Kamis, 16 Januari 2014

Lelaki Yang Menangis




Raut wajahnya tenang, menunggu sepertinya sudah menjadi sahabat baginya, bisa ia bunuh bisa ia nikmati. Perlahan langit senja memalingkan wajahnya, mundur secara berkala, merahnya bagai tersipu malu dan berubah menjadi pekat. Lalu gerimis datang seolah berperan menjadi penghibur, bermain pantomim dihadapannya, membisu dalam ruang yang ia ciptakan sendiri. Wajahnya berubah sendu, mungkin bosan atau mungkin juga lelah, ia menengadahkan kepalanya seolah mencari jawaban diantara awan hitam, hanya kesunyian yang didapatnya.


Dalam diam air mata lelaki itu berjatuhan, tetes demi tetes tanpa pernah berani ia seka, diantara gerimis hujan, pekatnya malam, bintang yang enggan menyapa, dan angin yang menghangatkan. Bibirnya bergumam seolah ingin berbicara, hanya giginya yang bergemeretakan, matanya berkaca-kaca mengharu, hari itu... jam itu...  adalah sebuah perpisahan terakhirnya. Sudah hampir tujuh tahun, semua ingatan seakan bermain-main dipikirannya dan waktu ternyata tidak cukup tangguh menyembuhkan ingatannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar