Tampilkan postingan dengan label roman sarkastik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label roman sarkastik. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Oktober 2017

Selamat Pagi wahai Sore di penghujung Malam



"Melukiskan wajahmu di otakku setiap pagi adalah kemampuan sekaligus hobi terhebat ku"

Pagi menghadirkan sebuah cerita tentang rasa, rasa terbangun dari mimpi semalam, rasa merajut kenangan tentang perjalanan, rasa tentang secangkir kopi pahit dan aroma pagi. Bahagia atau bermain dengan kelam, pagi mengambil andilnya dalam memutuskan. Pagi adalah perjalanan dan langkah kaki menuju hari esok yang entah bagaimana. Pagi datang setiap hari untuk dipilih, memilih kanan atau kiri, depan atau belakang. Mengawali rangkaian cerita dan sebagai pembuka asa dari dari ruang gambar yang hampir memudar.

Klise dan tak mampu dipungkiri, perjalanan mencapai titik penghabisan, selayaknya waktu sore hari di kala hujan reda yang menghapus jejak-jejak hingga nyaris hilang. riuhnya kendaraan yang berganti menjadi tenang berlatarkan melodi jingga. Cahaya temaram yang mengantar jalan menuju pulang, membawa wajah lelah yang sesak dimakan rasa. Diantara ruang waktu yang terlalu lama bersemayam, perlahan diam dan memutuskan untuk sirna, entah kemana angin membawa pergi.

Malam menghabiskan waktu menghapus janji yang pernah terucap, ribuan kata yang pernah saling berbalas, dan lengkung senyum yang menjadi penghias. Janji yang tak mampu ditepati, pesan yang setiap katanya menambah porsi harap, senyum yang setiap inchinya menambah damba. masa yang setiap terkenang membunuh sadar. Singgah yang tak pernah berakhir menjadi sungguh. Cerita dan setiap simpang di dalam perjalanan, lampu dan lukisan yang berderet di sepanjang jalan, lalu semesta memaksa untuk henti.



Terima kasih untuk kopi pahit dan aroma pagi...

Selasa, 10 Oktober 2017

Menagih Janji






Dear yang telah melupakan dan dilupakan...

Hey, kamu... Apa kabar? Masih menjadi kamu sampai hari ini? atau sudah berubah karena mengganggap beberapa sesuatu yang bias lalu kamu definisikan "Gila".
Lima Tahun! Yap... Sudah lima tahun, sejak hari dimana aku menanyakan sebuah mimpi, lebih mungkin, tapi biarlah aku masih belum bisa bercerita banyak dengan mimpi itu. lalu kamu? mungkin secangkir kopi hitam pahit kesukaanmu tidak akan sanggup menjadi peneman cerita dari semua yang sudah kamu lakukan. Maaf kalau mimpiku berubah, banyak hal yang membuat tanganku tak mampu lagi menggapai cerita-cerita manis yang kutuliskan dalam secarik kertas.

Hey, kamu... Sudah berubah kah selera musik kamu? atau kita masih memiliki cara pandang yang sama mengenai nada? tentang aksara yang meneduhkan, tentang daun yang berguguran, tentang hujan yang melukis langit, tentang waktu yang bergerak mundur. Tahu tidak? terkadang pola pikirmu merusak duniaku, merusak tiap syaraf tingkah ku, maaf jika aku tak lagi mengagumimu, sepertinya lima tahun cukup untuk mengagumimu, ingat! hanya kagum, tak lebih. Oh iya, kalau selera musik kita masih sama, aku merekomendasikan Payung Teduh ya? Band ini sama seperti wajah kamu, selalu meneduhkan.

Hey, kamu... masih ingat cerita kita? tentang ombak, asap dan perjalanan. Ah, sudahlah... aku lupa bahwa aku gila, cerita itu pasti sudah terlupakan, semoga suatu saat ada mimpi yang membawanya ke dalam ingatanmu ya. Oh iya kemarin aku mencarimu, tak kutemui, sepertinya aku masih bodoh dalam mencari, mungkin takut tertangkap basah bahwa aku sedang mencari, sama seperti halnya kamu yang selalu bersembunyi. Ingat tidak hari itu? aaaah... betapa bodohnya aku untuk memaksamu mengingat hal-hal tidak penting itu. Tapi biarlah, yang penting aku senang. Ingat tidak hari itu, hari dimana kita berjanji akan saling culik menculik, hahaha... Watu itu aku pikir kita ini seperti dua anak kecil yang bernyanyi riang ditaman yang penuh mainan.

