw berani jamin koq kalo cewek kayak gitu emang ada.
Tadi gw bilang kalo ini bukan review bukunya mas adit, tadi sekedar gambaran aja tentang Gege dan Caca yang dipertemukan lagi pada saat Gege udah 27tahun, begitu juga dengan Caca. Mereka ketemu lagi dan ternyata bekerja digedung yang sama.
“Every little thing she does is magic, Every thing she does just turns me on, Eventhough my life before was tragic, Now I know my love for her goes on”
(The Police -  Every little thing she does is magic)
Satu hal, yang harus kita tau adalah “kita ga akan pernah tau kapan atau dimana kita akan bertemu dengan seseorang yang dulu pernah berarti diHati kita”, sedikit klise sih, tapi bener kata orang kalo jodoh gak akan lari kemana-mana.

Gege suka caca sejak jaman SMP, tapi caca gak pernah tau akan hal itu, Gege hanya diam, mengamati Caca dari kejauhan, yah dari kejauhan. Rutinitas seperti itu bikin Gege tau berapa no. Sepatu Caca, Jam berapa Caca pulang ke rumah, Siapa yang jemput Caca dan semua tentang caca. Ini yang dibilang orang secret admire atau bahasa Indonesia-nya “Cinta Diam-Diam” yah kita yang merasakan hal seperti ini hanya bisa diam, ga tau harus berbuat apa, ga tau harus melakukan apa, karena mungkin Apel yang kita ingin raih dipohonnya terlalu tinggi untuk digapai sehingga menunggu pohon itu terjatuh adalah satu-satunya harapan, meskipun kita tidak pernah tau tahun berapa apel itu akan terjatuh.

“A tree falls in a forest with no one hearing it. Does it really fall?”
Disini gw nyoba buat share, Sumpah ga ada gunanya yang namanya “Cinta Diam – Diam” (frontal)  karena Cuma ada satu orang yang tersakiti, dan itu LO SENDIRI. Dia ga pernah tau lo suka sama dia, tapi lo selalu deg-degan ketika dia lewat didepan lo, dia ga pernah tau lo itu hobbynya apa, tapi lo selalu betah buat nunggu dia sekedar lewat didepan lo dan berharap senyum didepan lo. Ini yang menyakitkan, ketika lo berharap tapi harapan itu semu. Ketika lo mencoba menyayangi tapi rasa sayang itu tak terbalas, Pedih.

“Twenty Years From now you will be more disppointed by the things you didn’t do than by the One’s you did” –Rio, Traxtroopers

Yah, ini motivasi banget buat gw. Bener kan, lo Cuma bakal nyesalin sesuatu yang ga pernah lo buat dibandingin sesuatu yang udah lo lakuin. So, What are you waiting for? Just Move On. Kejar cinta lo, sampai lo dapet jawaban pasti tentang semua perasaan, apapun jawabannya.
Back to Gege, finally he meet Caca n ngeberaniin diri buat yah paling ga ngobrol atau kenalan balik lagi Caca, caca yang baru aja balik dari luar negeri mungkin blom punya banyak temen dan mau begitu sosok Gege dateng. Caca ternyata kenal engan gege, tau nama Gege, Buat orang yang sedang kembali menemukan cinta mungkin ini adalah sebuah keajaiban. But the question is “DO YOU REALLY KNOW ME?”.

Gege yang sekarang bukan Gege yang dulu jaman SMA lagi, Gege yang sekarang bisa dibilang ga mau kehilangan seseorang dihatinya lagi, Gege bisa dibilang lebih berani, berani buat ngajak ngobrol Caca, berani buat ngajakin Caca makan siang dan sifatnya yang humoris emang udah kentel banget dari jaman dulu. It gonna makes easier.

Satu chapter favorit gw ada dibagian ketika Gege ngajak Caca makan siang di restoran jepang, they had conversation.
 Gege bilang “Kamu gak pernah berubah dari kecil” Caca terdiam bingung,
 “Muka Kamu selalu memerah setiap kamu ketawa. Kayak kepiting rebus.”
“Kok kamu tau?”
 “you’d be surprised by the things i know about you...”
Selesai makan siang Gege ngasih sesuatu ke caca, Gege bilang itu adalah sesuatu dari masa lalu.
Sesampainya di kantor, bungkusan itu dibuka Caca. Sebuah bunga matahari yang kering, Bunga ini pernah dipetik Gege pada awal pertama dia ngobrol bareng Caca.
Sebuah tulisan
“Bogor, 1990
Ini punya saya.
Punya Kamu masih ada?” Geladi Garnida
Yippiiie... ini dia nih, aaaaargh! Kalo bahasa padangnya “masuak olahannyo.” Entah kenapa gw sangat terinspirasi dengan Gege, dengan kepolosan dia, ups, lugu lebih tepat kayaknya. We should be the man at the right place, yup... hal ini dibuktiin Gege yang bisa dengan cara seperti itu. Semua kebodohan dia jaman dulu hilang, lepas dengan kata-kata diatas. Dan sampe sejauh ini gw jadi cowok, gw selalu mikir ternyata wanita suka dengan hal-hal kecil yang kita kasih buat mereka, ini semua bisa ngalahin lo yang ngasih dia sebuah cincin emas, ato kalung emas. Gw juga pernah dikasih tau temen gw, kalo cewek suka ketika tangannya digandeng ketika nyebrang, mereka juga lebih memilih satu kecupan didahi, daripada puluhan kali ciuman dibibir #damnitsfact (silahkan dipraktekkan, i’ve been tried).

Ketika lo bisa berada disebuah moment dimana dia butuh lo, itu bener” bikin dia sadar kalo lo itu ada buat dia, lo bisa ngelindungin dia, lo bisa ngejaga dia, lo bisa jadi seseorang buat dia, paling ga jadi orang yang ngingetin dia makan atau pulang ketika dia focus dengan tugasnya, it’s worth.
Bersambung yah... Next Post kita bahas Quote yang udah gw rangkum di buku ini.

love like coffee, make us keep awake...


P.S.: Terkadang kita tidak mengetahui cinta seperti apa yang kita cari, Rasa seperti apa yang kita rasakan,  Hubungan seperti apa yang kita inginkan. Cari tempat untuk sendiri, bayangkan orang tersebut, ingatlah hari-hari bersamanya, tanyakan hati kamu, seperti apa dia selama ini? Rasa apa yang mungkin akan ia berikan. Jika kamu tersenyum setelah itu, itulah cinta.

"Apakah dirimu yang mampu membuat hatiku bagai melayang diawan, Apakah dirimu yang mampu membuat hatiku bagai terpanah asmara... dan kuyakin itulah cinta" #Naif - Itulah Cinta