Tampilkan postingan dengan label Life happens. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life happens. Tampilkan semua postingan
Selasa, 10 Oktober 2017
Menagih Janji
Dear yang telah melupakan dan dilupakan...
Hey, kamu... Apa kabar? Masih menjadi kamu sampai hari ini? atau sudah berubah karena mengganggap beberapa sesuatu yang bias lalu kamu definisikan "Gila".
Lima Tahun! Yap... Sudah lima tahun, sejak hari dimana aku menanyakan sebuah mimpi, lebih mungkin, tapi biarlah aku masih belum bisa bercerita banyak dengan mimpi itu. lalu kamu? mungkin secangkir kopi hitam pahit kesukaanmu tidak akan sanggup menjadi peneman cerita dari semua yang sudah kamu lakukan. Maaf kalau mimpiku berubah, banyak hal yang membuat tanganku tak mampu lagi menggapai cerita-cerita manis yang kutuliskan dalam secarik kertas.
Hey, kamu... Sudah berubah kah selera musik kamu? atau kita masih memiliki cara pandang yang sama mengenai nada? tentang aksara yang meneduhkan, tentang daun yang berguguran, tentang hujan yang melukis langit, tentang waktu yang bergerak mundur. Tahu tidak? terkadang pola pikirmu merusak duniaku, merusak tiap syaraf tingkah ku, maaf jika aku tak lagi mengagumimu, sepertinya lima tahun cukup untuk mengagumimu, ingat! hanya kagum, tak lebih. Oh iya, kalau selera musik kita masih sama, aku merekomendasikan Payung Teduh ya? Band ini sama seperti wajah kamu, selalu meneduhkan.
Hey, kamu... masih ingat cerita kita? tentang ombak, asap dan perjalanan. Ah, sudahlah... aku lupa bahwa aku gila, cerita itu pasti sudah terlupakan, semoga suatu saat ada mimpi yang membawanya ke dalam ingatanmu ya. Oh iya kemarin aku mencarimu, tak kutemui, sepertinya aku masih bodoh dalam mencari, mungkin takut tertangkap basah bahwa aku sedang mencari, sama seperti halnya kamu yang selalu bersembunyi. Ingat tidak hari itu? aaaah... betapa bodohnya aku untuk memaksamu mengingat hal-hal tidak penting itu. Tapi biarlah, yang penting aku senang. Ingat tidak hari itu, hari dimana kita berjanji akan saling culik menculik, hahaha... Watu itu aku pikir kita ini seperti dua anak kecil yang bernyanyi riang ditaman yang penuh mainan.
Hey, kamu... bertahun-tahun kita tak saling sapa, entah karena mimpi kita yang tak lagi sama atau mungkin cerita kita yang telah berbeda. Aku sadar betul bahwa aku telah menyimpang jauh dari rel yang seharusnya, tapi aku 100% yakin kamu masih berjalan di trek yang sama, betul kan? kalau tidak bagaimana bisa kawanku mengabari kehadiranmu di sore itu sedang bermain-main dengan mimpi-mimpimu. Mungkin jikalau aku hadir dan menyapa... aaah tidak, tentu saja aku tidak akan menyapamu terlebih dahulu, untuk apa? toh kata-kata selamat tinggal pun tak pernah terucap.
Hey, kamu... bagaimana mungkin hari itu kamu bisa kembali menyapaku? bagaimana mungkin layar di kaca handphone ku kembali menghadir namamu? Oh iya. aku baru tersadar setelah beberapa baris kalimat dari mu. Sebuah undangan pernikahan yang kamu tautkan bersama sebuah gambar beserta denah tempat diberlangsungkan resepsi dan akad nikah. Aku bergumam "Oh, akhirnya setelah sekian lama" lalu kubalas dengan ucapan maaf karena aku sedang berada di lain kota karena pekerjaan. Entah kenapa aku harus meminta maaf, tapi hari itu doaku tulus untukmu, agar semua proses berjalan dengan lancar dan kamu diberi kebahagiaan bersama priamu, sungguh aku tulus dan terima kasih telah mengundangku.
Padang, 2014
Rabu, 16 Agustus 2017
Sementara
"Sementara akan kukarang cerita, Tentang mimpi jadi nyata... Untuk asa kita berdua."
“Apa Kabar?”
Dua buah kata yang
bagaikan memberi makan ego, memekarkan bunga yang hampir layu kembali, dan
menjawab semua tanya tentang ruang waktu yang sempat terlompati. Hari ini, rindu terobati...
entah esok, entah lusa, yang jelas hari ini ia sembuh.
Semesta memainkan
perannya di tengah asa yang memudar, Waktu seolah bergerak sinusoidal untuk
menjemput kembali, diantara langkah kaki yang nyaris tak pernah beranjak.
Diantara cerita-cerita yang masih berjejak.
“Aku Rindu...”
Klise untuk
mengatakan tentang rasa yang sebenarnya, klise untuk menafikan diri untuk
berkata jujur. Biarlah rindu berada diujung dahi kita masing-masing tanpa
pernah terucap. Paling tidak binar mata tak mampu berbohong.
Seolah hari ini aku
kembali menggali kotak yang berisikan kumpulan cerita dan memainkannya kembali
hanya untuk mengenyangkan rindu. Lagi-lagi bibirku tersenyum mengenang
semuanya, karena hanya waktu yang kala itu mengalahkan setiap pertemuan. Karena
setiap cerita bersamamu begitu menyenangkan, meski hanya mendengarkan
ceritamu di sebuah sudut rumah kopi yang bahkan tak kamu sukai.
Kanvas imajinasiku
berlari-lari melukiskan detail garis waktu kala itu, menghapus hadirmu adalah
hal tersulit bagiku, di momen terburuk serta terhebat yang diselingi wajahmu, sang kuas menari-nari
lincah, lalu berhenti untuk menambahkan sesuatu; entah air mata atau lengkungan
senyum.
Seperti hari itu,
di momen terhebatmu yang sekaligus salah satu momen burukku, mengamatimu dari
jauh adalah salah satu kebodohanku kala itu, tapi aku memang sebodoh itu, demi
menunggu dan mengabadikan senyuman banggamu dari jauh dan mendapati engkau yang
tersenyum riang bersama pria mu kala itu...
di hari wisudamu.
Kita adalah
lingkaran waktu yang kembali ke titik asalnya, yang membedakan adalah
kematangan dan bagasi kenangan masing-masing. Biarlah semesta berkonspirasi,
menemukan celah-celah kehidupan yang entah bergerak kemana. Menuju akhir cerita
dan memastikan setiap rasa, yang jelas hari ini adalah bahagiaku, entah esok atau lusa.
“Percayalah hati lebih dari ini, pernah kita lalui. Takkan lagi kita jauh melangkah... untuk sementaraaaa.”
Solok, Sumatera Barat.
Kamis, 01 September 2016
Dark Alley
Tentang sebuah malam yang entah mengapa begitu sunyi
Tentang sebuah cerita yang entah harus bahagia atau menangis
Sementara, aku berkawan dengan riangnya geliat kelelapan
Berjalan sendirian menuju tempat melihat angkasa
Memikirkan cara melangkah menuju jalan terang
Lalu meninggalkan semua yang kelam.
Tak ada yang selamanya, begitu juga sepi yang melekat
Warna-warna berlari-larian lalu bintang melukis riuhnya
langit
Seakan memohon untuk digapai menggoda hasrat
Biarkan… Biarkaaan…
Berdiam dan terdiam berkawan, berpegang tangan manja
Demi membunuh sisa-sisa kehidupan yang terkikis
Waktu berjalan cepat mengingatkan setiap kosong
Berlari tapi hasrat bermimpi bak palang henti.
Tak ada yang selamanya, begitu juga badai yang menerjang
Ada saatnya menyapu serpihan kekhawatiran lalu menggapai
Waktu tak akan dapat menahan ego yang begitu kuat
Biarkan… Biarkaaan…
Besar menjadi kecil, lalu kecil perlahan membesar
Bukan mati diterpa duniawi, bukan hancur dimakan arang
Senin, 09 Mei 2016
Setengah 5 Sore
Selamat malam pemilik suara yang meneduhkan, hari ini aku memimpikanmu, entah kenapa semua hal tentangmu seakan merasuk dan mengembalikan cerita lampau, di mimpiku kamu tersenyum, sebuah lengkungan yang lama tak ku lihat di bibirmu. Aku menari bersama sang malam, aku bertamasya dengan kelam, malam terasa begitu bergelora ketika pintu mimpiku kau ketuk.
Mereka bilang mimpi tentang seseorang mengartikan adanya rindu dari tokoh di alam mimpi, ah biarkan tafsir-tafsir itu bermain. Mungkin alam bawah sadarku yang merindukanmu, merangkai kisah yang sempurna lalu hancur ketika pagi menguratkan cahayanya. Mimpi itu hanya datang sekali, sekali namun di masa yang melonjakan semua rindu. Entah rindu entah kekecewaan, aku sudah tak dapat membedakan.
Peri kecil seolah berbagi kebahagiaan dan menceritakan semua dongeng romansa. Menurutku cinta tidak begitu syahdunya, biarlah aku menjadi antagonis yang mengerutkan kening, menjadikanku matahari garang yang pergi ketika malam tiba. Pangeran berkuda putih dengan pakaian menawan tak selamanya berkawan. Mimpi alam bawah sadar lebih realis dari dongeng Cinderella. Biarlah perlahan buku ini tertutup hingga halaman terakhir.
Jarak mengambil perannya, jarak menemukan maksudnya lalu berhenti di titik akhirnya. Kenangan tersimpan, keraguan berkawan. Rindu telah mati dibunuh sepi, perjalanan tak mencapai tujuan. Haru menjadi lawan, sendu bersemayam. Sesungguhnya waktu adalah jawaban, tak ada yang tak pernah sembuh oleh waktu. Namun begitulah, tak selamanya juga pagi terlalu cepat datang.
Sudah saatnya aku berkemas, meninggalkan nyanyian burung di taman yang sedang bermesraan manja dengan kenangan. Menghidupkan rindu-rindu lain, memupuk dan merawatnya. Bukan menanam luka meski kita tak pernah saling membenci.
Rabu, 16 September 2015
Senja yang terbuat dari rinai hujan
Bau kopi-nya semerbak, Suasananya terkesan vintage dengan nuansa kayu yang berwarna coklat menuju krem, interior dengan segala ornamen-ornamen dan ambience yang temaram menemani sore yang akan segera berganti menjadi gelap. Aku masih asyik menghisap rokok ku sambil sesekali menghirup kemasan biji kopi yang terletak di meja barista, biji kopi sachet besar yang sengaja diberi bolongan-bolongan agar bau-nya dapat dirasakan tanpa harus membuka kemasan, seandainya kamarku memiliki wangi seperti ini aku pasti mudah terlelap.
Jakarta hari itu seolah tak mau meninggalkan persona-nya secuil pun, kemacetan di tambah hujan sore itu memaksa para pegawai seirama menepikan kendaraannya sejenak, termasuk diriku. Sebenarnya bisa saja aku pulang dengan mantel motor ke rumah lalu segera merebahkan badan, toh rumah ku tak sejauh para pegawai di kantorku yang lain, tapi aku benci rutinitas, kali ini sengaja kuparkirkan vespa ku di sebuah coffee shop yang memang barista-nya sudah ku kenal beberapa bulan terakhir.
"Nih Boi, pesenan lu. Hot Chocolate dan ini gula lo" Redy menyerahkan pesananku ditambah dua sachet gula rendah kalori. Ia tahu kalau aku selalu memakai gula yang ku bawa sendiri sejak hari pertama aku duduk di 'Ruang Kopi'.
"Makasi Boi..." Jawabku sambil meletakkan sachet besar biji kopi yang sejak tadi asyik ku mainkan dan ku hirup.
"Oiya Boi, gue tinggal bentar yah? Gue mau ngambil susu dulu, stok tinggal sedikit nih."
"Okeh"
"Ntar kalo ada apa-apa, sama Arina aja yah" Redy menunjuk salah seorang barista yang baru pertama kali kulihat hari itu. Arina terlihat mengangguk tanda meng-iyakan, barista baru sepertinya, wajahnya nampak innocent dan ada sedikit ketakutan kala ditinggal Redy.
"Ooooh okeh sip..."
"Arina yah namanya? baru disini ya?"
"Iyah mas, baru dua minggu, part time aja disini sambil skripsian soalnya, jadi lumayan banyak waktu"
"Oooh iyah. Bulan lalu aku kesini belom keliatan kayaknya, aku Tama" Kita saling mengangguk tanpa bersalaman
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ruang Kopi adalah salah satu tempat yang menjadi saksi dalam perjalanan cerita ku, perjalanan dalam mencari seseorang yang ketika melihat atau bersamanya dalam pikiranku akan mengangguk dan berkata "She's the One".
Sahabat-sahabatku kadang menyebut diriku seorang yang 'picky', setelah aku beberapa kali menyudahi pendekatanku dengan orang-orang yang dikenalkan sebelum benar-benar dekat, aku selalu menyanggah disebut pemilih seperti yang dilabeli mereka.
"Gak ada yang sempurna Tam, inget ada satu hal yang gak akan pernah bisa lo lawan, waktu" Tegas Gege mengingatkanku. Gege adalah salah satu sahabatku yang pernah mengenalkan teman kantornya denganku, dan berakhir hanya sekali pertemuan dan tiga kali telponan.
"Apa yang salah dengan mencari seseorang yang memiliki satu hobi sama gue?"
"Aduuuh Tam, apa sih yang kurang dari seorang Sean, udah cantik, karirnya bagus, dan yang penting dia ngasih lampu ijo, kenapa lo malah berenti sih?" Kali ini Reisa yang sibuk menceramahiku setelah aku tak lagi menghubungi sepupu jauhnya.
"Gak ada chemistry, gue ngerasa she's not the one." Jawabku lemah.
"Terus lo masih mau nyari cewek yang sesuai sama hobi langka lo itu? Baca buku Pramoedya Ananta Tour dan Puisi Sapardi Djoko Damono, atau mendengarkan lagu dari Band band indie berkesan jadul yang entah apa judulnya dari vinyl di kamar lo itu? ingat Tam, sekarang 2015." Reisa sudah mulai gerah dengan statementku tadi.
"Gak gitu juga, gue mengidolakan wanita yang suka membaca buku, gue mengangumi aksara dan gue harap dia sama, gak harus sastrawan atau penyair, gue menyukai banyak penulis muda, Aan Mansyur, Adhitya Mulya, Pidi Baiq, dan banyak lainnya. Begitu juga musik, Gue mencintai setiap not yang dihadirkan oleh musisi idealis, bukan pengejar pundi pundi rupiah yang semakin gak jelas arah rimbanya. Dialog dini hari, Sore, Balllad of the Cliche, Banda Neira, atau sekelas Efek Rumah Kaca contohnya."
"Waktu jalan sama Sean, ku dengar ringtone handphone-nya bunyi, Armada - Pergi Pagi Pulang Pagi" Sambungku beberapa saat setelahnya, nampak Reisa menahan ludah mendengar statementku, Gege tertawa lepas.
"Mungkin dia Armada Ranger garis keras! Hahahaha... Waktu lo pergi sama dia, dia gak pake kaos A4P kan? Armada Pergi Pagi Pulang Pagi? Hahahaha" Gege masih asyik dengan imajinasinya sambil asyik tertawa.
"Tam! Oke gue akuin kalo selera musiknya gak sama atau se-asyik elo, tapi itu kan bagian dari selera, lagian juga elo masih bisa ngubah semuanya kan? Sisi bagus dia masih banyak kok!" Reisa seolah membenarkan namun masih tak ingin kalah.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari sudah menunjukkan pukul 20.40, aku masih terhanyut dengan kesendirianku hari itu, ditengah sebuah tempat bernama Ruang Kopi yang pekat aroma kopi dan nuansa kayu, aku mengagumi interior dan ambience yang dihadirkan di ruangan ini. Hujan sudah mulai berdamai dengan jalan Jakarta, satu persatu pengunjung kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Arina sedang sibuk membereskan meja sisa pengunjung, mencucinya dan sesekali tersenyum ketika lewat dihadapanku. Wajahnya terlihat sederhana tanpa banyak polesan seperti wanita kebanyakan, apron yang ia kenakan terlihat matching dengan jilbab coklatnya. Kuperhatikan ia sibuk memainkan handphone-nya dan sesaat kemudian dicolokkan ke main speaker.
"Semesta bicara tanpa bersuaraSesaat aku terkejut, terdengar jelas suara dari Ananda Badudu dan Rara Sekar merangkum satu ruangan bernama Ruang Kopi malam itu, Arina terlihat tersenyum sendiri, wajahnya teduh dan terlihat senang mendengar lagu yang ia putar dari iPhone-nya.
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah"
"Mas, saya Sholat Isya dulu ya? Nanti kalo ada pelanggan minta tolong suruh duduk aja dulu ya mas?" Arina bertanya dan hanya kujawab dengan anggukan.
Lalu ia mengambil mukena yang terletak didalam tas-nya seraya mengeluarkan buku lalu memasukkannya kembali, Aku tau buku itu dari sampulnya, sebuah buku yang baru-baru ini ku beli di Gramedia. 'Sapardi Djoko Damono - Hujan Bulan Juni'.
"Arina, itu buku-nya Sapardi? Hujan Bulan Juni?" Kupastikan penglihatanku tak salah.
"Iya mas," Jawabnya heran
"Suka?"
"Menurut aku, gak ada penyair lain yang bisa mendefinisikan hujan seindah Sapardi Djoko Damono" Aku tersenyum sambil memerhatikan kedua mata Arina yang terlihat canggung.
"Permisi Mas".
“tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinyayang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
Padang, 6 Agustus 2015
Minggu, 26 Juli 2015
Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Entah kenapa aku ingin menulis tentang mu hari ini (lagi). Tentang kamu yang hilang tapi masih dalam jangkauan. Tentang kamu yang entah kapan mendeklarasikan selesainya percakapan kita. Tentang kamu yang membangun tinggi-tinggi sebuah perbatasan agar aku tak dapat memanjatnya, padahal cukup kamu bilang 'Stop' saja aku tidak akan berani masuk selangkah pun, ya aku sebegitu penurutnya.
Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Aku belum bodoh, terlebih gila... Setiap neuron di pikiranku masih berfungsi selayaknya, seperti hal-nya percakapan-percakapan santai kita di awal pertemuan, seperti cerita-cerita yang selalu kamu bagi setiap malamnya, seperti aksara yang terkirim melalui smartphone kita, semua nya normal dan terjadi begitu saja. Ya, sebelum lahirnya ekspektasi atau gurauan orang di sekeliling kita, mungkin awalnya semua adalah rahasia.
Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Sungguh satu persoalan pun tak aku mengerti tentang cerita ini, kamu yang datang, kamu yang tertawa, kamu yang menangis, kamu yang bercerita lalu kamu yang pergi, seperti lucid dream yang tiba-tiba terbangunkan, awalnya semua seolah nyata, seolah wajah yang ku tatap dekat itu benar milik mu, seolah suara yang kudengar itu tepat suara mu, lalu aku tersentak dan semuanya bohong. Tidak ada lagi suara yang menceritakan entah tangis entah tawa, tidak ada lagi referensi tentang musik yang secara kebetulan selera kita sama dan sama seperti mimpi, semuanya tanpa penjelasan.
Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Secangkir ekspresso panas tanpa gula, uuuh... membayangkannya saja sudah terasa betapa pahit ketika mengalir di kerongkongan, tapi kamu meminumnya dengan santai lalu berbincang hangat. Deburan ombak mungkin akan selalu menjadi hal yang kuingat tentang dirimu, semoga sama halnya seperti kamu, tidak usah kita ceritakan lagi, mari kita masukkan ke dalam kotak biar terkunci rapat lalu ku buang ke tengah lautan, yang pasti aku masih akan selalu mengingat isi di dalam kotak itu.
Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Kita bercerita tentang gunung, tentang laut, tentang pantai tentang ombak. Asap rokok yang bergumul, ampas kopi yang menggumpal, lantunan musik yang semarak di udara, lalu selipan rahasia yang terekat. Kamu yang menyadarkan aku kalau dunia ini adalah sebuah playground untuk berpetualang, atau hanya berlari-larian dengan pemandangan belakang pegunungan atau pantai yang kamu sukai. Ya, setiap tempat mempunyai rasa-nya masing-masing, memiliki cerita yang dibubuhkan untuk di kenang sewaktu-waktu dan kamu yang menutup semua cerita ini tanpa tanda titik. Dan aku yang masih saja menunggu kamu untuk menutup dan memberikan tanda titik di akhir cerita ini.
Rabu, 08 April 2015
Untukmu yang kujumpai di hari senin
Hari ini aku seolah terbang kembali ke masa lalu, sebuah harddisk dari komputer lama berhasil diperbaiki teman kantorku, kupindahkan semua file yang berada didalamnya, file-file yang sudah sangat lama tak pernah kulihat. Sebuah folder bertuliskan 'Segala yang indah' merangkum satu masa di dalamnya. Masa putih abu-abu, masa yang kata orang penuh cerita, penuh rasa, penuh warna. Aku pertama kali merasakan pacaran pun di masa ini. Terlambat memang kalau melihat teman-temanku yang sejak SMP sudah berkali-kali bertukar pasangan tapi ya sudahlah, toh ini bukan sebuah perlombaan.
Sebuah Mp3 player dan kamera pocket adalah barang wajib selain buku pelajaran yang selalu ku bawa setiap harinya menuju ke sekolah. Mp3 player yang menjadi teman ku dijalan selama perjalan menuju ke sekolah jalan kaki, yah sekolah ku tidak lebih dari 500 meter jaraknya, dan kamera pocket yang memaksa ku menghabiskan seluruh tabungan demi merangkum cerita melalui gambar-gambar didalamnya.
Sosok didalam sebuah foto menyita perhatianku hari itu. Windy Senja Putri, sosok yang menjadi cerita di akhir masa SMA ku, sosok yang sepertinya hanya dia yang memiliki folder khusus di harddisk-ku dengan nama "Senja", sama seperti nama tengahnya. Satu hal yang menjadi pertanyaan ku saat ini "Sudah Menikah?"
Hari itu hari senin, aku diingatkan oleh sebuah foto yang terpampang dilayar komputerku, seorang gadis mungil dengan baju putih dan rok putih duduk disebelahku sambil mendengarkan Mp3 milikku tanpa menatap ke kamera, begitu juga dengan diriku yang tepat disebelahnya. Sebuah foto yang diambil candid oleh seorang temanku, sepertinya kita sedang asyik mendengar lagu sambil melihat pertunjukkan yang digelar disekolah.
"Kamu mau jadi apa suatu hari nanti?" tanyanya didalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Aku... hmmm, aku pengen jadi orang yang bisa keliling dunia. kenapa nanya begitu?"
"Pengen tau aja, aku pengen jadi dosen, lulusan luar negri, hmmm... paris." jawabnya sumringah
"Amiiin." kuperhatikan wajahnya, ada senyum kecil disana, lesung pipinya semakin dalam akibat senyum itu, pandangannya asyik ke arah jalan.
Kembali kuperhatikan foto dilayar komputerku,melihat-lihat foto lainnya dan berhenti pada sebuah foto yang menampilkan sebuah band dengan vokalis perempuan, acara promosi provider disekolah, satu hal yang kembali menyeruak dalam ingatanku adalah hujan. Yap, hari itu senin dan hujan. sang vokalis dan bandnya seolah tidak perduli dengan rintikan hujan dilapangan pagi menjelang siang itu, lagu yang dinyanyikan berjudul "I Will Fly" lagu romantis yang juga ada di Mp3 playerku. Aku meng-capture gambar hari itu dari kamera pocketku dibawah pohon rindang bersama kamu yang tepat berada disebelahku, menikmati setiap nada, merasakan setiap kata. lagu selanjutnya kembali dinyanyikan, "Love is You - Ten 2 Five".
"Kamu tau kan?" tanya-nya dengan nada setengah tinggi
"Tau apa? Kamu ngomong apa sih? kok tiba-tiba marah begini"
"Aku tau kalo kamu tau semuanya kok Tam... Tentang hubungan aku"
"Sama dia? Iya aku tau, aku tau semuanya" kupotong kata-katanya, nada bicaraku ikut tinggi
"...." suasana dikelas hening dalam beberapa waktu, terlihat wajahnya yang menahan tangis
"Aku takut Tam, aku takut, aku semakin nyaman sama kamu" Bicaranya tertahan, mungkin oleh air mata.
"Aku sayang sama kamu Win, itu aja... aku gak perduli tentang dia"
"Tapi aku perduli..." Air matanya jatuh tak terbendung, hari itu hanya ruangan kelas yang menjadi saksi.
"....." aku tak bisa menjawab atau sekedar melanjutkan argumen dari kata-kata terakhirnya.
"Sekarang kamu mau kita kayak gimana?"
"Aku gak tau" jawabnya terisak
"Win... Udah nangisnya" kuseka air mata yang menetes dari sudut matanya dengan ibu jariku, entah kenapa, aku seolah tak sudi membiarkan pipinya dibasahi air mata, terlebih karena diriku.
"Aku mulai sekarang pergi dari hidup kamu, aku gak akan bersikap seperti kemarin, aku yang bodoh ngedeketin kamu yang sejak awal aku udah tau kamu punya cowok. Maafin aku ya Win, makasih buat lima bulan terakhir ini, kamu tetep spesial buat aku."
"....." Windy masih terdiam, kutinggalkan ia dalam keadaan seperti itu.
Sore hari-nya sebuah sms mendarat di handphone bututku,
"Tam...?"
Kuletakkan HP-ku dikantong celana tanpa keinginan membalas, yah... sejak awal aku tau dan mengerti kondisi ku, Windy sudah menjalin hubungan dengan pasangannya kurang lebih dua tahun, dan setahu ku satu tahun terakhir mereka menjalankan hubungan jarak jauh. Pacarnya yang lebih tua dua tahun harus kuliah di luar kota. Yah, memang aku si bodoh yang mencoba mendapatkan keuntungan dari kondisi ini. Hari itu aku memutuskan untuk menyerah, harus ada yang mengalah dalam hal ini, dan aku lah sang pendosa yang mencoba hadir dan berharap. Kuputuskan untuk pergi, meninggalkan cerita dan rasa yang bahkan sejak awal aku sudah mengetahui endingnya.
Jam hari itu sudah menunjukkan pukul 20.45 WITA, kuputuskan menyudahi berada di depan layar laptop yang sudah menyita waktu ku dari sore hari sepulang dari proyek dilapangan, senin selalu menjadi hari yang padat. Pantas saja, aku belum makan malam ternyata, keasyikan flashback dengan kenangan lama. Kuambil kunci mobil yang tergeletak di meja ruang tamu, begitu pun dengan Handphone ku yang sedang di charge, dua buah notifications dari Path, satu buah surat di mailing list, dan satu buah notification dari BBM.
T: "Hai, Win... Apa Kabar?"
W: "Baik Tam, Kamu?"
T: "Aku baik, Stay dimana sekarang?"
W: "Aku di Jakarta kok, Kamu? Kayaknya sibuk banget ya bapak engineer ini, hahaha"
T: "Gak ah, Aku kan cuma kuli, kamu tuh yang sibuk banget kayaknya sepulang dari paris, menyenangkan ngajar?"
W: "Bangeeet, I love doin' my dream job... kamu dimana sekarang?"
T: "Aku di lepas pantai Kalimantan Timur"
W: "....."
T: "Win."
W: "Ya."
T: "Sudah menikah?"
W: "Belum, belum ada yang cocok kayaknya..."
Perhatianku tertuju kepada secarik kertas diatas meja, sebuah tiket perjalanan yang baru sore tadi kudapatkan. "Hatta/Tama Wira/Mr. BPN - CGK".
Padang, Maret 2015
Sebuah Mp3 player dan kamera pocket adalah barang wajib selain buku pelajaran yang selalu ku bawa setiap harinya menuju ke sekolah. Mp3 player yang menjadi teman ku dijalan selama perjalan menuju ke sekolah jalan kaki, yah sekolah ku tidak lebih dari 500 meter jaraknya, dan kamera pocket yang memaksa ku menghabiskan seluruh tabungan demi merangkum cerita melalui gambar-gambar didalamnya.
Sosok didalam sebuah foto menyita perhatianku hari itu. Windy Senja Putri, sosok yang menjadi cerita di akhir masa SMA ku, sosok yang sepertinya hanya dia yang memiliki folder khusus di harddisk-ku dengan nama "Senja", sama seperti nama tengahnya. Satu hal yang menjadi pertanyaan ku saat ini "Sudah Menikah?"
Hari itu hari senin, aku diingatkan oleh sebuah foto yang terpampang dilayar komputerku, seorang gadis mungil dengan baju putih dan rok putih duduk disebelahku sambil mendengarkan Mp3 milikku tanpa menatap ke kamera, begitu juga dengan diriku yang tepat disebelahnya. Sebuah foto yang diambil candid oleh seorang temanku, sepertinya kita sedang asyik mendengar lagu sambil melihat pertunjukkan yang digelar disekolah.
