Kamis, 01 September 2016

Tak ada yang selamanya...

Dark Alley

Izinkan aku merangkai kata kembali

Tentang sebuah malam yang entah mengapa begitu sunyi
Tentang sebuah cerita yang entah harus bahagia atau menangis
Sementara, aku berkawan dengan riangnya geliat kelelapan
Berjalan sendirian menuju tempat melihat angkasa
Memikirkan cara melangkah menuju jalan terang
Lalu meninggalkan semua yang kelam.

Tak ada yang selamanya, begitu juga sepi yang melekat
Warna-warna berlari-larian lalu bintang melukis riuhnya langit
Seakan memohon untuk digapai menggoda hasrat
Biarkan… Biarkaaan…

Berdiam dan terdiam berkawan, berpegang tangan manja
Demi membunuh sisa-sisa kehidupan yang terkikis
Waktu berjalan cepat mengingatkan setiap kosong
Berlari tapi hasrat bermimpi bak palang henti.

Tak ada yang selamanya, begitu juga badai yang menerjang
Ada saatnya menyapu serpihan kekhawatiran lalu menggapai
Waktu tak akan dapat menahan ego yang begitu kuat
Biarkan… Biarkaaan…

Besar menjadi kecil, lalu kecil perlahan membesar

Bukan mati diterpa duniawi, bukan hancur dimakan arang

Selasa, 21 Juni 2016

Jari jemari



Jari jemari memainkan nada-nada lirih
Dalam akustik ruangan yang menahan angan.
Angin malam bersemayam menitipkan pesan,
di antara dingin yang  berkecamuk,
Di dalam sela-sela jaket hitam - abu ia merasuk.


Jari jemari menggambarkan wajah sedih.
Waktu adalah berkawan sekaligus melawan
Detik dan Menit tak kuasa tertahan.
Perihal rasa yang sedang berpuasa, menanti hasrat untuk berbuka
Di dalam kemeja kotak-kotak yang masih pada tempatnya.


Bayangkan Rangkaian kata itu, bagaikan rindu yang sekali lagi dihembuskan.

Untuk sebuah percakapan yang belum selesai



Lihat! Rona merah di pipimu adalah sebuah hal fana
Yang menari riang menebarkan serbuk harap

Tak ada yang lebih bodoh dari menarik kata yang sudah terlontarkan
Keputusan memainkan perannya.


Penantian telah dinanti cukup panjang diantara doa
Embun pagi dan sunyi malam berlarian sambil bersenandung
Waktu enggan berjalan mundur, lalu perlahan maju bersama kesepian
Menginginkan ternyata sebegitu menyakitkan.


Sang Nelayan melaut mengayuh sampan
Riak danau bergemericik dalam damai
Emosi dan Rasa ingin memiliki bercampur dalam ruang hampa
Hanya agar luka tak lagi menjadi teman teh hangat di pagi hari.





Karena kita hanya kebetulan kecil yang sengaja dipertemukan Tuhan.

Senin, 09 Mei 2016

Setengah 5 Sore



Selamat malam pemilik suara yang meneduhkan, hari ini aku memimpikanmu, entah kenapa semua hal tentangmu seakan merasuk dan mengembalikan cerita lampau, di mimpiku kamu tersenyum, sebuah lengkungan yang lama tak ku lihat di bibirmu. Aku menari bersama sang malam, aku bertamasya dengan kelam, malam terasa begitu bergelora ketika pintu mimpiku kau ketuk.


Mereka bilang mimpi tentang seseorang mengartikan adanya rindu dari tokoh di alam mimpi, ah biarkan tafsir-tafsir itu bermain. Mungkin alam bawah sadarku yang merindukanmu, merangkai kisah yang sempurna lalu hancur ketika pagi menguratkan cahayanya. Mimpi itu hanya datang sekali, sekali namun di masa yang melonjakan semua rindu. Entah rindu entah kekecewaan, aku sudah tak dapat membedakan.


Peri kecil seolah berbagi kebahagiaan dan menceritakan semua dongeng romansa. Menurutku cinta tidak begitu syahdunya, biarlah aku menjadi antagonis yang mengerutkan kening, menjadikanku matahari garang yang pergi ketika malam tiba. Pangeran berkuda putih dengan pakaian menawan tak selamanya berkawan. Mimpi alam bawah sadar lebih realis dari dongeng Cinderella. Biarlah perlahan buku ini tertutup hingga halaman terakhir.


Jarak mengambil perannya, jarak menemukan maksudnya lalu berhenti di titik akhirnya. Kenangan tersimpan, keraguan berkawan. Rindu telah mati dibunuh sepi, perjalanan tak mencapai tujuan. Haru menjadi lawan, sendu bersemayam. Sesungguhnya waktu adalah jawaban, tak ada yang tak pernah sembuh oleh waktu. Namun begitulah, tak selamanya juga pagi terlalu cepat datang.


Sudah saatnya aku berkemas, meninggalkan nyanyian burung di taman yang sedang bermesraan manja dengan kenangan. Menghidupkan rindu-rindu lain, memupuk dan merawatnya. Bukan menanam luka meski kita tak pernah saling membenci.

Sabtu, 19 Maret 2016

Di antara nada dan aksara

foto from @druthersco in their twitter

MENUA BERDUA

Written by Febry Rufiandhy
Arranged by Febry Rufiandhy & Aditya Sidhi


Berjalan bersamamu takkan pernah
menjadi sesuatu yang menjemukan
Kuingin selalu didekatmu
memandang wajahmu yang menggemaskan

Bercerita tentang hidup kita nanti
Menanti hari-hari dan bermimpi

Aku ingin menua berdua denganmu
Kurasa damainya kala berdua
Menua menjadi tua

Dan kupercaya esok nanti
kan lebih terasa indah
bersama buah hati kita tertawa
​bersuka cita

-Senar Senja


Untuk kamu yang entah kapan menjadi bagian dari perjalanan hidup Aku, dan menjadi teman untuk Menua Berdua...