Rabu, 16 September 2015

Senja yang terbuat dari rinai hujan



Bau kopi-nya semerbak, Suasananya terkesan vintage dengan nuansa kayu yang berwarna coklat menuju krem, interior dengan segala ornamen-ornamen dan ambience yang temaram menemani sore yang akan segera berganti menjadi gelap. Aku masih asyik menghisap rokok ku sambil sesekali menghirup kemasan biji kopi yang terletak di meja barista, biji kopi sachet besar yang sengaja diberi bolongan-bolongan agar bau-nya dapat dirasakan tanpa harus membuka kemasan, seandainya kamarku memiliki wangi seperti ini aku pasti mudah terlelap.

Jakarta hari itu seolah tak mau meninggalkan persona-nya secuil pun, kemacetan di tambah hujan sore itu memaksa para pegawai seirama menepikan kendaraannya sejenak, termasuk diriku. Sebenarnya bisa saja aku pulang dengan mantel motor ke rumah lalu segera merebahkan badan, toh rumah ku tak sejauh para pegawai di kantorku yang lain, tapi aku benci rutinitas, kali ini sengaja kuparkirkan vespa ku di sebuah coffee shop yang memang barista-nya sudah ku kenal beberapa bulan terakhir.

"Nih Boi, pesenan lu. Hot Chocolate dan ini gula lo" Redy menyerahkan pesananku ditambah dua sachet gula rendah kalori. Ia tahu kalau aku selalu memakai gula yang ku bawa sendiri sejak hari pertama aku duduk di 'Ruang Kopi'.

"Makasi Boi..." Jawabku sambil meletakkan sachet besar biji kopi yang sejak tadi asyik ku mainkan dan ku hirup.

"Oiya Boi, gue tinggal bentar yah? Gue mau ngambil susu dulu, stok tinggal sedikit nih."

"Okeh"

"Ntar kalo ada apa-apa, sama Arina aja yah" Redy menunjuk salah seorang barista yang baru pertama kali kulihat hari itu. Arina terlihat mengangguk tanda meng-iyakan, barista baru sepertinya, wajahnya nampak innocent dan ada sedikit ketakutan kala ditinggal Redy.

"Ooooh okeh sip..."

"Arina yah namanya? baru disini ya?"

"Iyah mas, baru dua minggu, part time aja disini sambil skripsian soalnya, jadi lumayan banyak waktu"

"Oooh iyah. Bulan lalu aku kesini belom keliatan kayaknya, aku Tama" Kita saling mengangguk tanpa bersalaman

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ruang Kopi adalah salah satu tempat yang menjadi saksi dalam perjalanan cerita ku, perjalanan dalam mencari seseorang yang ketika melihat atau bersamanya dalam pikiranku akan mengangguk dan berkata "She's the One".
Sahabat-sahabatku kadang menyebut diriku seorang yang 'picky', setelah aku beberapa kali menyudahi pendekatanku dengan orang-orang yang dikenalkan sebelum benar-benar dekat, aku selalu menyanggah disebut pemilih seperti yang dilabeli mereka.

"Gak ada yang sempurna Tam, inget ada satu hal yang gak akan pernah bisa lo lawan, waktu" Tegas Gege mengingatkanku. Gege adalah salah satu sahabatku yang pernah mengenalkan teman kantornya denganku, dan berakhir hanya sekali pertemuan dan tiga kali telponan.

"Apa yang salah dengan mencari seseorang yang memiliki satu hobi sama gue?"

"Aduuuh Tam, apa sih yang kurang dari seorang Sean, udah cantik, karirnya bagus, dan yang penting dia ngasih lampu ijo, kenapa lo malah berenti sih?" Kali ini Reisa yang sibuk menceramahiku setelah aku tak lagi menghubungi sepupu jauhnya.

"Gak ada chemistry, gue ngerasa she's not the one." Jawabku lemah.

"Terus lo masih mau nyari cewek yang sesuai sama hobi langka lo itu? Baca buku Pramoedya Ananta Tour dan Puisi Sapardi Djoko Damono, atau mendengarkan lagu dari Band band indie berkesan jadul yang entah apa judulnya dari vinyl di kamar lo itu? ingat Tam, sekarang 2015." Reisa sudah mulai gerah dengan statementku tadi.

"Gak gitu juga, gue mengidolakan wanita yang suka membaca buku, gue mengangumi aksara dan gue harap dia sama, gak harus sastrawan atau penyair, gue menyukai banyak penulis muda, Aan Mansyur, Adhitya Mulya, Pidi Baiq, dan banyak lainnya. Begitu juga musik, Gue mencintai setiap not yang dihadirkan oleh musisi idealis, bukan pengejar pundi pundi rupiah yang semakin gak jelas arah rimbanya. Dialog dini hari, Sore, Balllad of the Cliche, Banda Neira, atau sekelas Efek Rumah Kaca contohnya."