"Kamu mau jadi apa suatu hari nanti?" tanyanya didalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Aku... hmmm, aku pengen jadi orang yang bisa keliling dunia. kenapa nanya begitu?"
"Pengen tau aja, aku pengen jadi dosen, lulusan luar negri, hmmm... paris." jawabnya sumringah
"Amiiin." kuperhatikan wajahnya, ada senyum kecil disana, lesung pipinya semakin dalam akibat senyum itu, pandangannya asyik ke arah jalan.
Kembali kuperhatikan foto dilayar komputerku,melihat-lihat foto lainnya dan berhenti pada sebuah foto yang menampilkan sebuah band dengan vokalis perempuan, acara promosi provider disekolah, satu hal yang kembali menyeruak dalam ingatanku adalah hujan. Yap, hari itu senin dan hujan. sang vokalis dan bandnya seolah tidak perduli dengan rintikan hujan dilapangan pagi menjelang siang itu, lagu yang dinyanyikan berjudul "I Will Fly" lagu romantis yang juga ada di Mp3 playerku. Aku meng-capture gambar hari itu dari kamera pocketku dibawah pohon rindang bersama kamu yang tepat berada disebelahku, menikmati setiap nada, merasakan setiap kata. lagu selanjutnya kembali dinyanyikan, "Love is You - Ten 2 Five".
Let me love youSenin, sepulang sekolah. Aku sedang asyik nongkrong-nongkrong dikantin sambil menunggu rapat ekstrakuliluker yang kuikuti, rapat pemilihan ketua yang baru. Sebuah sms mendarat di ponsel ku, dari Windy, memintaku menemuinya di ruangan kelas. Aku ingat karena sebuah foto ditengah rapat yang diambil oleh adik kelasku jelas menampilkan mood ku sedang tidak baik saat itu. Ekspresiku ini memang tidak bisa dibohongi, ketika kesal, marah, senang, atau menyimpan sesuatu dikepalaku semua terlihat jelas tanpa perlu ditanyakan.
With all my heart
You are the one for me
You are the light in my soul
Let me hold you
With my arms
I wanna feel love again
Cuz I know
Love is you...
"Kamu tau kan?" tanya-nya dengan nada setengah tinggi
"Tau apa? Kamu ngomong apa sih? kok tiba-tiba marah begini"
"Aku tau kalo kamu tau semuanya kok Tam... Tentang hubungan aku"
"Sama dia? Iya aku tau, aku tau semuanya" kupotong kata-katanya, nada bicaraku ikut tinggi
"...." suasana dikelas hening dalam beberapa waktu, terlihat wajahnya yang menahan tangis
"Aku takut Tam, aku takut, aku semakin nyaman sama kamu" Bicaranya tertahan, mungkin oleh air mata.
"Aku sayang sama kamu Win, itu aja... aku gak perduli tentang dia"
"Tapi aku perduli..." Air matanya jatuh tak terbendung, hari itu hanya ruangan kelas yang menjadi saksi.
"....." aku tak bisa menjawab atau sekedar melanjutkan argumen dari kata-kata terakhirnya.
"Sekarang kamu mau kita kayak gimana?"
"Aku gak tau" jawabnya terisak
"Win... Udah nangisnya" kuseka air mata yang menetes dari sudut matanya dengan ibu jariku, entah kenapa, aku seolah tak sudi membiarkan pipinya dibasahi air mata, terlebih karena diriku.
"Aku mulai sekarang pergi dari hidup kamu, aku gak akan bersikap seperti kemarin, aku yang bodoh ngedeketin kamu yang sejak awal aku udah tau kamu punya cowok. Maafin aku ya Win, makasih buat lima bulan terakhir ini, kamu tetep spesial buat aku."
"....." Windy masih terdiam, kutinggalkan ia dalam keadaan seperti itu.
Sore hari-nya sebuah sms mendarat di handphone bututku,
"Tam...?"
Kuletakkan HP-ku dikantong celana tanpa keinginan membalas, yah... sejak awal aku tau dan mengerti kondisi ku, Windy sudah menjalin hubungan dengan pasangannya kurang lebih dua tahun, dan setahu ku satu tahun terakhir mereka menjalankan hubungan jarak jauh. Pacarnya yang lebih tua dua tahun harus kuliah di luar kota. Yah, memang aku si bodoh yang mencoba mendapatkan keuntungan dari kondisi ini. Hari itu aku memutuskan untuk menyerah, harus ada yang mengalah dalam hal ini, dan aku lah sang pendosa yang mencoba hadir dan berharap. Kuputuskan untuk pergi, meninggalkan cerita dan rasa yang bahkan sejak awal aku sudah mengetahui endingnya.
Jam hari itu sudah menunjukkan pukul 20.45 WITA, kuputuskan menyudahi berada di depan layar laptop yang sudah menyita waktu ku dari sore hari sepulang dari proyek dilapangan, senin selalu menjadi hari yang padat. Pantas saja, aku belum makan malam ternyata, keasyikan flashback dengan kenangan lama. Kuambil kunci mobil yang tergeletak di meja ruang tamu, begitu pun dengan Handphone ku yang sedang di charge, dua buah notifications dari Path, satu buah surat di mailing list, dan satu buah notification dari BBM.
Windy Senja Putri Invited You to chat over Blackberry Messenger.
T: "Hai, Win... Apa Kabar?"
W: "Baik Tam, Kamu?"
T: "Aku baik, Stay dimana sekarang?"
W: "Aku di Jakarta kok, Kamu? Kayaknya sibuk banget ya bapak engineer ini, hahaha"
T: "Gak ah, Aku kan cuma kuli, kamu tuh yang sibuk banget kayaknya sepulang dari paris, menyenangkan ngajar?"
W: "Bangeeet, I love doin' my dream job... kamu dimana sekarang?"
T: "Aku di lepas pantai Kalimantan Timur"
W: "....."
T: "Win."
W: "Ya."
T: "Sudah menikah?"
W: "Belum, belum ada yang cocok kayaknya..."
Perhatianku tertuju kepada secarik kertas diatas meja, sebuah tiket perjalanan yang baru sore tadi kudapatkan. "Hatta/Tama Wira/Mr. BPN - CGK".
Padang, Maret 2015
Selasa, 05 Agustus 2014
Sarjana juga
RICZKY SYAPUTRA, S.T.
21 Juli 2014
Kuliah selama 5 Tahun 5 Bulan
Skripsi doank 1 Tahun
Jadi Lulus 6 Tahun 5 Bulan
whatever!!! i'm graduate now!
21 Juli 2014
Kuliah selama 5 Tahun 5 Bulan
Skripsi doank 1 Tahun
Jadi Lulus 6 Tahun 5 Bulan
whatever!!! i'm graduate now!
Kamis, 16 Januari 2014
Lelaki Yang Menangis
Raut wajahnya tenang, menunggu sepertinya
sudah menjadi sahabat baginya, bisa ia bunuh bisa ia nikmati. Perlahan langit
senja memalingkan wajahnya, mundur secara berkala, merahnya bagai tersipu malu
dan berubah menjadi pekat. Lalu gerimis datang seolah berperan menjadi
penghibur, bermain pantomim dihadapannya, membisu dalam ruang yang ia ciptakan
sendiri. Wajahnya berubah sendu, mungkin bosan atau mungkin juga lelah, ia
menengadahkan kepalanya seolah mencari jawaban diantara awan hitam, hanya
kesunyian yang didapatnya.
Dalam diam air mata lelaki itu berjatuhan,
tetes demi tetes tanpa pernah berani ia seka, diantara gerimis hujan, pekatnya
malam, bintang yang enggan menyapa, dan angin yang menghangatkan. Bibirnya bergumam
seolah ingin berbicara, hanya giginya yang bergemeretakan, matanya berkaca-kaca
mengharu, hari itu... jam itu... adalah
sebuah perpisahan terakhirnya. Sudah hampir tujuh tahun, semua ingatan seakan
bermain-main dipikirannya dan waktu ternyata tidak cukup
tangguh menyembuhkan ingatannya.
Rabu, 20 November 2013
Moment Cihuy!
![]() |
| See? Mosidik is Bigger than me! |
![]() |
| OpenMic1, RumahKopiNunos 19th November 2011 |
Ini OpenMic 1, belom ngerti apa-apa tentang Standup, Premis, Set-up, Punchline, Callback, dan banyak yang lainnya sama sekali gue gak tau, yang mo liat kecupuan gue hari itu silahkan klik disini, tapi hari itu cukup banyak mengundang tawa sik, meskipun gue sendiri kurang puas dengan banyak materi, tapi ini toh cuma OpenMic, gak lucu pun menurut gue pribadi gak masalah. Hari itu tanggal 19 November 2011 dan dikukuhkan sebagai Hari UlangTahun StandUp Comedy Padang, gue juga pake batik hari itu, alesannya? karena setiap perform Mosidik selalu pake batik, hohoho.
![]() |
| @mpuwhcihuy, @dimas_wae, @Pandji, @Praz_Teguh |
Audisi #SUCI4 udah mau digelar, dan Padang jadi salah satu kota yang dijadiin tempat audisi, cuma ada dua di Sumatera, Padang dan Medan. Setelah dapet info ini dari Bayu, gue langsung mikir buat ikut atau gak, gue udah jarang OpenMic, dan gue sering nolak kalo ada Gigs buat perform Stand up, gaktau kenapa, gue lagi ngerasa krisis kepercaya-dirian aja. terlebih ada sebuah Tugas Akhir yang maksa gue buat gak berpaling dari dia, posesif memang. Finally, gue memutuskan buat gak ikut setelah berjibaku nyari materi ditengah malam tapi gak siap-siap karena materi yang gue bikin pada saat itu menurut gue kurang lucu, tapi dalem hati gue pribadi gue pengen ikut, yah itung-itung nyobain gimana rasanya audisi, awalnya cuma sekedar itu. Gue didaulat buat jadi host acara bareng sama Juara 1 Standup comedy season 3 'Babe' yang berasal dari Medan, gue seneng denger kabar ini, tapi ini pertama kalinya ngehost didepan kamera, telebih gue baru tau di H-1 kalo ternyata gue ngehost sendirian dan kamera bakal ngikutin gue buat ngewawancarain yang dapet Golden Ticket di Audisi #SUCI4 Regional Padang. Dafuq, i never did it before, selalu ada yang pertama kali memang, gue gak takut lah buat ngejalaninnya toh paling ntar yang tayang juga sedikit, hohoho.
H-1 acara gue harusnya ketemu sama orang Kompas TV buat briefing, dan gue telat gara-gara mesti nyuci baju ke laundry yang mesti kita sendiri yang nyuci (iya, di padang ada yang kayak gini kok), janji jam 12 gue dateng jam 1, mereka udah cabut, betapa cerdasnya saya. Gue yang gak enak pun nyamperin crew Kompas TV ke radio yang lagi ngepublish acara tersebut, ketemuan dan ngobrol" teknis acaranya, dan gue pun tau kalo ternyata host pun boleh buat ikut audisi. Ahahahahaha, otak plin-plan gue langsung nyuruh buat bikin materi malem ini, Baiklah.
Tanggung Jawab gue buat ngebantuin komunitas ini ternyata memang harus didahuluin, malem itu gue harus ngambil Baju Stand up Comedy Padang di tempat temen gue baru selesai di packing jam 10, setelah itu pun gue emang udah niat buat nemenin temen-temen dari StandUpComedy Pekan Baru yang udah jauh-jauh dateng ke Padang, mereka udah nyambut kita baik banget setiap ke Pekan Baru dan gue juga pengen mereka ngerasa nyaman ketika dateng ke Padang, jadilah kita nongkrong-nongkrong sampe jam 12 malem sebelum akhirnya gue mutusin buat balik ke kost, pikiran gue saat itu cuma satu "materi mana yang bisa gue bawain yah?".
Hari H udah dateng, gue mesti ke Unand ( Lokasi #AudisiSUCI4 digelar) pagi-pagi buta, jam 7 (iya jam 7 itu pagi banget menurut gue), gue bangun jam 6 setelah menyadari kalo motor gue bannya bocor dari semalem, dan gue baru tidur kurang lebih 2jam-an. Gue pun nyampe tempat jam setengah 8, telat memang udah jadi habbit sepertinya, kita briefing sebentar, doa bareng sama crew Kompas TV dan acara pun dimulai tepat jam 9 setelah crowd-nya lumayan rame. Selain telat ternyata gue itu pelupa yang bego, gue lupa bawa foto sama fotocopy KTP yang jadi requirement pendaftaran, dan yak, gue telpon sana sini buat fotocopyin KTP + nyetak foto gue setelah hampir putus asa buat ikutan Audisi. Opening acara pun gue pandu dengan hikmat layaknya mengheningkan cipta, ahahaha... satu persatu komika ngelakuin registrasi ulang sampe ke tahap ngedapetin nomor antrian.
Nomer 1 komika asal PekanBaru masuk dan keluar tertunduk lesu, iya dia gagal. Nomer 2 masuk dan tertahan didalem, gak tau kenapa, gue kenal sama dia, salah satu komika senior dari Pekan Baru yang taun lalu juga dapet Golden Ticket. Nomer 3 keluar dengan tampang sumringah, yep dia dapet golden ticket, satu gedung Fak. Kedokteran Unand Limau Manis kaget, yaiyalah... orang yang dapet golden ticket baru 2x OpenMic dan gue berani jamin dia NgeBomb. But the show still goes on, Nomer 7 juga keluar dengan Golden Ticket, salah satu Rising Star dari Pekan Baru, gue udah yakin kalo anak ini mah. Nomer 2 juga keluar dengan senyuman manis, yep dia dapet Golden Ticket setelah berhasil ngeyakinin juri kalo dia pantes. Komika dari Padang banyak yang ngambil nomer agak belakangan, bisa dibilang setelah anak Pekan Baru abis baru giliran anak-anak dari Padang, kecuali si Nomer 3 tadi. Setelah gue puas menginterview orang-orang yang dapet golden ticket tadi giliran anak-anak dari @StandupIndo_PDG yang nunjukin skill-nya, satu persatu berguguran. Satu buah ticket perdana pun keluar dari tangan juri buat @bayoobeha, jujur gue ngerasa lega saat itu, ada komika kita yang masuk buat melangkahkan setengah kakinya di Kompas TV, ticket kedua keluar buat @Praz_Teguh yang udah bisa dipastikan dia bakal jadi salah satu finalis di Standup Comedy Indonesia Season 4 nanti, i believe on that, udah 5 buah Golden Ticket yang keluar hari itu, gak tau berapa banyak yang bakal keluar yang jelas kerjaan gue sebagai host yang ngewawancarain peserta yang dapet Golden Ticket gak banyak, gue bisa ngapalin materi sekaligus latian buat Audisi ini, udah 30 peserta perform dari total 40 peserta, gue pun ngedaftarin diri gue tepat jam 1 kurang 5 menit sebelum pendaftaran tutup, biar jadi peserta terakhir dan gue dapet nomer 40.
![]() | ||
| MPU PDG 040 |
Selama #AudisiSUCI4 sampe peserta ke 30 berlangsung jujur gue belom hafal dengan materi yang mau gue bawain, gue baru bisa tidur tadi malem setelah berhasil nyusun set-list materi tanpa menghapal atau bahkan latian. Gue pergi sendirian ke lantai 3 yang saat itu kosong, ngapalin materi sendirian, latian sendirian, lagi, lagi, lagi sampe gue puas dan apal dengan lancar dengan materi yang gue bawain. Sampe peserta ke 37 gue berani memantapkan diri kalo gue udah bisa ngapalin dengan lancar semua materi yang gue set. Gue balik ke ruang tunggu sambil megang Microphone yang jadi senjata gue pas ngeHost.
Perasaan gue saat itu sama ketika gue jadi Opener Standup Night buat pertama kalinya, gue grogi, sangat grogi, bedanya gak ada orang yang nenangin gue diruang tunggu itu, gue udah cukup dewasa buat menenangkan diri sendiri ternyata. Gue masuk dengan cukup tenang, banyak crew Kompas TV yang kaget ngeliat gue audisi "Lah? ikutan audisi juga Mpu?" gue ngangguk sambil senyum-senyum doank, dan setelah dipersilahkan juri buat ambil tempat gue mulai dengan materi pertama, tegang? pasti, diacara besar atau kecil gue selalu beranggapan sama, gue gak pernah bisa rileks dimenit-menit awal, gue grogi seperti biasa, tapi itu cuma diawal-awal, selebihnya gue bakal nyaman dengan stage yang ada, gue cuma tinggal ngelakuin apa yang udah gue latih, ngulang-ngulang materi yang hampir semua udah pernah gue bawain, di bit (part yang terdiri dari set-up + punchline) ke dua gue udah rileks, ketika salah satu juri yang gue hadapin udah mulai ketawa dan yang satu lagi emang gak pernah ketawa kata peserta yang lain.
Semua bit terlempar dengan baik, ada beberapa bit yang gue ragu tapi tetep gue bawain, sebodo' amat lah, i'm going with my principle "Nothing to lose", gue udah siap ketika harus dibilang "Mpu, kamu gak lolos" atau "Kita gak bisa terima kamu" yang jelas gue pengen orang ngeliat kalau gue adalah salah satu orang yang menikmati setiap detik dari komedi tunggal ini, gue menikmati ketika gue berdiri di panggung dan melempar bit, terlebih ketika gue ngedenger sekaligus ngeliat setiap tawa yang keluar dari penonton. "Terima Kasih, gue Mpu" itu kata-kata terakhir yang keluar ketika gue mengahiri rangkaian performance gue hari itu, gue gak tau bakal dikomentari apa sama juri, yang jelas i did it. "Kamu mirip banget sama Mosidik ya personanya" itu kata-kata pertama yang gue denger dan jleb, hari itu memang gue ngumpulin banyak materi tentang kegendutan gue setelah gue corat-coret buku materi gue yang banyak banget materi berunsur blue, hehehe. Gue banyak dikasih masukan hari itu, masukan tentang persona (ciri khas) yang gue tampilin, materi yang gue bawain, sampai stage performance + delivery yang tersaji, banyak pujian didalamnya, tapi gue ngerasa gue belom bisa buat masuk karena balik lagi ke yang tadi, materi gue akan beririsan dengan seorang Mosidik yang punya persona 'Gemuk'.
"Mpu punya materi lain yang gak relate dengan gemuk?" tanya sang juri,
"Ada..." gue jawab yakin
"Silahkan"
Gue yang tanpa persiapan langsung ngeluarin materi yang ada dikepala gue, satu materi yang agak berunsur jorok sik, tapi gue gak tau mau materi mana lagi, yang jelas gue bisa ngebawainnya dengan lancar. Dan yak, mereka masih blom yakin dan masih butuh 'something' supaya yakin dengan gue yang jadi peserta terakhir audisi hari itu.
"Oke gini deh, sekarang kamu cari materi lagi yang sama sekali gak relate dengan 'gemuk' dan 15 menit lagi kita tunggu disini. setuju?" Gue ditantang untuk ngebawain satu bit lagi.
"Siap" jawab gue yakin sambil harap-harap cemas.