Hey, kamu... bertahun-tahun kita tak saling sapa, entah karena mimpi kita yang tak lagi sama atau mungkin cerita kita yang telah berbeda. Aku sadar betul bahwa aku telah menyimpang jauh dari rel yang seharusnya, tapi aku 100% yakin kamu masih berjalan di trek yang sama, betul kan? kalau tidak bagaimana bisa kawanku mengabari kehadiranmu di sore itu sedang bermain-main dengan mimpi-mimpimu. Mungkin jikalau aku hadir dan menyapa... aaah tidak, tentu saja aku tidak akan menyapamu terlebih dahulu, untuk apa? toh kata-kata selamat tinggal pun tak pernah terucap.

Hey, kamu... bagaimana mungkin hari itu kamu bisa kembali menyapaku? bagaimana mungkin layar di kaca handphone ku kembali menghadir namamu? Oh iya. aku baru tersadar setelah beberapa baris kalimat dari mu. Sebuah undangan pernikahan yang kamu tautkan bersama sebuah gambar beserta denah tempat diberlangsungkan resepsi dan akad nikah. Aku bergumam "Oh, akhirnya setelah sekian lama" lalu kubalas dengan ucapan maaf karena aku sedang berada di lain kota karena pekerjaan. Entah kenapa aku harus meminta maaf, tapi hari itu doaku tulus untukmu, agar semua proses berjalan dengan lancar dan kamu diberi kebahagiaan bersama priamu, sungguh aku tulus dan terima kasih telah mengundangku.

Padang, 2014

Rabu, 16 Agustus 2017

Sementara




"Sementara akan kukarang cerita, Tentang mimpi jadi nyata... Untuk asa kita berdua."

“Apa Kabar?”
Dua buah kata yang bagaikan memberi makan ego, memekarkan bunga yang hampir layu kembali, dan menjawab semua tanya tentang ruang waktu yang sempat terlompati. Hari ini, rindu terobati... entah esok, entah lusa, yang jelas hari ini ia sembuh.
Semesta memainkan perannya di tengah asa yang memudar, Waktu seolah bergerak sinusoidal untuk menjemput kembali, diantara langkah kaki yang nyaris tak pernah beranjak. Diantara cerita-cerita yang masih berjejak.

“Aku Rindu...”
Klise untuk mengatakan tentang rasa yang sebenarnya, klise untuk menafikan diri untuk berkata jujur. Biarlah rindu berada diujung dahi kita masing-masing tanpa pernah terucap. Paling tidak binar mata tak mampu berbohong.

Seolah hari ini aku kembali menggali kotak yang berisikan kumpulan cerita dan memainkannya kembali hanya untuk mengenyangkan rindu. Lagi-lagi bibirku tersenyum mengenang semuanya, karena hanya waktu yang kala itu mengalahkan setiap pertemuan. Karena setiap cerita bersamamu begitu menyenangkan, meski hanya mendengarkan ceritamu di sebuah sudut rumah kopi yang bahkan tak kamu sukai.

Kanvas imajinasiku berlari-lari melukiskan detail garis waktu kala itu, menghapus hadirmu adalah hal tersulit bagiku, di momen terburuk serta terhebat yang diselingi wajahmu, sang kuas menari-nari lincah, lalu berhenti untuk menambahkan sesuatu; entah air mata atau lengkungan senyum.

Seperti hari itu, di momen terhebatmu yang sekaligus salah satu momen burukku, mengamatimu dari jauh adalah salah satu kebodohanku kala itu, tapi aku memang sebodoh itu, demi menunggu dan mengabadikan senyuman banggamu dari jauh dan mendapati engkau yang tersenyum riang bersama pria mu kala itu...  di hari wisudamu.

Kita adalah lingkaran waktu yang kembali ke titik asalnya, yang membedakan adalah kematangan dan bagasi kenangan masing-masing. Biarlah semesta berkonspirasi, menemukan celah-celah kehidupan yang entah bergerak kemana. Menuju akhir cerita dan memastikan setiap rasa, yang jelas hari ini adalah bahagiaku, entah esok atau lusa.

“Percayalah hati lebih dari ini, pernah kita lalui. Takkan lagi kita jauh melangkah... untuk sementaraaaa.”

Solok, Sumatera Barat. 

Kamis, 01 September 2016

Dark Alley

Izinkan aku merangkai kata kembali

Tentang sebuah malam yang entah mengapa begitu sunyi
Tentang sebuah cerita yang entah harus bahagia atau menangis
Sementara, aku berkawan dengan riangnya geliat kelelapan
Berjalan sendirian menuju tempat melihat angkasa
Memikirkan cara melangkah menuju jalan terang
Lalu meninggalkan semua yang kelam.

Tak ada yang selamanya, begitu juga sepi yang melekat
Warna-warna berlari-larian lalu bintang melukis riuhnya langit
Seakan memohon untuk digapai menggoda hasrat
Biarkan… Biarkaaan…

Berdiam dan terdiam berkawan, berpegang tangan manja
Demi membunuh sisa-sisa kehidupan yang terkikis
Waktu berjalan cepat mengingatkan setiap kosong
Berlari tapi hasrat bermimpi bak palang henti.

