Rabu, 07 Desember 2011

Hati - hati dengan Dunia...

Judul ini adalah sebuah kata” yang diucapkan seseorang ke gue melalui SMS pada tanggal 6 desember 2011, jujur gue terdiam dikala itu, yang gue inget saat itu adalah beberapa menit sebelum maghrib, dan malemnya gue abis nonton ‘Jakarta Maghrib’ sebuah film semi Religi menurut gue, yang dibuat oleh Salman Aristo, menceritakan kesibukkan orang di Jakarta Sewaktu Maghrib, gue merasakan hebatnya film ini karena gue merasa berada didalemnya. Mushola yang ditinggal, tetangga yang tak lagi saling berbincang, semua terasa nyata disekitar gue.



Balik Ke Judul, Pada saat itu gue duduk ditangga kostan sendiri, melihat matahari yang hampir menutup jam kerjanya, awan yang mendominasi dengan cahaya kemerahan, merah saga. Kata – kata itu diucapkan melalui sebuah SMS yang berbicara tentang Puasa Asyura, 9, 10, 11 Muharram, Bahkan gue lupa dengan tanggal tersebut, padahal gue inget kalo belom lama itu tahun baru Islam, dan gue menjawab SMS dengan jujur kalo gue lupa tentang tanggal itu, padahal puasa Asyura dan Tasu adalah puasa yang baik setelah puasa Ramadhan. Ketika itu kebetulan gue lagi SMSan ama temen Rohis SMA, salah satu sahabat juga, gue cerita tentang keadaan gue yang sekarang yang udah Futur (Turunnya kualitas iman seoang muslim –red)  dia bilang “Coba renungkan, bandingin diri lo yang sekarang dg waktu SMA, ktika masih bergaul ma Eko, gue, Bang Erwin, renungkan RENUNGKAN” temen gue ini emang agak slank sih buat ukuran anak Rohis, tapi gue harus ngakuin ilmu agamanya luarbiasa, padahal waktu kelas satu SMA gue yang ngajakin dia ke Mesjid (bener kan jik, jangan lo pungkiri ini semua, BUDAK!! Hahaha), kata”nya emang agak narsis sih, tapi gue tetep merenungkan. Yep, Gue berubah, Gue dan semua tentang gue saat ini, kebiasaan kebiasaan bodoh sekarang udah jauh dengan kehidupan gue dulu.



Berubah? Yah, kata ini terasa begitu memukul saat ini, kenapa gue bisa begitu berubah? Pergaulan kah? Lingkungan kah? Pola Hidup kah? Semua berubah, saat ini gue pengen teriak “GUE KANGEN DENGAN KEHIDUPAN GUE YG DULUUU...” sampe tahun kedua kuliah, gue masih ngerasa gue adalah Riczky Syaputra yang bisa mengontrol diri sendiri, dengan orang-orang luarbiasa disekitar gue, mereka selalu ada ternyata, SMA gue punya abang” di Rohis yang selalu ngingetin akan hal-hal kecil yang mengantar kita ke gerbang surga Allah, bahkan minum pun gw selalu jongkok atau duduk, gue juga selalu diingetin buat gabung LiQo, membahas tentang Islam, membedah buku, mengikuti kepanitian, Mabid dimasjid, Pesantren Kilat, berlomba”  saat Adzan menuju masjid, bahkan sholat duha dijam istirahat lebih kami pilih dibandingkan main poker dikelas. Semua terasa begitu syahdu saat ini, ingin kembali kesana untuk merasakan hangatnya sapaan mereka.