Gue keluar ruangan setelah dipersilahkan, diluar ada Farandy 'kepo' Ryan yang jadi runner diacara itu, salah satu member @StandupIndo_Pdg, dia nanya-nanya kepo, hahaha. Gue kebawah buat nyari tas gue, tujuan gue cuma satu, buku materi yang tersimpan rapi ditas. Anak-anak yang lain nyamperin gue sambil nanya result-nya, gue cuma bilang kalo gue harus nyiapin satu bit lagi buat dipake, gue buka-buka buku materi gue, bolak-balik dan gak ketemu bit yang pantes buat dibawain, gue keinget satu bit yang tertulis cuma judulnya dihalaman depan "Who wants to be a millionaire" materi yang pernah gue bawain di SUN1, tapi punchline-nya bahasa minang, satu masalah yang akhirnya terselaesaikan setelah combud beberapa menit. Gue balik lagi ke ruang audisi, gue siap! dan langsung menuju spot yang udah disediain, gue bawain dengan lancar, dan pada akhirnya juri cuma bilang "Coba liat dibelakang banner deh Mpu", Yes! i got the Golden Ticket.
![]() |
| Me with The Golden TIcket |
Gue terdiam setelah dapet Golden Ticket ini, ketika gue ngerasa salah satu titik tertinggi dalam dunia Stand up Comedy udah gue lewatin, gue tertantang untuk menuju tempat yang lebih tinggi lagi, tiba-tiba sekelebat gue keinget masa-masa dari moment pertama gue berdiri diatas panggung bernama OpenMic, Gigs berbayar pertama, Standup Night, ketika gue jadi Ketua di Stand up Comedy Padang, ketika gue jadi orang dibelakang layar untuk mengkoordinir acara, ketika gue memutuskan untuk keluar dari Stand up Comedy Padang, semua terangkum jadi satu dan gue cuma bisa meluk temen-temen gue di Stand up Comedy Padang yang mungkin saat ini udah jadi salah satu keluarga gue.
Sehabis ini, masih ada satu fase lagi, yaitu seleksi by phone dimana komika yang terpilih akan ditelpon dan yang terima telpon akan berangkat atau gak ke Jakarta. Apapun hasilnya nanti gue udah bangga buat ada diposisi saat ini, gue bangga bisa jadi salah seorang representative dari temen-temen gue di Padang. Gue bangga bisa jadi salah satu bagian dari Komunitas Stand up Comedy di kota ini. Thanks Guys!
| @StandupIndo_PDG |
Kamis, 07 November 2013
Heyho!
Hari ini gue kejebak ujan disaat nemuin klien buat bikin buku tahunan disebuah kafe punya temen, klien gue ini anak SMA, masih kelas 3, udah bertahun" gue bikin buku taunan sekolah, Gazibu Yearbook namanya, bahkan anak" SMA yang dulu pernah gue bikinin buku tahunannya sekarang udah pada lulus kuliah, punya anak 2 dan hadiah menarik lainnya.
Skip obrolan klien ini, bukan itu sesuatu
Pasangan pertama adalah dua orang yang kayaknya lagi PDKT, cowoknya terlihat PD dengan kegagahannya, stelan kemeja lengan panjang item yang digulung dan celana krem yang ngepas, megang rokok sambil ngopi item. Si cowok kelihatannya anak teknik mesin yang mao begadang bikin tugas, atau dia cowok pengantuk yang sering tiba-tiba ketiduran atau juga dia cuma sok jantan di depan si cewek dengan mesen kopi item sambil klepas-klepus. Si cowok sibuk maen ramal-ramalan tangan sama si cewek, Cerdas! ~Eh, Kok lo tau dia lagi PDKT mpu?~ oh gue lupa bilang, gue kenal sama si kemeja item ini, dia junior gue ditongkrongan, tadi gue ngobrol-ngobrol dan sempet gue tanya. ~Yelah Broooo
Pasangan kedua adalah sepasang anak muda yang sepertinya ketika mereka masih SD gue udah jadi mahasiswa, iya... tampangnya bocah banget! dan si cowok pake baju kuning dengan gambar Spongebob... iya Spongebob yang ituuu! mereka terlihat sangat profesional dalam dunia perpacaran, menarik!. Setelah gue liat-liat gue mereka masuk dalam kategori orang-orang yang berpacaran dengan panggilan sayang mimi-pipi, atau umi-abi, atau malah Njing-Tot. Yasudahlah, biarkan saja mereka bahagia di alam sana. Peace, Love and Gaul (dipopulerkan oleh Dwi Andika dan satu lagi cewek yang gue lupa namanya dalam acara planet remaja)
Pasangan ketiga ada tepat disebelah gue, yep! gue bisa denger detail dr pembicaraan mereka tanpa harus berkepo-kepo ria, dimeja itu cuma ada satu orang cewek yang lagi sibuk dengan Smartphone-nya, terkadang dia ngunyah risoles mayonaise dimejanya, tampangnya terlihat harap-harap cemas, awalnya gue takut dia kebelet boker dan lagi nahan supaya gak kecepirit. Dugaan gue salah, beberapa menit kemudian muncul seorang cowok didepan mejanya, naro helm dibawah dan langsung bilang "Maaf, ya kamu nunggu lama", Si cewek terdiam, bahkan si cowok belom sempet naro tas atau malah nyeka mukanya yang basah gara-gara ujan"an, mungkin kalo gue jadi si cewek gue juga bakal terdiam. Hal ini ngebawa gue ke beberapa waktu lalu, waktu gue masih punya gebetan, waktu gue ngerasain apa itu pacaran. Yah kira-kira setengah abad yang lalu lah.
Hari itu langit sore dirumah gue mendung, gue berangkat dari rumah pake mobil pinjeman dari nyokap, gue pergi buat ngejemput dia setelah gue dapet sms kalo dia kejebak ujan di tempat bimbel, gue mengiyakan karena jarang-jarang dia minta jemput, kita bimbel ditempat yang sama, tapi jadwalnya beda. Ternyata bener gak jauh dari tempat itu ujan lebat banget, dan wilayah itu terkenal ujan dikit banjir banyak. Gue sampe ditempat bimbel sore itu, tepat didepan pager ada sosok putih kecil yang setiap dia senyum gue aja gue ngerasa deg-degan, jarak dari tempat dia berdiri ke mobil lumayan buat bikin lepek kalo dihajar lari-larian. Gue ambil payung di dalem mobil dan langsung keluar menuju tempat dia berdiri, 'Maaf ya, kamu nunggu lama', entah kenapa cuma kalimat itu yang keluar, gue
Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia
Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya
Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu
Tulus ~ Sepatu
Senin, 28 Januari 2013
Untuk Ibu Guru Pelupa
Selamat Pagi Kakaaak...
Kata" yang selalu aku ucapkan ketika BBM ku berbunyi dipagi hari, tidak jarang BBM itu yang membangunku di pagi hari setelah kita terlibat percakapan cukup panjang dimalam sebelumnya, kamu si Ibu guru yang selalu aku kagumi sejak pertemuan pertama kita di Kota mu.
Senja dikota itu terasa sangat panas, aku benci panas, karena awan yang menutupi matahari terlihat lebih mendamaikan daripada terik yang melawan. Aku benci kotamu, hahaha (No Offense). Akan tetapi, senja di sore hari dikotamu terlihat lebih menyenangkan sesaat ketika kita bertemu, kamu seperti awan yang menantang matahari, terlebih ketika kita saling memperkenalkan diri. Ibu guru pelupa yang usianya lebih muda beberapa bulan dari ku, Ibu guru pelupa yang telah menjadi ibu guru yang dicintai banyak muridnya.
"Kamu penyiar ya?" kata ku ketika kita saling berbincang
"Bukaaan" Aaaargh suaranya terlalu lembut untuk berkata bukan.
Sekembalinya aku ke kota ku, aku rasa hubungan kita selesai, selesai begitu saja karena kita hanya sekedar berkenalan, mungkin hanya twitter yang menghubungkan, dan pada saat aku kembali ke kota mu untuk yang kedua kali pun aku tidak bertemu dirimu.
"Aku ingin bertemu lagi dan berbincang cukup lama..." batinku ketika berada dikotamu saat itu.
Hari itu ponselku berbunyi
"Mpuuu... Apa kabar? kapan nih main ke sini lagi"
Yep... sms dari Ibu guru pelupa, entah dari mana ia mendapatkan nomorku, yang jelas pada hari itu kita berbincang banyak hal sampai sama" mengundurkan diri untuk terlelap.
Satu DM twitter mendarat dikotaknya.
"Mpu minta Pin BB donk, aku newbie yang belum punya banyak temen di contact nih"
kukirimkan Pin ku, dan memulai chat dengannya.
"Apa kabar kakaaaak..." mungkin ini kata" pertama ku pada saat itu.
Entah bagaimana dan kenapa, kita banyak bercerita, dari fikiran menuju jemari, dan disambungkan melalui sinyal" antar Blackberry Messenger, begitu seterusnya, menyenangkan.
Halo... Ibu guru pelupa, Apa kabar dirimu saat ini? Bagaimana murid"mu disana? masih semenarik saat kamu bercerita banyak denganku? Masih kah mereka mengirim gambar" lucu dengan tangan kecilnya? Aku merasa tersaingi, begitu banyak yang mengagumi kamu Ibu guru pelupa, boleh minta ramuannya? hmmm... biar kutebak, pasti suara kamu yang membuat mereka terpesona... atau bahkan Pria mu juga dulu jatuh cinta padamu karena mendengar suaramu?.
Hey, Ibu guru pelupa... suaramu ditelpon begitu menggoda, tapi kalau suara itu bercampur isak tangis aku hanya akan diam, diam karena aku tidak ingin hal tersebut terjadi, diam karena aku hanya mampu mendengarkan saja, aku tidak mampu berkata-kata untuk menegarkan, aku rasa hak ku saat itu hanya diam. Entah kenapa kamu mau bercerita banyak denganku, "Karena dari awal ketemu kamu, aku tau kamu itu baik mpu," jawaban itu yang aku dapat saat menanyakanmu hal itu.