Tak ada yang selamanya, begitu juga badai yang menerjang
Ada saatnya menyapu serpihan kekhawatiran lalu menggapai
Waktu tak akan dapat menahan ego yang begitu kuat
Biarkan… Biarkaaan…

Besar menjadi kecil, lalu kecil perlahan membesar

Bukan mati diterpa duniawi, bukan hancur dimakan arang

Senin, 09 Mei 2016

Setengah 5 Sore



Selamat malam pemilik suara yang meneduhkan, hari ini aku memimpikanmu, entah kenapa semua hal tentangmu seakan merasuk dan mengembalikan cerita lampau, di mimpiku kamu tersenyum, sebuah lengkungan yang lama tak ku lihat di bibirmu. Aku menari bersama sang malam, aku bertamasya dengan kelam, malam terasa begitu bergelora ketika pintu mimpiku kau ketuk.


Mereka bilang mimpi tentang seseorang mengartikan adanya rindu dari tokoh di alam mimpi, ah biarkan tafsir-tafsir itu bermain. Mungkin alam bawah sadarku yang merindukanmu, merangkai kisah yang sempurna lalu hancur ketika pagi menguratkan cahayanya. Mimpi itu hanya datang sekali, sekali namun di masa yang melonjakan semua rindu. Entah rindu entah kekecewaan, aku sudah tak dapat membedakan.


Peri kecil seolah berbagi kebahagiaan dan menceritakan semua dongeng romansa. Menurutku cinta tidak begitu syahdunya, biarlah aku menjadi antagonis yang mengerutkan kening, menjadikanku matahari garang yang pergi ketika malam tiba. Pangeran berkuda putih dengan pakaian menawan tak selamanya berkawan. Mimpi alam bawah sadar lebih realis dari dongeng Cinderella. Biarlah perlahan buku ini tertutup hingga halaman terakhir.


Jarak mengambil perannya, jarak menemukan maksudnya lalu berhenti di titik akhirnya. Kenangan tersimpan, keraguan berkawan. Rindu telah mati dibunuh sepi, perjalanan tak mencapai tujuan. Haru menjadi lawan, sendu bersemayam. Sesungguhnya waktu adalah jawaban, tak ada yang tak pernah sembuh oleh waktu. Namun begitulah, tak selamanya juga pagi terlalu cepat datang.


Sudah saatnya aku berkemas, meninggalkan nyanyian burung di taman yang sedang bermesraan manja dengan kenangan. Menghidupkan rindu-rindu lain, memupuk dan merawatnya. Bukan menanam luka meski kita tak pernah saling membenci.

Rabu, 16 September 2015

Senja yang terbuat dari rinai hujan



Bau kopi-nya semerbak, Suasananya terkesan vintage dengan nuansa kayu yang berwarna coklat menuju krem, interior dengan segala ornamen-ornamen dan ambience yang temaram menemani sore yang akan segera berganti menjadi gelap. Aku masih asyik menghisap rokok ku sambil sesekali menghirup kemasan biji kopi yang terletak di meja barista, biji kopi sachet besar yang sengaja diberi bolongan-bolongan agar bau-nya dapat dirasakan tanpa harus membuka kemasan, seandainya kamarku memiliki wangi seperti ini aku pasti mudah terlelap.

Jakarta hari itu seolah tak mau meninggalkan persona-nya secuil pun, kemacetan di tambah hujan sore itu memaksa para pegawai seirama menepikan kendaraannya sejenak, termasuk diriku. Sebenarnya bisa saja aku pulang dengan mantel motor ke rumah lalu segera merebahkan badan, toh rumah ku tak sejauh para pegawai di kantorku yang lain, tapi aku benci rutinitas, kali ini sengaja kuparkirkan vespa ku di sebuah coffee shop yang memang barista-nya sudah ku kenal beberapa bulan terakhir.

"Nih Boi, pesenan lu. Hot Chocolate dan ini gula lo" Redy menyerahkan pesananku ditambah dua sachet gula rendah kalori. Ia tahu kalau aku selalu memakai gula yang ku bawa sendiri sejak hari pertama aku duduk di 'Ruang Kopi'.

"Makasi Boi..." Jawabku sambil meletakkan sachet besar biji kopi yang sejak tadi asyik ku mainkan dan ku hirup.

"Oiya Boi, gue tinggal bentar yah? Gue mau ngambil susu dulu, stok tinggal sedikit nih."

"Okeh"

"Ntar kalo ada apa-apa, sama Arina aja yah" Redy menunjuk salah seorang barista yang baru pertama kali kulihat hari itu. Arina terlihat mengangguk tanda meng-iyakan, barista baru sepertinya, wajahnya nampak innocent dan ada sedikit ketakutan kala ditinggal Redy.

"Ooooh okeh sip..."

"Arina yah namanya? baru disini ya?"

