Senin, 30 Oktober 2017

Selamat Pagi wahai Sore di penghujung Malam



"Melukiskan wajahmu di otakku setiap pagi adalah kemampuan sekaligus hobi terhebat ku"

Pagi menghadirkan sebuah cerita tentang rasa, rasa terbangun dari mimpi semalam, rasa merajut kenangan tentang perjalanan, rasa tentang secangkir kopi pahit dan aroma pagi. Bahagia atau bermain dengan kelam, pagi mengambil andilnya dalam memutuskan. Pagi adalah perjalanan dan langkah kaki menuju hari esok yang entah bagaimana. Pagi datang setiap hari untuk dipilih, memilih kanan atau kiri, depan atau belakang. Mengawali rangkaian cerita dan sebagai pembuka asa dari dari ruang gambar yang hampir memudar.

Klise dan tak mampu dipungkiri, perjalanan mencapai titik penghabisan, selayaknya waktu sore hari di kala hujan reda yang menghapus jejak-jejak hingga nyaris hilang. riuhnya kendaraan yang berganti menjadi tenang berlatarkan melodi jingga. Cahaya temaram yang mengantar jalan menuju pulang, membawa wajah lelah yang sesak dimakan rasa. Diantara ruang waktu yang terlalu lama bersemayam, perlahan diam dan memutuskan untuk sirna, entah kemana angin membawa pergi.

Malam menghabiskan waktu menghapus janji yang pernah terucap, ribuan kata yang pernah saling berbalas, dan lengkung senyum yang menjadi penghias. Janji yang tak mampu ditepati, pesan yang setiap katanya menambah porsi harap, senyum yang setiap inchinya menambah damba. masa yang setiap terkenang membunuh sadar. Singgah yang tak pernah berakhir menjadi sungguh. Cerita dan setiap simpang di dalam perjalanan, lampu dan lukisan yang berderet di sepanjang jalan, lalu semesta memaksa untuk henti.



Terima kasih untuk kopi pahit dan aroma pagi...

Selasa, 10 Oktober 2017

Menagih Janji






Dear yang telah melupakan dan dilupakan...

Hey, kamu... Apa kabar? Masih menjadi kamu sampai hari ini? atau sudah berubah karena mengganggap beberapa sesuatu yang bias lalu kamu definisikan "Gila".
Lima Tahun! Yap... Sudah lima tahun, sejak hari dimana aku menanyakan sebuah mimpi, lebih mungkin, tapi biarlah aku masih belum bisa bercerita banyak dengan mimpi itu. lalu kamu? mungkin secangkir kopi hitam pahit kesukaanmu tidak akan sanggup menjadi peneman cerita dari semua yang sudah kamu lakukan. Maaf kalau mimpiku berubah, banyak hal yang membuat tanganku tak mampu lagi menggapai cerita-cerita manis yang kutuliskan dalam secarik kertas.

Hey, kamu... Sudah berubah kah selera musik kamu? atau kita masih memiliki cara pandang yang sama mengenai nada? tentang aksara yang meneduhkan, tentang daun yang berguguran, tentang hujan yang melukis langit, tentang waktu yang bergerak mundur. Tahu tidak? terkadang pola pikirmu merusak duniaku, merusak tiap syaraf tingkah ku, maaf jika aku tak lagi mengagumimu, sepertinya lima tahun cukup untuk mengagumimu, ingat! hanya kagum, tak lebih. Oh iya, kalau selera musik kita masih sama, aku merekomendasikan Payung Teduh ya? Band ini sama seperti wajah kamu, selalu meneduhkan.

Hey, kamu... masih ingat cerita kita? tentang ombak, asap dan perjalanan. Ah, sudahlah... aku lupa bahwa aku gila, cerita itu pasti sudah terlupakan, semoga suatu saat ada mimpi yang membawanya ke dalam ingatanmu ya. Oh iya kemarin aku mencarimu, tak kutemui, sepertinya aku masih bodoh dalam mencari, mungkin takut tertangkap basah bahwa aku sedang mencari, sama seperti halnya kamu yang selalu bersembunyi. Ingat tidak hari itu? aaaah... betapa bodohnya aku untuk memaksamu mengingat hal-hal tidak penting itu. Tapi biarlah, yang penting aku senang. Ingat tidak hari itu, hari dimana kita berjanji akan saling culik menculik, hahaha... Watu itu aku pikir kita ini seperti dua anak kecil yang bernyanyi riang ditaman yang penuh mainan.

Hey, kamu... bertahun-tahun kita tak saling sapa, entah karena mimpi kita yang tak lagi sama atau mungkin cerita kita yang telah berbeda. Aku sadar betul bahwa aku telah menyimpang jauh dari rel yang seharusnya, tapi aku 100% yakin kamu masih berjalan di trek yang sama, betul kan? kalau tidak bagaimana bisa kawanku mengabari kehadiranmu di sore itu sedang bermain-main dengan mimpi-mimpimu. Mungkin jikalau aku hadir dan menyapa... aaah tidak, tentu saja aku tidak akan menyapamu terlebih dahulu, untuk apa? toh kata-kata selamat tinggal pun tak pernah terucap.