"Waktu jalan sama Sean, ku dengar ringtone handphone-nya bunyi, Armada - Pergi Pagi Pulang Pagi" Sambungku beberapa saat setelahnya, nampak Reisa menahan ludah mendengar statementku, Gege tertawa lepas.

"Mungkin dia Armada Ranger garis keras! Hahahaha... Waktu lo pergi sama dia, dia gak pake kaos A4P kan? Armada Pergi Pagi Pulang Pagi? Hahahaha" Gege masih asyik dengan imajinasinya sambil asyik tertawa.

"Tam! Oke gue akuin kalo selera musiknya gak sama atau se-asyik elo, tapi itu kan bagian dari selera, lagian juga elo masih bisa ngubah semuanya kan? Sisi bagus dia masih banyak kok!" Reisa seolah membenarkan namun masih tak ingin kalah.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari sudah menunjukkan pukul 20.40, aku masih terhanyut dengan kesendirianku hari itu, ditengah sebuah tempat bernama Ruang Kopi yang pekat aroma kopi dan nuansa kayu, aku mengagumi interior dan ambience yang dihadirkan di ruangan ini. Hujan sudah mulai berdamai dengan jalan Jakarta, satu persatu pengunjung kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Arina sedang sibuk membereskan meja sisa pengunjung, mencucinya dan sesekali tersenyum ketika lewat dihadapanku. Wajahnya terlihat sederhana tanpa banyak polesan seperti wanita kebanyakan, apron yang ia kenakan terlihat matching dengan jilbab coklatnya. Kuperhatikan ia sibuk memainkan handphone-nya dan sesaat kemudian dicolokkan ke main speaker.
"Semesta bicara tanpa bersuara
 Semesta ia kadang buta aksara
 Sepi itu indah, percayalah
 Membisu itu anugerah"
Sesaat aku terkejut, terdengar jelas suara dari Ananda Badudu dan Rara Sekar merangkum satu ruangan bernama Ruang Kopi malam itu, Arina terlihat tersenyum sendiri, wajahnya teduh dan terlihat senang mendengar lagu yang ia putar dari iPhone-nya.

"Mas, saya Sholat Isya dulu ya? Nanti kalo ada pelanggan minta tolong suruh duduk aja dulu ya mas?" Arina bertanya dan hanya kujawab dengan anggukan.

Lalu ia mengambil mukena yang terletak didalam tas-nya seraya mengeluarkan buku lalu memasukkannya kembali, Aku tau buku itu dari sampulnya, sebuah buku yang baru-baru ini ku beli di Gramedia. 'Sapardi Djoko Damono - Hujan Bulan Juni'.

"Arina, itu buku-nya Sapardi? Hujan Bulan Juni?" Kupastikan penglihatanku tak salah.

"Iya mas," Jawabnya heran

"Suka?"

"Menurut aku, gak ada penyair lain yang bisa mendefinisikan hujan seindah Sapardi Djoko Damono" Aku tersenyum sambil memerhatikan kedua mata Arina yang terlihat canggung.

"Permisi Mas".


“tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni 
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni 
dihapusnya jejak-jejak kakinyayang ragu-ragu di jalan itu 
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni 
dibiarkannya yang tak terucapkan 
diserap akar pohon bunga itu”  
― Sapardi Djoko DamonoHujan Bulan Juni


Padang, 6 Agustus 2015












Minggu, 26 Juli 2015


Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Entah kenapa aku ingin menulis tentang mu hari ini (lagi). Tentang kamu yang hilang tapi masih dalam jangkauan. Tentang kamu yang entah kapan mendeklarasikan selesainya percakapan kita. Tentang kamu yang membangun tinggi-tinggi sebuah perbatasan agar aku tak dapat memanjatnya, padahal cukup kamu bilang 'Stop' saja aku tidak akan berani masuk selangkah pun, ya aku sebegitu penurutnya.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Aku belum bodoh, terlebih gila... Setiap neuron di pikiranku masih berfungsi selayaknya, seperti hal-nya percakapan-percakapan santai kita di awal pertemuan, seperti cerita-cerita yang selalu kamu bagi setiap malamnya, seperti aksara yang terkirim melalui smartphone kita, semua nya normal dan terjadi begitu saja. Ya, sebelum lahirnya ekspektasi atau gurauan orang di sekeliling kita, mungkin awalnya semua adalah rahasia.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Sungguh satu persoalan pun tak aku mengerti tentang cerita ini, kamu yang datang, kamu yang tertawa, kamu yang menangis, kamu yang bercerita lalu kamu yang pergi, seperti lucid dream yang tiba-tiba terbangunkan, awalnya semua seolah nyata, seolah wajah yang ku tatap dekat itu benar milik mu, seolah suara yang kudengar itu tepat suara mu, lalu aku tersentak dan semuanya bohong. Tidak ada lagi suara yang menceritakan entah tangis entah tawa, tidak ada lagi referensi tentang musik yang secara kebetulan selera kita sama dan sama seperti mimpi, semuanya tanpa penjelasan.

Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Secangkir ekspresso panas tanpa gula, uuuh... membayangkannya saja sudah terasa betapa pahit ketika mengalir di kerongkongan, tapi kamu meminumnya dengan santai lalu berbincang hangat. Deburan ombak mungkin akan selalu menjadi hal yang kuingat tentang dirimu, semoga sama halnya seperti kamu, tidak usah kita ceritakan lagi, mari kita masukkan ke dalam kotak biar terkunci rapat lalu ku buang ke tengah lautan, yang pasti aku masih akan selalu mengingat isi di dalam kotak itu.


Dear, Pemilik Suara Yang Meneduhkan...
Kita bercerita tentang gunung, tentang laut, tentang pantai tentang ombak. Asap rokok yang bergumul, ampas kopi yang menggumpal, lantunan musik yang semarak di udara, lalu selipan rahasia yang terekat. Kamu yang menyadarkan aku kalau dunia ini adalah sebuah playground untuk berpetualang, atau hanya berlari-larian dengan pemandangan belakang pegunungan atau pantai yang kamu sukai. Ya, setiap tempat mempunyai rasa-nya masing-masing, memiliki cerita yang dibubuhkan untuk di kenang sewaktu-waktu dan kamu yang menutup semua cerita ini tanpa tanda titik. Dan aku yang masih saja menunggu kamu untuk menutup dan memberikan tanda titik di akhir cerita ini.





Rabu, 08 April 2015

Untukmu yang kujumpai di hari senin

Hari ini aku seolah terbang kembali ke masa lalu, sebuah harddisk dari komputer lama berhasil diperbaiki teman kantorku, kupindahkan semua file yang berada didalamnya, file-file yang sudah sangat lama tak pernah kulihat. Sebuah folder bertuliskan 'Segala yang indah' merangkum satu masa di dalamnya. Masa putih abu-abu, masa yang kata orang penuh cerita, penuh rasa, penuh warna. Aku pertama kali merasakan pacaran pun di masa ini. Terlambat memang kalau melihat teman-temanku yang sejak SMP sudah berkali-kali bertukar pasangan tapi ya sudahlah, toh ini bukan sebuah perlombaan.

Sebuah Mp3 player dan kamera pocket adalah barang wajib selain buku pelajaran yang selalu ku bawa setiap harinya menuju ke sekolah. Mp3 player yang menjadi teman ku dijalan selama perjalan menuju ke sekolah jalan kaki, yah sekolah ku tidak lebih dari 500 meter jaraknya, dan kamera pocket yang memaksa ku menghabiskan seluruh tabungan demi merangkum cerita melalui gambar-gambar didalamnya.

Sosok didalam sebuah foto menyita perhatianku hari itu. Windy Senja Putri, sosok yang menjadi cerita di akhir masa SMA ku, sosok yang sepertinya hanya dia yang memiliki folder khusus di harddisk-ku dengan nama "Senja", sama seperti nama tengahnya. Satu hal yang menjadi pertanyaan ku saat ini "Sudah Menikah?"

Hari itu hari senin, aku diingatkan oleh sebuah foto yang terpampang dilayar komputerku, seorang gadis mungil dengan baju putih dan rok putih duduk disebelahku sambil mendengarkan Mp3 milikku tanpa menatap ke kamera, begitu juga dengan diriku yang tepat disebelahnya. Sebuah foto yang diambil candid oleh seorang temanku, sepertinya kita sedang asyik mendengar lagu sambil melihat pertunjukkan yang digelar disekolah.

"Kamu mau jadi apa suatu hari nanti?" tanyanya didalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Aku... hmmm, aku pengen jadi orang yang bisa keliling dunia. kenapa nanya begitu?"
"Pengen tau aja, aku pengen jadi dosen, lulusan luar negri, hmmm... paris." jawabnya sumringah
"Amiiin." kuperhatikan wajahnya, ada senyum kecil disana, lesung pipinya semakin dalam akibat senyum itu, pandangannya asyik ke arah jalan.