"Iyah mas, baru dua minggu, part time aja disini sambil skripsian soalnya, jadi lumayan banyak waktu"

"Oooh iyah. Bulan lalu aku kesini belom keliatan kayaknya, aku Tama" Kita saling mengangguk tanpa bersalaman

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ruang Kopi adalah salah satu tempat yang menjadi saksi dalam perjalanan cerita ku, perjalanan dalam mencari seseorang yang ketika melihat atau bersamanya dalam pikiranku akan mengangguk dan berkata "She's the One".
Sahabat-sahabatku kadang menyebut diriku seorang yang 'picky', setelah aku beberapa kali menyudahi pendekatanku dengan orang-orang yang dikenalkan sebelum benar-benar dekat, aku selalu menyanggah disebut pemilih seperti yang dilabeli mereka.

"Gak ada yang sempurna Tam, inget ada satu hal yang gak akan pernah bisa lo lawan, waktu" Tegas Gege mengingatkanku. Gege adalah salah satu sahabatku yang pernah mengenalkan teman kantornya denganku, dan berakhir hanya sekali pertemuan dan tiga kali telponan.

"Apa yang salah dengan mencari seseorang yang memiliki satu hobi sama gue?"

"Aduuuh Tam, apa sih yang kurang dari seorang Sean, udah cantik, karirnya bagus, dan yang penting dia ngasih lampu ijo, kenapa lo malah berenti sih?" Kali ini Reisa yang sibuk menceramahiku setelah aku tak lagi menghubungi sepupu jauhnya.

"Gak ada chemistry, gue ngerasa she's not the one." Jawabku lemah.

"Terus lo masih mau nyari cewek yang sesuai sama hobi langka lo itu? Baca buku Pramoedya Ananta Tour dan Puisi Sapardi Djoko Damono, atau mendengarkan lagu dari Band band indie berkesan jadul yang entah apa judulnya dari vinyl di kamar lo itu? ingat Tam, sekarang 2015." Reisa sudah mulai gerah dengan statementku tadi.

"Gak gitu juga, gue mengidolakan wanita yang suka membaca buku, gue mengangumi aksara dan gue harap dia sama, gak harus sastrawan atau penyair, gue menyukai banyak penulis muda, Aan Mansyur, Adhitya Mulya, Pidi Baiq, dan banyak lainnya. Begitu juga musik, Gue mencintai setiap not yang dihadirkan oleh musisi idealis, bukan pengejar pundi pundi rupiah yang semakin gak jelas arah rimbanya. Dialog dini hari, Sore, Balllad of the Cliche, Banda Neira, atau sekelas Efek Rumah Kaca contohnya."

"Waktu jalan sama Sean, ku dengar ringtone handphone-nya bunyi, Armada - Pergi Pagi Pulang Pagi" Sambungku beberapa saat setelahnya, nampak Reisa menahan ludah mendengar statementku, Gege tertawa lepas.

"Mungkin dia Armada Ranger garis keras! Hahahaha... Waktu lo pergi sama dia, dia gak pake kaos A4P kan? Armada Pergi Pagi Pulang Pagi? Hahahaha" Gege masih asyik dengan imajinasinya sambil asyik tertawa.

"Tam! Oke gue akuin kalo selera musiknya gak sama atau se-asyik elo, tapi itu kan bagian dari selera, lagian juga elo masih bisa ngubah semuanya kan? Sisi bagus dia masih banyak kok!" Reisa seolah membenarkan namun masih tak ingin kalah.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari sudah menunjukkan pukul 20.40, aku masih terhanyut dengan kesendirianku hari itu, ditengah sebuah tempat bernama Ruang Kopi yang pekat aroma kopi dan nuansa kayu, aku mengagumi interior dan ambience yang dihadirkan di ruangan ini. Hujan sudah mulai berdamai dengan jalan Jakarta, satu persatu pengunjung kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Arina sedang sibuk membereskan meja sisa pengunjung, mencucinya dan sesekali tersenyum ketika lewat dihadapanku. Wajahnya terlihat sederhana tanpa banyak polesan seperti wanita kebanyakan, apron yang ia kenakan terlihat matching dengan jilbab coklatnya. Kuperhatikan ia sibuk memainkan handphone-nya dan sesaat kemudian dicolokkan ke main speaker.
"Semesta bicara tanpa bersuara
 Semesta ia kadang buta aksara
 Sepi itu indah, percayalah
 Membisu itu anugerah"
Sesaat aku terkejut, terdengar jelas suara dari Ananda Badudu dan Rara Sekar merangkum satu ruangan bernama Ruang Kopi malam itu, Arina terlihat tersenyum sendiri, wajahnya teduh dan terlihat senang mendengar lagu yang ia putar dari iPhone-nya.

"Mas, saya Sholat Isya dulu ya? Nanti kalo ada pelanggan minta tolong suruh duduk aja dulu ya mas?" Arina bertanya dan hanya kujawab dengan anggukan.

Lalu ia mengambil mukena yang terletak didalam tas-nya seraya mengeluarkan buku lalu memasukkannya kembali, Aku tau buku itu dari sampulnya, sebuah buku yang baru-baru ini ku beli di Gramedia. 'Sapardi Djoko Damono - Hujan Bulan Juni'.

"Arina, itu buku-nya Sapardi? Hujan Bulan Juni?" Kupastikan penglihatanku tak salah.

"Iya mas," Jawabnya heran

"Suka?"

"Menurut aku, gak ada penyair lain yang bisa mendefinisikan hujan seindah Sapardi Djoko Damono" Aku tersenyum sambil memerhatikan kedua mata Arina yang terlihat canggung.

"Permisi Mas".


“tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni 
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni 
dihapusnya jejak-jejak kakinyayang ragu-ragu di jalan itu 
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni 
dibiarkannya yang tak terucapkan 
diserap akar pohon bunga itu”  
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni


Padang, 6 Agustus 2015












Minggu, 26 Juli 2015


Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Entah kenapa aku ingin menulis tentang mu hari ini (lagi). Tentang kamu yang hilang tapi masih dalam jangkauan. Tentang kamu yang entah kapan mendeklarasikan selesainya percakapan kita. Tentang kamu yang membangun tinggi-tinggi sebuah perbatasan agar aku tak dapat memanjatnya, padahal cukup kamu bilang 'Stop' saja aku tidak akan berani masuk selangkah pun, ya aku sebegitu penurutnya.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Aku belum bodoh, terlebih gila... Setiap neuron di pikiranku masih berfungsi selayaknya, seperti hal-nya percakapan-percakapan santai kita di awal pertemuan, seperti cerita-cerita yang selalu kamu bagi setiap malamnya, seperti aksara yang terkirim melalui smartphone kita, semua nya normal dan terjadi begitu saja. Ya, sebelum lahirnya ekspektasi atau gurauan orang di sekeliling kita, mungkin awalnya semua adalah rahasia.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Sungguh satu persoalan pun tak aku mengerti tentang cerita ini, kamu yang datang, kamu yang tertawa, kamu yang menangis, kamu yang bercerita lalu kamu yang pergi, seperti lucid dream yang tiba-tiba terbangunkan, awalnya semua seolah nyata, seolah wajah yang ku tatap dekat itu benar milik mu, seolah suara yang kudengar itu tepat suara mu, lalu aku tersentak dan semuanya bohong. Tidak ada lagi suara yang menceritakan entah tangis entah tawa, tidak ada lagi referensi tentang musik yang secara kebetulan selera kita sama dan sama seperti mimpi, semuanya tanpa penjelasan.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Secangkir ekspresso panas tanpa gula, uuuh... membayangkannya saja sudah terasa betapa pahit ketika mengalir di kerongkongan, tapi kamu meminumnya dengan santai lalu berbincang hangat. Deburan ombak mungkin akan selalu menjadi hal yang kuingat tentang dirimu, semoga sama halnya seperti kamu, tidak usah kita ceritakan lagi, mari kita masukkan ke dalam kotak biar terkunci rapat lalu ku buang ke tengah lautan, yang pasti aku masih akan selalu mengingat isi di dalam kotak itu.


Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Kita bercerita tentang gunung, tentang laut, tentang pantai tentang ombak. Asap rokok yang bergumul, ampas kopi yang menggumpal, lantunan musik yang semarak di udara, lalu selipan rahasia yang terekat. Kamu yang menyadarkan aku kalau dunia ini adalah sebuah playground untuk berpetualang, atau hanya berlari-larian dengan pemandangan belakang pegunungan atau pantai yang kamu sukai. Ya, setiap tempat mempunyai rasa-nya masing-masing, memiliki cerita yang dibubuhkan untuk di kenang sewaktu-waktu dan kamu yang menutup semua cerita ini tanpa tanda titik. Dan aku yang masih saja menunggu kamu untuk menutup dan memberikan tanda titik di akhir cerita ini.





Rabu, 08 April 2015

Untukmu yang kujumpai di hari senin

Hari ini aku seolah terbang kembali ke masa lalu, sebuah harddisk dari komputer lama berhasil diperbaiki teman kantorku, kupindahkan semua file yang berada didalamnya, file-file yang sudah sangat lama tak pernah kulihat. Sebuah folder bertuliskan 'Segala yang indah' merangkum satu masa di dalamnya. Masa putih abu-abu, masa yang kata orang penuh cerita, penuh rasa, penuh warna. Aku pertama kali merasakan pacaran pun di masa ini. Terlambat memang kalau melihat teman-temanku yang sejak SMP sudah berkali-kali bertukar pasangan tapi ya sudahlah, toh ini bukan sebuah perlombaan.