Hey Ibu guru pelupa... kenapa kamu masih bisa sebegitu dewasa dengan apa yang terjadi? meskipun kadang" kamu bertindak bodoh tahap tapi bagiku kamu tetap saja dewasa, lagi" satu point tambahan yang aku dapat dari dirimu.
Hey Ibu guru pelupa... telingaku masih dalam mode stand by untuk medengar cerita"mu, apapun tentang dirimu dan pria mu, meskipun pria mu (yang juga aku kenal) sering berkata kasar dan berbuat bodoh tapi aku percaya kalau dia adalah guardian angel mu, terkadang memang laki-laki itu tidak pernah timbuh dewasa, mereka juga suka bermain barbie, tapi sadarilah bahwa itu tidak akan bertahan lama, sepak bola selalu lebih menarik bagi para pria daripada barbie.
Hey Ibu guru pelupa... Aku harap kamu tidak lupa dengan 'kita', sama seperti aku yang selalu menyimpan cerita tentang kamu dan membumbuinya dengan password agar cuma aku yang tahu isi cerita itu. Meskipun namamu Ibu guru pelupa tapi aku yakin terkadang kamu dapat mengingat cerita" kita.
Ibu guru pelupa, terima kasih ya telah datang ke kota ku di waktu libur kamu bersama dengan Pria mu, tapi satu hal yang masih belum sempat kita lakukan, 'foto bareng' hahaha... kamu yang minta kemaren itu yaaaa... lupa? tapi gapapalah, ntar kalo ketemu lagi bakal aku ingetin. Oh iya, maaf juga kalau aku tidak bersikap seperti biasa kalau kita bertemu, meskipun aku mengenal priamu tapi kamu selalu berkata kalau dia 'cemburuan', dan sialnya dia selalu ada kalo kita lagi ketemu, hahaha...
Ibu guru pelupa banyak yang bilang kalo aku suka sama kamu dan aku ngarep banget karena kamu udah punya cowok, hadeeeh... gak pernah aku tanggepin sih, mereka cuma blom tau aja seberapa deket kita... makanya aku diemin aja, ditwitter juga sering kayak gitu, alaaaah... rempong abis.
Ibu guru pelupa, kapan yah kita bisa menyingkirkan koneksi Blackberry messenger ini, mungkin segelas kopi bisa jadi perantara percakapan kita, bercerita banyak hal dan kamu didepan aku itu sepertinya menyenangkan, oh iya... tetep pake bahasa inggris ya? sembari ngajarin aku gituh.
Be tough ya Ibu guru pelupa, kamu itu luarbiasa, aku jarang mengagumi orang, dan kamu salah satu yang masuk dalam list lho... satu hal yang pasti Allah itu bakal selalu ada buat orang seperti kamu, yang pantang menyerah dan mengandalkan kaki kamu sendiri untuk tetap berdiri tegar. let's against the world. satu hal lagi, kamu punya hal" mengagumkan di sekitar kamu dan orang" luar biasa bakal selalu merangkul kamu disaat terjatuh dan bangkit lagi.
Mata aku udah 5watt kak, aku tidur duluan ya... GudNait Ibu guru pelupa.
~~Riczky Syaputra
#30HarimenulisSuratCinta
"Surat Untuk Ibu Guru Pelupa dikota sebelah"
Senin, 03 Desember 2012
#TerimaKasihSederhana
Hey, Birthday Boy!
I'm 23rd now... sebuah usia yang dulu gue rasa, 'NJRIT, TUA BANGET...'
but i'm 23rd now, dan gue berani buat bilang 'Im Mature Enough Now', banyak pelajaran luarbiasa yang bisa gue dapet dalem hidup selama 23tahun ini, Riczky Syaputra yang dulu cuma anak manja, Riczky Syaputra yang pernah kabur dari rumah, yang pernah ngambek gara" duit jajan kurang, dan sering ngelawan dan ngebantah setiap perkataan alm. mama n papa, People Change! dan Here i am.
2 Desember 2012
Gue kebangun jam 11 pagi setelah begadang sampe subuh, itupun kebangun gara" ada janji buat bikin Buku Tahunan Sekolah dan dengan tololnya BB gue berserakan, batre dimana, tutupnya dimana, henponnya dimana, Buat hal ini gue akuin gue masih tolol, butuh istri sepertinya, hahaha... Gue idupin dan ngeliat banyak BBM masuk, semuanya ngasih ucapan luarbiasa, sama halnya ditwitter, sejak jam 12 mulai banyak mention masuk, dan berlaku sepanjang hari itu, satu invitation request di BB, seorang teman lama yang tahun lalu begitu spesial, yah Kamu... 2nd december 2011 just gonna be last year... yeah i still cherished all the things happened. Hari ini mungkin agak berbeda karena gak ada kamu sang konseptor ulung ditahun lalu, gue rasa hari-hari gue diumur 23 bakal biasa banget, standar lah... and you know what i did? gue tidur dikostan sampe sore setelah ketemu Anak" SMANTEN yang ngajak gue jadi MC dan sekaligus nawarin Buku Tahunan, yah... wasteing time and replying mention on twitter.
Malem gue ada rapat @StandUpIndo_Pdg di Kopmil, kita mau ngebahas beberapa hal, salah satunya performer buat beberapa gigs kedepan dan juga mau ngebahas pembagian keuntungan acara #AbsurdTourPDG yang cetar membahana kalo kata abege" labil jaman sekarang, dan Voilaaaa... satu surprise dari anak" @StandUpIndo_PDG dan gue yakin konseptor acara ini ada 3 orang, Praz, Gita, dan Ayi... satu kotak penuh cup cake kita makan bareng", dan ditengah kue itu ada BIR BINTANG, iyah... ini ketololan @Praz_Teguh pasti.
We're Just Comedian... We're not trying to be funny... We prepare things to make a lot of laugh...
makasi banyak buat semuanya dimalem itu, @Praz_Teguh @ayiqorry @ghitanh @Famhei @Serlypioz @Zetri12 @BillyCapri @FarandyRyan @dickazz @FadhlyAPK
YOU RAWK GUYS!!! dan satu lagi WE'RE FAMILY DUDE!!! buat yang pada saat itu gak dateng dan tetep ngasih selamat, a lot of thanks for you all guys... terima kasih. Abis itu kita ngopmil bareng" sampe sekitaran jam 10. ternyata benar, sebuah moment luarbiasa pertama terlewati dengan senyuman yang tertempel erat di otak gue, ternyata benar tidak perlu sang konseptor ulung untuk membuat hari ini menjadi lebih ceria.
*nb: Agak mulai 'ngeh' pas si Praz yang ngebatalin gue jemput ghita, ternyata ini maksud semuanya, hahaha... Oiya pas didalem mobil, Praz, Ayi, Ghita prepare kue udah keliatan gara" lampu mobil didalem yang idup, BHAAAK!!!*
Selepas dari kopmil, gue nyampe dikost tanpa mikir apa" lagi, gue udah cukup bersyukur karena hari ini masih ada sahabat" gue buat ngerayain bareng, gue masuk kamar, ganti baju dan kedengeran suara @fandibone dari luar "Mpu... Mpu... Lo ngambil jarkomdat gak? besok kuliah pagi looo..." dan gue buka kamar dengan males, nothing interest to have a conversation about subject when nite force me to take a rest, hahaha... dan pas gue buka pintu... VOILAAAA!!!
Ternyata mereka udah prepare di hari itu, satu buah kue tersaji manis didepan kamar gue, dan disana ada @BangSH4D @fandibone dan lagi" @fadhlyAPK hahaha... what a nite! 2 surprises came to me, meskipun cuma ber4 tapi satu hal yang pasti, GUE GAK SENDIRI! dan malam itu gue tidur nyenyak dengan senyuman luarbiasa dihati gue. Thanks Guys! Kita calon orang" sukses dimasa kita nanti, karena kita Insinyur Ceria. Lagi" tidak memerlukan konseptor ulung untuk menemukan sebuah rasa terima kasih yang tersimpan tulus.
3 Desember 2012
You see those pictures, They're my angels.... No Doubt!
@nisaabcdelf @karinrissa @iNiirini How cute they are *cubit cubit*... Meskipun udah ditanggal 3 tapi gue masih bisa ngerasain kebahagian yang kata orang semu, karena hidup menuntut keseimbangan, dan lawan bahagia adalah kesedihan. WHATEVER! Hari ini gue ada janji sama nisa buat jalan, gue pun kebangun dari tidur siang yang menyenangkan gara" BBM dari mahluk
Baru sekitar 10 menitan gue diRumah Kopi Nunos, buka leptop pun baru beberapa menit, pesenan belom dateng, dan ngobrol" ama Nisa juga baru beberapa paragraf (Yup, dia sibuk BBMan). Tiba" nongol sesosok mahluk putih, kuyus, lucuuu dari pintu di Lantai 2 Nunos, yep... namanya cencen aka curin aka Rini Febriyanti, beliau yang gue rasa baru pertama kali napakin kaki di Nunos masuk sambil ngebawa Helm, iya Helm! Warna ijo lagi! muncul dengan wajah polos dan ngomong tiga kata "Ngapain lo disini...?" dan gue ngakak paraaaaah! Buahahahaha Curiiiiin! You screw the surprise! *masih ngakak pas nulis ini* karena jujur gue masih gak tau kalo kalian bakal ngelakuin ini semua sampe didetik sebelum si cencen masuk. Dan datanglah seorang bebeeeeeb Karina Dian Erica yang baru pulang dari Bukittinggi dan langsung menuju Ruko Nunos (Aaaaak... pasti capek ya beb, cinih cinih akooh pijitin *kemudian digaplok*) + Annisa Ismed (yg abis pura" ke WC padahal nyiapin semuanya dibawah tuuuh :D) dengan sebuah kue dan lilin yang rempong abis! We do what people do... Tiup lilin dan lanjutin ngakak gara" si cencen.