Hey, kamu... bagaimana mungkin hari itu kamu bisa kembali menyapaku? bagaimana mungkin layar di kaca handphone ku kembali menghadir namamu? Oh iya. aku baru tersadar setelah beberapa baris kalimat dari mu. Sebuah undangan pernikahan yang kamu tautkan bersama sebuah gambar beserta denah tempat diberlangsungkan resepsi dan akad nikah. Aku bergumam "Oh, akhirnya setelah sekian lama" lalu kubalas dengan ucapan maaf karena aku sedang berada di lain kota karena pekerjaan. Entah kenapa aku harus meminta maaf, tapi hari itu doaku tulus untukmu, agar semua proses berjalan dengan lancar dan kamu diberi kebahagiaan bersama priamu, sungguh aku tulus dan terima kasih telah mengundangku.

Padang, 2014

Rabu, 16 Agustus 2017

Sementara




"Sementara akan kukarang cerita, Tentang mimpi jadi nyata... Untuk asa kita berdua."

“Apa Kabar?”
Dua buah kata yang bagaikan memberi makan ego, memekarkan bunga yang hampir layu kembali, dan menjawab semua tanya tentang ruang waktu yang sempat terlompati. Hari ini, rindu terobati... entah esok, entah lusa, yang jelas hari ini ia sembuh.
Semesta memainkan perannya di tengah asa yang memudar, Waktu seolah bergerak sinusoidal untuk menjemput kembali, diantara langkah kaki yang nyaris tak pernah beranjak. Diantara cerita-cerita yang masih berjejak.

“Aku Rindu...”
Klise untuk mengatakan tentang rasa yang sebenarnya, klise untuk menafikan diri untuk berkata jujur. Biarlah rindu berada diujung dahi kita masing-masing tanpa pernah terucap. Paling tidak binar mata tak mampu berbohong.

Seolah hari ini aku kembali menggali kotak yang berisikan kumpulan cerita dan memainkannya kembali hanya untuk mengenyangkan rindu. Lagi-lagi bibirku tersenyum mengenang semuanya, karena hanya waktu yang kala itu mengalahkan setiap pertemuan. Karena setiap cerita bersamamu begitu menyenangkan, meski hanya mendengarkan ceritamu di sebuah sudut rumah kopi yang bahkan tak kamu sukai.

Kanvas imajinasiku berlari-lari melukiskan detail garis waktu kala itu, menghapus hadirmu adalah hal tersulit bagiku, di momen terburuk serta terhebat yang diselingi wajahmu, sang kuas menari-nari lincah, lalu berhenti untuk menambahkan sesuatu; entah air mata atau lengkungan senyum.

Seperti hari itu, di momen terhebatmu yang sekaligus salah satu momen burukku, mengamatimu dari jauh adalah salah satu kebodohanku kala itu, tapi aku memang sebodoh itu, demi menunggu dan mengabadikan senyuman banggamu dari jauh dan mendapati engkau yang tersenyum riang bersama pria mu kala itu...  di hari wisudamu.

Kita adalah lingkaran waktu yang kembali ke titik asalnya, yang membedakan adalah kematangan dan bagasi kenangan masing-masing. Biarlah semesta berkonspirasi, menemukan celah-celah kehidupan yang entah bergerak kemana. Menuju akhir cerita dan memastikan setiap rasa, yang jelas hari ini adalah bahagiaku, entah esok atau lusa.

“Percayalah hati lebih dari ini, pernah kita lalui. Takkan lagi kita jauh melangkah... untuk sementaraaaa.”

Solok, Sumatera Barat. 

Senin, 20 Februari 2017

Just in case i die, go to my home, not my social media.

This blog should be full of post if i never save what i wrote in draft.

Kadang menuliskan rasa atau cerita terasa begitu fana kalau gue ungkapin di blog ini, i'm not standing on that line anymore, nulis status di facebook becandaan atau sekedar ngetwit gak jelas. Even gue malah mikir kalau gue gak pengen orang tau dimana dan sedang apa gue, i prefer and i always think that people gonna ask me privately if they really want to know where i am or what i am doing, it's more personal i thought. Social media telah membuat hidup menjadi terlalu sombong untuk sekedar bertanya "Apa kabar?" bahkan gak jarang social media membuat tahu banyak dari orang tersebut hanya dari timeline atau feed instagram, they open to public what they do and where they are.

"Eh, gue liat di Path lo abis jalan-jalan ke Fakfak ya?"
"Si A gak bisa ikut kayaknya, gue liat di instagram dia lagi di Timbuktu"

I hate this things, i hate this conversation, i get wedding invitation by whatsapp group that make me uncomfortable to come because it's not personal. I even forget my friends name when they're not exist in social media, i even call my friend by their socmed account. How pathetic this life must be. This shit is real. We're not Kim Kardhasian and her family, even the superior Ahmad Dhani can't stop this.


I should wrote more like this, it makes me feel good.

Kamis, 01 September 2016

Tak ada yang selamanya...

Dark Alley

Izinkan aku merangkai kata kembali

Tentang sebuah malam yang entah mengapa begitu sunyi
Tentang sebuah cerita yang entah harus bahagia atau menangis
Sementara, aku berkawan dengan riangnya geliat kelelapan
Berjalan sendirian menuju tempat melihat angkasa
Memikirkan cara melangkah menuju jalan terang
Lalu meninggalkan semua yang kelam.

Tak ada yang selamanya, begitu juga sepi yang melekat
Warna-warna berlari-larian lalu bintang melukis riuhnya langit
Seakan memohon untuk digapai menggoda hasrat
Biarkan… Biarkaaan…

Berdiam dan terdiam berkawan, berpegang tangan manja
Demi membunuh sisa-sisa kehidupan yang terkikis
Waktu berjalan cepat mengingatkan setiap kosong
Berlari tapi hasrat bermimpi bak palang henti.

Tak ada yang selamanya, begitu juga badai yang menerjang
Ada saatnya menyapu serpihan kekhawatiran lalu menggapai
Waktu tak akan dapat menahan ego yang begitu kuat
Biarkan… Biarkaaan…

Besar menjadi kecil, lalu kecil perlahan membesar

Bukan mati diterpa duniawi, bukan hancur dimakan arang

Selasa, 21 Juni 2016

Jari jemari



Jari jemari memainkan nada-nada lirih
Dalam akustik ruangan yang menahan angan.
Angin malam bersemayam menitipkan pesan,
di antara dingin yang  berkecamuk,
Di dalam sela-sela jaket hitam - abu ia merasuk.


Jari jemari menggambarkan wajah sedih.
Waktu adalah berkawan sekaligus melawan
Detik dan Menit tak kuasa tertahan.
Perihal rasa yang sedang berpuasa, menanti hasrat untuk berbuka
Di dalam kemeja kotak-kotak yang masih pada tempatnya.


Bayangkan Rangkaian kata itu, bagaikan rindu yang sekali lagi dihembuskan.

Untuk sebuah percakapan yang belum selesai



Lihat! Rona merah di pipimu adalah sebuah hal fana
Yang menari riang menebarkan serbuk harap

Tak ada yang lebih bodoh dari menarik kata yang sudah terlontarkan
Keputusan memainkan perannya.


Penantian telah dinanti cukup panjang diantara doa
Embun pagi dan sunyi malam berlarian sambil bersenandung
Waktu enggan berjalan mundur, lalu perlahan maju bersama kesepian
Menginginkan ternyata sebegitu menyakitkan.


Sang Nelayan melaut mengayuh sampan
Riak danau bergemericik dalam damai
Emosi dan Rasa ingin memiliki bercampur dalam ruang hampa
Hanya agar luka tak lagi menjadi teman teh hangat di pagi hari.





Karena kita hanya kebetulan kecil yang sengaja dipertemukan Tuhan.

Senin, 09 Mei 2016

Setengah 5 Sore



Selamat malam pemilik suara yang meneduhkan, hari ini aku memimpikanmu, entah kenapa semua hal tentangmu seakan merasuk dan mengembalikan cerita lampau, di mimpiku kamu tersenyum, sebuah lengkungan yang lama tak ku lihat di bibirmu. Aku menari bersama sang malam, aku bertamasya dengan kelam, malam terasa begitu bergelora ketika pintu mimpiku kau ketuk.


Mereka bilang mimpi tentang seseorang mengartikan adanya rindu dari tokoh di alam mimpi, ah biarkan tafsir-tafsir itu bermain. Mungkin alam bawah sadarku yang merindukanmu, merangkai kisah yang sempurna lalu hancur ketika pagi menguratkan cahayanya. Mimpi itu hanya datang sekali, sekali namun di masa yang melonjakan semua rindu. Entah rindu entah kekecewaan, aku sudah tak dapat membedakan.


Peri kecil seolah berbagi kebahagiaan dan menceritakan semua dongeng romansa. Menurutku cinta tidak begitu syahdunya, biarlah aku menjadi antagonis yang mengerutkan kening, menjadikanku matahari garang yang pergi ketika malam tiba. Pangeran berkuda putih dengan pakaian menawan tak selamanya berkawan. Mimpi alam bawah sadar lebih realis dari dongeng Cinderella. Biarlah perlahan buku ini tertutup hingga halaman terakhir.


Jarak mengambil perannya, jarak menemukan maksudnya lalu berhenti di titik akhirnya. Kenangan tersimpan, keraguan berkawan. Rindu telah mati dibunuh sepi, perjalanan tak mencapai tujuan. Haru menjadi lawan, sendu bersemayam. Sesungguhnya waktu adalah jawaban, tak ada yang tak pernah sembuh oleh waktu. Namun begitulah, tak selamanya juga pagi terlalu cepat datang.


Sudah saatnya aku berkemas, meninggalkan nyanyian burung di taman yang sedang bermesraan manja dengan kenangan. Menghidupkan rindu-rindu lain, memupuk dan merawatnya. Bukan menanam luka meski kita tak pernah saling membenci.