Sebuah Mp3 player dan kamera pocket adalah barang wajib selain buku pelajaran yang selalu ku bawa setiap harinya menuju ke sekolah. Mp3 player yang menjadi teman ku dijalan selama perjalan menuju ke sekolah jalan kaki, yah sekolah ku tidak lebih dari 500 meter jaraknya, dan kamera pocket yang memaksa ku menghabiskan seluruh tabungan demi merangkum cerita melalui gambar-gambar didalamnya.

Sosok didalam sebuah foto menyita perhatianku hari itu. Windy Senja Putri, sosok yang menjadi cerita di akhir masa SMA ku, sosok yang sepertinya hanya dia yang memiliki folder khusus di harddisk-ku dengan nama "Senja", sama seperti nama tengahnya. Satu hal yang menjadi pertanyaan ku saat ini "Sudah Menikah?"

Hari itu hari senin, aku diingatkan oleh sebuah foto yang terpampang dilayar komputerku, seorang gadis mungil dengan baju putih dan rok putih duduk disebelahku sambil mendengarkan Mp3 milikku tanpa menatap ke kamera, begitu juga dengan diriku yang tepat disebelahnya. Sebuah foto yang diambil candid oleh seorang temanku, sepertinya kita sedang asyik mendengar lagu sambil melihat pertunjukkan yang digelar disekolah.

"Kamu mau jadi apa suatu hari nanti?" tanyanya didalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Aku... hmmm, aku pengen jadi orang yang bisa keliling dunia. kenapa nanya begitu?"
"Pengen tau aja, aku pengen jadi dosen, lulusan luar negri, hmmm... paris." jawabnya sumringah
"Amiiin." kuperhatikan wajahnya, ada senyum kecil disana, lesung pipinya semakin dalam akibat senyum itu, pandangannya asyik ke arah jalan.

Kembali kuperhatikan foto dilayar komputerku,melihat-lihat foto lainnya dan berhenti pada sebuah foto yang menampilkan sebuah band dengan vokalis perempuan, acara promosi provider disekolah, satu hal yang kembali menyeruak dalam ingatanku adalah hujan. Yap, hari itu senin dan hujan. sang vokalis dan bandnya seolah tidak perduli dengan rintikan hujan dilapangan pagi menjelang siang itu, lagu yang dinyanyikan berjudul "I Will Fly" lagu romantis yang juga ada di Mp3 playerku. Aku meng-capture gambar hari itu dari kamera pocketku dibawah pohon rindang bersama kamu yang tepat berada disebelahku, menikmati setiap nada, merasakan setiap kata. lagu selanjutnya kembali dinyanyikan, "Love is You - Ten 2 Five".

Let me love you
With all my heart
You are the one for me
You are the light in my soul
Let me hold you
With my arms
I wanna feel love again
Cuz I know
Love is you...
Senin, sepulang sekolah. Aku sedang asyik nongkrong-nongkrong dikantin sambil menunggu rapat ekstrakuliluker yang kuikuti, rapat pemilihan ketua yang baru. Sebuah sms mendarat di ponsel ku, dari Windy, memintaku menemuinya di ruangan kelas. Aku ingat karena sebuah foto ditengah rapat yang diambil oleh adik kelasku jelas menampilkan mood ku sedang tidak baik saat itu. Ekspresiku ini memang tidak bisa dibohongi, ketika kesal, marah, senang, atau menyimpan sesuatu dikepalaku semua terlihat jelas tanpa perlu ditanyakan.

"Kamu tau kan?" tanya-nya dengan nada setengah tinggi
"Tau apa? Kamu ngomong apa sih? kok tiba-tiba marah begini"
"Aku tau kalo kamu tau semuanya kok Tam... Tentang hubungan aku"
"Sama dia? Iya aku tau, aku tau semuanya" kupotong kata-katanya, nada bicaraku ikut tinggi
"...." suasana dikelas hening dalam beberapa waktu, terlihat wajahnya yang menahan tangis
"Aku takut Tam, aku takut, aku semakin nyaman sama kamu" Bicaranya tertahan, mungkin oleh air mata.
"Aku sayang sama kamu Win, itu aja... aku gak perduli tentang dia"
"Tapi aku perduli..." Air matanya jatuh tak terbendung, hari itu hanya ruangan kelas yang menjadi saksi.
"....." aku tak bisa menjawab atau sekedar melanjutkan argumen dari kata-kata terakhirnya.
"Sekarang kamu mau kita kayak gimana?"
"Aku gak tau" jawabnya terisak
"Win... Udah nangisnya" kuseka air mata yang menetes dari sudut matanya dengan ibu jariku, entah kenapa, aku seolah tak sudi membiarkan pipinya dibasahi air mata, terlebih karena diriku.
"Aku mulai sekarang pergi dari hidup kamu, aku gak akan bersikap seperti kemarin, aku yang bodoh ngedeketin kamu yang sejak awal aku udah tau kamu punya cowok. Maafin aku ya Win, makasih buat lima bulan terakhir ini, kamu tetep spesial buat aku."
"....." Windy masih terdiam, kutinggalkan ia dalam keadaan seperti itu.

Sore hari-nya sebuah sms mendarat di handphone bututku,
"Tam...?"
Kuletakkan HP-ku dikantong celana tanpa keinginan membalas, yah... sejak awal aku tau dan mengerti kondisi ku, Windy sudah menjalin hubungan dengan pasangannya kurang lebih dua tahun, dan setahu ku satu tahun terakhir mereka menjalankan hubungan jarak jauh. Pacarnya yang lebih tua dua tahun harus kuliah di luar kota. Yah, memang aku si bodoh yang mencoba mendapatkan keuntungan dari kondisi ini. Hari itu aku memutuskan untuk menyerah, harus ada yang mengalah dalam hal ini, dan aku lah sang pendosa yang mencoba hadir dan berharap. Kuputuskan untuk pergi, meninggalkan cerita dan rasa yang bahkan sejak awal aku sudah mengetahui endingnya.

Jam hari itu sudah menunjukkan pukul 20.45 WITA, kuputuskan menyudahi berada di depan layar laptop yang sudah menyita waktu ku dari sore hari sepulang dari proyek dilapangan, senin selalu menjadi hari yang padat. Pantas saja, aku belum makan malam ternyata, keasyikan flashback dengan kenangan lama. Kuambil kunci mobil yang tergeletak di meja ruang tamu, begitu pun dengan Handphone ku yang sedang di charge, dua buah notifications dari Path, satu buah surat di mailing list, dan satu buah notification dari BBM.

Windy Senja Putri Invited You to chat over Blackberry Messenger.           

T:  "Hai, Win... Apa Kabar?"
W: "Baik Tam, Kamu?"
T:  "Aku baik, Stay dimana sekarang?"
W: "Aku di Jakarta kok, Kamu? Kayaknya sibuk banget ya bapak engineer ini, hahaha"
T:  "Gak ah, Aku kan cuma kuli, kamu tuh yang sibuk banget kayaknya sepulang dari paris, menyenangkan ngajar?"
W: "Bangeeet, I love doin' my dream job... kamu dimana sekarang?"
T:  "Aku di lepas pantai Kalimantan Timur"
W: "....."
T:  "Win."
W: "Ya."
T: "Sudah menikah?"
W: "Belum, belum ada yang cocok kayaknya..."

Perhatianku tertuju kepada secarik kertas diatas meja, sebuah tiket perjalanan yang baru sore tadi kudapatkan. "Hatta/Tama Wira/Mr. BPN - CGK".


Padang, Maret 2015

Kamis, 16 Januari 2014

Lelaki Yang Menangis




Raut wajahnya tenang, menunggu sepertinya sudah menjadi sahabat baginya, bisa ia bunuh bisa ia nikmati. Perlahan langit senja memalingkan wajahnya, mundur secara berkala, merahnya bagai tersipu malu dan berubah menjadi pekat. Lalu gerimis datang seolah berperan menjadi penghibur, bermain pantomim dihadapannya, membisu dalam ruang yang ia ciptakan sendiri. Wajahnya berubah sendu, mungkin bosan atau mungkin juga lelah, ia menengadahkan kepalanya seolah mencari jawaban diantara awan hitam, hanya kesunyian yang didapatnya.


Dalam diam air mata lelaki itu berjatuhan, tetes demi tetes tanpa pernah berani ia seka, diantara gerimis hujan, pekatnya malam, bintang yang enggan menyapa, dan angin yang menghangatkan. Bibirnya bergumam seolah ingin berbicara, hanya giginya yang bergemeretakan, matanya berkaca-kaca mengharu, hari itu... jam itu...  adalah sebuah perpisahan terakhirnya. Sudah hampir tujuh tahun, semua ingatan seakan bermain-main dipikirannya dan waktu ternyata tidak cukup tangguh menyembuhkan ingatannya. 

Senin, 26 November 2012

Melankolia



"Bagaimana kalau gaya gravitasi itu hilang? Apa aku menjadi bisa mencintai kata cinta?"

Mereka menyebut itu cinta, bagiku hanya sapaan sarkastik.
Bagaimana mungkin ketika sebuah perasaan bisa tersenyum dan berkata riang lalu ditepian pohon mahony berdiri lunglai seseorang yang benar" mencintai.
Kunyalakan sebatang rokokku, asapnya menghitam, semakin lama semakin pekat. Angin sore tak lagi menyejukkan, daun" yang berguguran pun tak lagi bernuansa romantis, semua hanya aksesoris diantara senja yang tak lagi meneriakkan kenyamanan.

"Sudah berapa lama disini?" Sapaan itu mengejutkanku
"Sudah hampir satu jam" Jawabku malas.
Seorang gadis yang sudah hampir tiga tahun aku kenal, meletakan tasnya dan duduk dihadapanku, ia melihat kearah asbak, tersenyum miris, empat batang puntung rokok tergeletak tidak berguna.
"Masih berteman dengan ini?" tanyanya sambil mengangkat sebungkus rokok yang tersisa setengahnya tepat diantara mataku dan matanya
"Ya, mungkin ini adalah teman terbaikku saat ini" kuambil barang tersebut dari tangannya, mengeluarkan sebatang lalu menyalakan mancis dan meletakkan kembali disebelah bungkus rokok. kuisap panjang dan menghembuskan perlahan.
"Bodoh..." Gumammu pelan.
"Coba kamu lihat mereka" kukeluarkan satu batang lagi dari bungkus rokok tadi, kuletakkan tepat disebelah mancis.
"Mereka berteman akrab, mereka saling melengkapi, mereka ada karena satu sama lain, mereka adalah sebab dan akibat, aku lebih memilih untuk tidak memiliki keduanya daripada hanya dapat menyimpan satu diantaranya" Aku melanjutkan.
"Kamu terlalu mudah dalam menyimpulkan" ia mematahkan teori sekaligus rokokku bersamaan.
"Itu karena aku selalu yakin dalam memilih"
"Aku rasa kamu akan selalu menjadi pemimpin yang bijak, paling tidak untuk diri kamu sendiri"
"Tidak, aku masih belum bisa menjinakkan hatiku"
Detik berdetak tiga kali, lalu suaramu memecah bisu sekelebat.
"Oh iya, aku lupa bertanya, Apa kabar?" Sebuah nada yang indah, aku tau maksudmu bukan mengalihkan alur pembicaraan, hanya tidak pernah ingin mengubah kebiasaan lama.
"Masih sama, masih menunggu pagi..."
________________________________________________________________________________

Lagi-lagi mereka menyebut itu cinta, aku menyebutnya ambisi semu.
Berlari dan terengah-engah, mencari lalu kehilangan, berbicara tentang kebahagiaan, menjaga selama-lamanya. lalu apa lagi?
Sabtu malam, lagi-lagi lagu cinta, film drama percintaan, kata-kata mutiara bertaburkan pujian, kenapa tidak kepedihan saja yang mereka tawarkan, bukankah dunia ini menuntut keseimbangan?

"Mana mimpi kamu dihari kemarin?"
"Mati ditelan gelombang ombak" Kujawab pasrah
"Aku ingin kita berteman selama-lamanya"
"Itu hanya janji bodoh jika aku mengucapkan hal serupa"
"Memangnya kamu tidak ingin menjalin hari-hari seperti ini selamanya" kamu meyakinkan
"Tidak, kalau hari ini aku bertemu kamu dan besok aku bertemu dengan seorang wanita berparas cantik dan berpakaian indah aku akan mengejarnya dan lebih memilih menyayanginya sampai ia berucap seperti dirimu hari ini"
"Lalu kenapa kamu tidak lelah untuk menunggu harapan yang semu ini yang tidak pernah ditawarkan untukmu, aku tidak ingin melihat kamu seperti ini"
"Jika kita harus berpisah dan tidak bertemu lagi aku rela, aku hanya sedang menebak-nebak hari itu, batinku siap" Aku menutup percakapan setelah melihat butiran air mata disudut matamu.
Engkau menangis, menangis sepi, menangis hampa, sekitar 5menit, aku mengusap air mata dipipimu satu kali, lalu membiarkan air mata selanjutnya.
"Kamu berpura-pura sedih"
"Tidak, aku berpura-pura bahagia" Aku menjawab lirih
"Aku ingin kita dekat lalu kamu menolak"
"Suatu saat aku akan memohon agar kita jauh"
Gadis itu berlalu, matanya sembab, pipinya memerah, perlahan ia menghilang dari kejauhan, hatinya berbisik dari kejauhan "Aku tidak akan memutuskan sebuah hubungan terlalu cepat karena aku tidak ingin kehilangan terlalu cepat, kamu akan mengetahuinya suatu saat nanti, aku yang selalu mencoba tegar dan mendoakanmu, aku menangis bukan karena lemah, aku tersenyum bukan karena bahagia, satu hal yang pasti... kamu selalu menjadi tempat terindahku dalam berbagi, kamu dan dunia kamu, menarik".

Kita lebih dari teman meskipun hanya sesekali bersama, kita bukan pribadi-pribadi yang sedang menjalin hubungan penuh kata cinta meskipun kita saling menjaga, kita bukan musuh yang saling mencaci dengan sumpah serapah saat membenci meskipun terkadang tusukan menghujam perih, kita ada hanya karena kebetulan" kecil yang tak pernah dipersiapkan...


P.S.: Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan siapa. mengapa dan bagaimana...