That moment... One thing that i felt, All of you completed my world, it was like that i never wanted that moment finished... again and again, the time wrapped fastly, we have to ended the moment, with you all dear... world stop cycling even just a sec, with you all dear... ordinary things become extra oradinary. Lalu? kenapa gue mesti kesepian dengan menyandang status sebagai
Yes, I'm 23rd Now... with Super Fellow around me...
Mungkin gue terlalu bosan untuk menangis, mungkin gue terlalu angkuh untuk menunjukkan rasa terima kasih yang membuncah hebat, tapi satu hal yang gue pengen lo semua tau, Terima Kasih sudah menempatkan gue diposisi hebat ini. Ketika gue ngerasa sendiri, gue bisa baca blog ini sambil tersenyum lagi, yep! Karena Gue Gak Sendiri... Gue punya orang" spesial disekeliling gue. #TerimaKasihLuarbiasa karena gue diberi kesempatan untuk mengenal kalian. kalian luar biasa *ariel noah style*
With a huge Respect
Riczky Syaputra
Senin, 26 November 2012
Melankolia
"Bagaimana kalau gaya gravitasi itu hilang? Apa aku menjadi bisa mencintai kata cinta?"
Mereka menyebut itu cinta, bagiku hanya sapaan sarkastik.
Bagaimana mungkin ketika sebuah perasaan bisa tersenyum dan berkata riang lalu ditepian pohon mahony berdiri lunglai seseorang yang benar" mencintai.
Kunyalakan sebatang rokokku, asapnya menghitam, semakin lama semakin pekat. Angin sore tak lagi menyejukkan, daun" yang berguguran pun tak lagi bernuansa romantis, semua hanya aksesoris diantara senja yang tak lagi meneriakkan kenyamanan.
"Sudah berapa lama disini?" Sapaan itu mengejutkanku
"Sudah hampir satu jam" Jawabku malas.
Seorang gadis yang sudah hampir tiga tahun aku kenal, meletakan tasnya dan duduk dihadapanku, ia melihat kearah asbak, tersenyum miris, empat batang puntung rokok tergeletak tidak berguna.
"Masih berteman dengan ini?" tanyanya sambil mengangkat sebungkus rokok yang tersisa setengahnya tepat diantara mataku dan matanya
"Ya, mungkin ini adalah teman terbaikku saat ini" kuambil barang tersebut dari tangannya, mengeluarkan sebatang lalu menyalakan mancis dan meletakkan kembali disebelah bungkus rokok. kuisap panjang dan menghembuskan perlahan.
"Bodoh..." Gumammu pelan.
"Coba kamu lihat mereka" kukeluarkan satu batang lagi dari bungkus rokok tadi, kuletakkan tepat disebelah mancis.
"Mereka berteman akrab, mereka saling melengkapi, mereka ada karena satu sama lain, mereka adalah sebab dan akibat, aku lebih memilih untuk tidak memiliki keduanya daripada hanya dapat menyimpan satu diantaranya" Aku melanjutkan.
"Kamu terlalu mudah dalam menyimpulkan" ia mematahkan teori sekaligus rokokku bersamaan.
"Itu karena aku selalu yakin dalam memilih"
"Aku rasa kamu akan selalu menjadi pemimpin yang bijak, paling tidak untuk diri kamu sendiri"
"Tidak, aku masih belum bisa menjinakkan hatiku"
Detik berdetak tiga kali, lalu suaramu memecah bisu sekelebat.
"Oh iya, aku lupa bertanya, Apa kabar?" Sebuah nada yang indah, aku tau maksudmu bukan mengalihkan alur pembicaraan, hanya tidak pernah ingin mengubah kebiasaan lama.
"Masih sama, masih menunggu pagi..."
________________________________________________________________________________
Lagi-lagi mereka menyebut itu cinta, aku menyebutnya ambisi semu.
Berlari dan terengah-engah, mencari lalu kehilangan, berbicara tentang kebahagiaan, menjaga selama-lamanya. lalu apa lagi?
Sabtu malam, lagi-lagi lagu cinta, film drama percintaan, kata-kata mutiara bertaburkan pujian, kenapa tidak kepedihan saja yang mereka tawarkan, bukankah dunia ini menuntut keseimbangan?
"Mana mimpi kamu dihari kemarin?"
"Mati ditelan gelombang ombak" Kujawab pasrah
"Aku ingin kita berteman selama-lamanya"
"Itu hanya janji bodoh jika aku mengucapkan hal serupa"
"Memangnya kamu tidak ingin menjalin hari-hari seperti ini selamanya" kamu meyakinkan
"Tidak, kalau hari ini aku bertemu kamu dan besok aku bertemu dengan seorang wanita berparas cantik dan berpakaian indah aku akan mengejarnya dan lebih memilih menyayanginya sampai ia berucap seperti dirimu hari ini"
"Lalu kenapa kamu tidak lelah untuk menunggu harapan yang semu ini yang tidak pernah ditawarkan untukmu, aku tidak ingin melihat kamu seperti ini"
"Jika kita harus berpisah dan tidak bertemu lagi aku rela, aku hanya sedang menebak-nebak hari itu, batinku siap" Aku menutup percakapan setelah melihat butiran air mata disudut matamu.
Engkau menangis, menangis sepi, menangis hampa, sekitar 5menit, aku mengusap air mata dipipimu satu kali, lalu membiarkan air mata selanjutnya.
"Kamu berpura-pura sedih"
"Tidak, aku berpura-pura bahagia" Aku menjawab lirih
"Aku ingin kita dekat lalu kamu menolak"
"Suatu saat aku akan memohon agar kita jauh"
Gadis itu berlalu, matanya sembab, pipinya memerah, perlahan ia menghilang dari kejauhan, hatinya berbisik dari kejauhan "Aku tidak akan memutuskan sebuah hubungan terlalu cepat karena aku tidak ingin kehilangan terlalu cepat, kamu akan mengetahuinya suatu saat nanti, aku yang selalu mencoba tegar dan mendoakanmu, aku menangis bukan karena lemah, aku tersenyum bukan karena bahagia, satu hal yang pasti... kamu selalu menjadi tempat terindahku dalam berbagi, kamu dan dunia kamu, menarik".
Kita lebih dari teman meskipun hanya sesekali bersama, kita bukan pribadi-pribadi yang sedang menjalin hubungan penuh kata cinta meskipun kita saling menjaga, kita bukan musuh yang saling mencaci dengan sumpah serapah saat membenci meskipun terkadang tusukan menghujam perih, kita ada hanya karena kebetulan" kecil yang tak pernah dipersiapkan...
P.S.: Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan siapa. mengapa dan bagaimana...
Jumat, 28 September 2012
Kesombongan, Kemunafikan, dan Peremehan
Selamat wahai pemenang...
Lalu siapa yang terkalahkan? Aku? Mungkin saat ini aku masih tertunduk lemas menahan emosiku, ketika dengan angkuhnya engkau bisa berdiri dan menengadahkan kepalamu didepanku, ketika engkau bisa memberikan senyum sinis dan jabat tangan munafik didepanku seakan" akulah si pecundang yang pantas diremehkan.
Dulu disaat aku masih kelas 6 SD, aku ditertawakan oleh teman" sepermainanku dirumah, mereka terlihat puas mengejekku karena tidak bisa bermain basket, aku melakukan kesalahan" bodoh, tidak mengerti peraturan, asal melempar bola, bahkan sampai mereka mengerjaiku dengan melemparkan bola ke badanku, pedih memang, aku dianggap pecundang. Hari itu satu bara api dinyalakan dihatiku, satu hari dimana aku termenung memikirkan betapa mudahnya aku dikerjai, aku bukan si bodoh yang pantas ditertawakan, aku bukan si pecundang yang harus diremehkan.
Suatu waktu di kelas 3 SMP, aku melihat tiga sosok yang cukup aku kenal, mereka teman rumahku yang lebih tua 2 tahun dariku, kita memang jarang berbicara, hanya sebatas sapa, aku lebih merasa dekat dengan teman"ku disekolah yang lebih seumuran. Hari itu kami (aku dan teman" sekolahku) berada dilapangan basket umum yang sedang lengang, jadi kami bebas memakainya, tiga orang tadi melepas seragam SMAnya dan ikut bermain, mereka memulai dengan shooting" biasa ke ring, kemudian menantang kami bermain 3on3, kami menyanggupi.
10 - 1 adalah skor akhir dengan kemenangan pada Tim ku, ku jabat tangan mereka, tersenyum memberikan ucapan terima kasih, lalu berlalu. Hari itu aku mempecundangi mereka, membuat mereka terkulai lemas, membuat mereka tak berdaya, dan berdiri sebagai pemenang didepan mereka, tidak ada yang dipertaruhkan memang, tapi prestise pada saat itu membuatku menemukan kepuasan, seakan ingin berteriak, "LO LIAT GUE YANG SEKARANG!!! YANG DULU LO JADIIN MAENAN!!!" tapi semua tertahan,aku hanya ingin mebuktikan dengan terhormat, seorang bocah yang dulu mereka permainkan dan mereka olok" kini menjelma menjadi harimau bertaring tajam, terbangun dengan buas, mencakar dengan garang, terima kasih telah membangunkan.
Hari ini aku terbangun lagi, sekujur tubuhku gemas ingin menampar waktu, geram segeram"nya, tanganku terkepal keras, keras sekali... tepat saat ini, aku ingin membungkam tiap kesombongan, membredel kemunafikan, menginjak" setiap kata remeh temeh akan diriku, gigi ku bergemeretakan cepat, Aku menanti hari itu, hari ketika aku berdiri, bermandikan keringat, dan berkata lantang "INI AKU, RENCANAKU DAN SETIAP TETES USAHAKU!!! TERIMA KASIH TELAH MEMBANGUNKAN."
Langganan:
Postingan (Atom)



