Kuliah Tahun awal ketika masih kost di Gerbang Unand, gue punya abang” yang beda umur sampe 4 tahun, Bang Abduh yang ketua KAMMI SumBar, Bang Asyep Senior Elektro yang Prinsipil, Bang Dahlon dengan jenggot sangat panjangnya, Bang Abbas yang wawasannya dibawah Wikipedia sedikit, ahahaha... Mereka selalu mengantar kearah kebaikan, mengingatkan disaat lupa, mengajak disaat malas, ingat Mushalla Al-Hayah? Lokasinya tepat disebrang kost lama, siapa yang sholat disitu? Hanya bapak gaek berdua dengan saudaranya, dan kita anak kost selalu berjemaah disana, meramaikan mushalla, bahkan kultum diantara jemaah musholla yang tak seberapa itu, gue inget kalo sering cerita-cerita banyak dengan mereka, sering curhat tentang kehidupan, tiga kali puasa gue masih bareng dengan mereka sampai akhir tahun 2009 semua dari mereka wisuda, disana banyak sekali pelajaran yang luarbiasa, kita pernah membahas tentang Islam Liberal, para kader-kader yang ternyata telah merajalela dikampus, dan yang paling gue suka adalah kalo kita ngebahas jodoh secara Islami, ta’aruf, khitbah, dan menikah. Kata-kata yang pernah kita bahas sewaktu SMA tapi tidak pernah mendetail sebelum bertemu abang” ini. Sekarang dua orang dari abang” dikost itu udah nikah lo... Mereka benar” melakukannya secara Islami.

Gue pernah bercerita tentang Eko Wira Susilo, seorang sahabat, saudara, gue pernah nangis pas meluk (friend hug before you judge me something weird) dia sebelum berangkat ke Padang, gak didepan dia juga sih, tapi itu terjadi secara reflek oleh airmata gue, lebay yah? Gak tau ah, gue bilang ke dia “Lo salah seorang yang ngerubah hidup gue ko”  eko terdiam, turun dari mobil gue dan berterima kasih dan gue berkaca sampai airmata ini turun gitu aja, melanjutkan perjalanan ditengah riuhnya ibukota. Eko adalah sosok luarbiasa yang sangat berpengaruh dikehidupan gue, gimana gak? Dia yang bikin gue lebih mengenal Allah lebih, dia yang bikin kaki gue berjalan nyaman kearah mesjid ketika adzan diserukan.

Siapa Eko Wira Susilo? Dia adalah bocah yang tumbuh dan berkembang di Jawa, berangkat ke Jakarta dengan nyokapnya dan adiknya yang paling kecil, Catur nama adiknya. Gue kenal Eko sejak kelas 1 SMP, kita sekelas 3 tahun, dan masuk ke SMA yang sama. Eko adalah bocah Pintar sekaligus Cerdas tapi pendiam diwaktu SMP beda dengan gue yang terlalu hyperactive, meskipun 3 tahun sekelas, gue gak begitu deket sama Eko, deket sih tapi sebatas main bola bareng, main PeeS bareng, ngegambar bareng, dia hebat banget masalah gambar landscape -mungkin bakat seni dari bokapnya yang seorang seniman- tapi gue gak pernah tau siapa Eko sebenarnya, gue cuma tau dia sosok yang luarbiasa, nyokapnya pernah kerja sebagai pembantu rumah tangga dikomplek rumah gue, dan semenjak itu dia sangat jarang maen PeeS kerumah gue.

Sampai ketika SMA, gue bener” ngerasa dia adalah Saudara gue. Kita disatuin oleh sebuah Organisasi Ekstrakulikuler bernama Paskibra, satu angkatan di sebuah wadah bernama  XIX, 19, bhielazt. Gue pernah mengundurkan diri ketika lolos seleksi PASKIBRAKA karena Eko gak lolos, gw mengundurkan diri dengan harapan kalo gue ngundurin diri Eko bisa masuk, gue denger kalo lolos di PASKIBRAKA DKI bakal dapet beasiswa sampe kuliah S1, gue lebih mementingkan sahabat gue itu setelah tau semua tentang ekonominya yang tidak bisa dibilang baik, kenyataan berpihak lain, kita ikut seleksi lagi (setelah gue mengundurkan diri) dan Eko tetep gak lolos, dia bilang supaya gue terus aja, gue gabung di Paskibraka tanpa dia. Semua sudah diatur begitu indah ternyata, Eko jadi Ketua Rohis diSeolah dan sukses dengan studinya, dia sempet ngajar buat dapetin uang lebih dan gue masih selalu terkagum-kagum dengan sosok itu. Banyak cerita bersama sosok luarbiasa itu selama kita menjadi keluarga di PASKIBRA SMA 1 Jakarta, Paskib bener” nyatuin orang-orang yang tadinya hanya sekedar kenal menjadi saudara yang abadi, mungkin sampai salah satu dari kita hilang di dunia ini.

Eko Wira Susilo, sekarang dia udah lulus dari STIS (setelah lulus SPMB Arsitektur UI dan Ujian Masuk D3 STAN), entah kemana dia sekarang, dia bilang dia mau nikah sebelum ditugaskan ditempat yang jauh akibat ikatan dinas, gue cuma bisa ngasih do’a buat dia dari sini. Entah apa yang dia lakuin ke gue, tapi gue mengenal dia lebih jauh dan selalu kagum dengan sosok dia, ketika dia ke Mesjid, gue selalu ngintilin dan ikut masuk ke mesjid, mengenal sosok” lain yang seperti dia, ketika adzan berkumandang dan dia mengajak untuk menyegarakan ke Mesjid untuk berjamaah, seakan terhipnotos, gue ikut dengan ajakannya, ketika mengajak Liqo di Forum Rohis dan entah kenapa gue udah ada diantar majelis dan ketika dia mengajak i’tikaf ditengah malam, entah kenapa gue mengiyakan dan kita bermalam diMesjid bahkan ketika pemilihan ketua umum Rohis gue ada digaris depan nyuport Eko dengan berbagai macam argumen. Banyak cerita luarbiasa bersama sosok luarbiasa ini, satu hal yang selalu teringat kalo gue ada diantara sosok beliau: “Islam itu Indah” dan beliau menginspirasi dengan cara yang indah.

Padang Maghrib, tersadar kembali dengan sebuah SMS, “Hati-hati sm dunia mpu :p” mungkin SMS ini terkesan simple, tapi menggugah, bahkan terpukul, gue kembali mengingat setiap hal yang gue lakuin saat ini, mpu yang sekarang memang terlalu mengejar dunia, kemana setiap kegiatan yang dulu terasa nyaman dan menggebu untuk persiapan ke akhirat? Kemana saya sekarang setiap adzan itu dikumandangkan dengan merdu? Kemana saya di 1/3 malam terakhir saat yang paling luarbiasa untuk menangis dan memohon kepadaNya? Kemana saya saat  buku-buku penggugah jiwa itu terasa sangat menyenangkan untuk dibaca sebelum tidur?  Kemana sosok” yang dulu sering saya temui diMasjid kampus dan bersalaman menjaga silaturahmi?

Sekarang? Buku-buku yang dulu menceritakan indahnya Islam berubah menjadi buku-buku entrepreneur, buku-buku yang lebih memotivasi untuk menjadi kaya, bukankah didalam Islam juga mengajarkan untuk menjadi kaya? lalu kenapa saya tidak berjalan beriringan dengan cara yang lebih islami? Ketika Adzan pun saya masih sering sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak sebanding sebenarnya, kenapa semua terasa begitu ‘Ambisius’ saya kerjakan, kenapa saya harus bercapek-capek ria untuk meraih mimpi itu sendiri dan sedikit melibatkanNya, kenapa saya tidak lebih memfokuskan untuk memohon dan menangis kepada Allah yang telah menjanjikan banyak hal untuk hambanya yang meminta, bukankah dulu saya melakukan itu? bukankah saya memohon dan menangis untuk meminta mimpi” yang saya rancang dan Allah mengabulkannya? Bukankah semua PASTI terwujud karena janji Allah begitu luarbiasa. Aku akan terus meraih mimpi” itu... Hati ini mungkin terasa sangat keras saat ini, sudah lama sekali saya tidak melunakkannya, sekarang waktunya...  Berusaha dan Berdoa. Terima Kasih untuk mengingatkan ExtraOrdinary Woman...

1 komentar:

  1. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    BalasHapus