Raut wajahnya tenang, menunggu sepertinya
sudah menjadi sahabat baginya, bisa ia bunuh bisa ia nikmati. Perlahan langit
senja memalingkan wajahnya, mundur secara berkala, merahnya bagai tersipu malu
dan berubah menjadi pekat. Lalu gerimis datang seolah berperan menjadi
penghibur, bermain pantomim dihadapannya, membisu dalam ruang yang ia ciptakan
sendiri. Wajahnya berubah sendu, mungkin bosan atau mungkin juga lelah, ia
menengadahkan kepalanya seolah mencari jawaban diantara awan hitam, hanya
kesunyian yang didapatnya.
Dalam diam air mata lelaki itu berjatuhan,
tetes demi tetes tanpa pernah berani ia seka, diantara gerimis hujan, pekatnya
malam, bintang yang enggan menyapa, dan angin yang menghangatkan. Bibirnya bergumam
seolah ingin berbicara, hanya giginya yang bergemeretakan, matanya berkaca-kaca
mengharu, hari itu... jam itu... adalah
sebuah perpisahan terakhirnya. Sudah hampir tujuh tahun, semua ingatan seakan
bermain-main dipikirannya dan waktu ternyata tidak cukup
tangguh menyembuhkan ingatannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar