Rabu, 16 Agustus 2017

Sementara




"Sementara akan kukarang cerita, Tentang mimpi jadi nyata... Untuk asa kita berdua."

“Apa Kabar?”
Dua buah kata yang bagaikan memberi makan ego, memekarkan bunga yang hampir layu kembali, dan menjawab semua tanya tentang ruang waktu yang sempat terlompati. Hari ini, rindu terobati... entah esok, entah lusa, yang jelas hari ini ia sembuh.
Semesta memainkan perannya di tengah asa yang memudar, Waktu seolah bergerak sinusoidal untuk menjemput kembali, diantara langkah kaki yang nyaris tak pernah beranjak. Diantara cerita-cerita yang masih berjejak.

“Aku Rindu...”
Klise untuk mengatakan tentang rasa yang sebenarnya, klise untuk menafikan diri untuk berkata jujur. Biarlah rindu berada diujung dahi kita masing-masing tanpa pernah terucap. Paling tidak binar mata tak mampu berbohong.

Seolah hari ini aku kembali menggali kotak yang berisikan kumpulan cerita dan memainkannya kembali hanya untuk mengenyangkan rindu. Lagi-lagi bibirku tersenyum mengenang semuanya, karena hanya waktu yang kala itu mengalahkan setiap pertemuan. Karena setiap cerita bersamamu begitu menyenangkan, meski hanya mendengarkan ceritamu di sebuah sudut rumah kopi yang bahkan tak kamu sukai.

Kanvas imajinasiku berlari-lari melukiskan detail garis waktu kala itu, menghapus hadirmu adalah hal tersulit bagiku, di momen terburuk serta terhebat yang diselingi wajahmu, sang kuas menari-nari lincah, lalu berhenti untuk menambahkan sesuatu; entah air mata atau lengkungan senyum.

Seperti hari itu, di momen terhebatmu yang sekaligus salah satu momen burukku, mengamatimu dari jauh adalah salah satu kebodohanku kala itu, tapi aku memang sebodoh itu, demi menunggu dan mengabadikan senyuman banggamu dari jauh dan mendapati engkau yang tersenyum riang bersama pria mu kala itu...  di hari wisudamu.

Kita adalah lingkaran waktu yang kembali ke titik asalnya, yang membedakan adalah kematangan dan bagasi kenangan masing-masing. Biarlah semesta berkonspirasi, menemukan celah-celah kehidupan yang entah bergerak kemana. Menuju akhir cerita dan memastikan setiap rasa, yang jelas hari ini adalah bahagiaku, entah esok atau lusa.

“Percayalah hati lebih dari ini, pernah kita lalui. Takkan lagi kita jauh melangkah... untuk sementaraaaa.”

Solok, Sumatera Barat.