Kembali kuperhatikan foto dilayar komputerku,melihat-lihat foto lainnya dan berhenti pada sebuah foto yang menampilkan sebuah band dengan vokalis perempuan, acara promosi provider disekolah, satu hal yang kembali menyeruak dalam ingatanku adalah hujan. Yap, hari itu senin dan hujan. sang vokalis dan bandnya seolah tidak perduli dengan rintikan hujan dilapangan pagi menjelang siang itu, lagu yang dinyanyikan berjudul "I Will Fly" lagu romantis yang juga ada di Mp3 playerku. Aku meng-capture gambar hari itu dari kamera pocketku dibawah pohon rindang bersama kamu yang tepat berada disebelahku, menikmati setiap nada, merasakan setiap kata. lagu selanjutnya kembali dinyanyikan, "Love is You - Ten 2 Five".

Let me love you
With all my heart
You are the one for me
You are the light in my soul
Let me hold you
With my arms
I wanna feel love again
Cuz I know
Love is you...
Senin, sepulang sekolah. Aku sedang asyik nongkrong-nongkrong dikantin sambil menunggu rapat ekstrakuliluker yang kuikuti, rapat pemilihan ketua yang baru. Sebuah sms mendarat di ponsel ku, dari Windy, memintaku menemuinya di ruangan kelas. Aku ingat karena sebuah foto ditengah rapat yang diambil oleh adik kelasku jelas menampilkan mood ku sedang tidak baik saat itu. Ekspresiku ini memang tidak bisa dibohongi, ketika kesal, marah, senang, atau menyimpan sesuatu dikepalaku semua terlihat jelas tanpa perlu ditanyakan.

"Kamu tau kan?" tanya-nya dengan nada setengah tinggi
"Tau apa? Kamu ngomong apa sih? kok tiba-tiba marah begini"
"Aku tau kalo kamu tau semuanya kok Tam... Tentang hubungan aku"
"Sama dia? Iya aku tau, aku tau semuanya" kupotong kata-katanya, nada bicaraku ikut tinggi
"...." suasana dikelas hening dalam beberapa waktu, terlihat wajahnya yang menahan tangis
"Aku takut Tam, aku takut, aku semakin nyaman sama kamu" Bicaranya tertahan, mungkin oleh air mata.
"Aku sayang sama kamu Win, itu aja... aku gak perduli tentang dia"
"Tapi aku perduli..." Air matanya jatuh tak terbendung, hari itu hanya ruangan kelas yang menjadi saksi.
"....." aku tak bisa menjawab atau sekedar melanjutkan argumen dari kata-kata terakhirnya.
"Sekarang kamu mau kita kayak gimana?"
"Aku gak tau" jawabnya terisak
"Win... Udah nangisnya" kuseka air mata yang menetes dari sudut matanya dengan ibu jariku, entah kenapa, aku seolah tak sudi membiarkan pipinya dibasahi air mata, terlebih karena diriku.
"Aku mulai sekarang pergi dari hidup kamu, aku gak akan bersikap seperti kemarin, aku yang bodoh ngedeketin kamu yang sejak awal aku udah tau kamu punya cowok. Maafin aku ya Win, makasih buat lima bulan terakhir ini, kamu tetep spesial buat aku."
"....." Windy masih terdiam, kutinggalkan ia dalam keadaan seperti itu.

Sore hari-nya sebuah sms mendarat di handphone bututku,
"Tam...?"
Kuletakkan HP-ku dikantong celana tanpa keinginan membalas, yah... sejak awal aku tau dan mengerti kondisi ku, Windy sudah menjalin hubungan dengan pasangannya kurang lebih dua tahun, dan setahu ku satu tahun terakhir mereka menjalankan hubungan jarak jauh. Pacarnya yang lebih tua dua tahun harus kuliah di luar kota. Yah, memang aku si bodoh yang mencoba mendapatkan keuntungan dari kondisi ini. Hari itu aku memutuskan untuk menyerah, harus ada yang mengalah dalam hal ini, dan aku lah sang pendosa yang mencoba hadir dan berharap. Kuputuskan untuk pergi, meninggalkan cerita dan rasa yang bahkan sejak awal aku sudah mengetahui endingnya.

Jam hari itu sudah menunjukkan pukul 20.45 WITA, kuputuskan menyudahi berada di depan layar laptop yang sudah menyita waktu ku dari sore hari sepulang dari proyek dilapangan, senin selalu menjadi hari yang padat. Pantas saja, aku belum makan malam ternyata, keasyikan flashback dengan kenangan lama. Kuambil kunci mobil yang tergeletak di meja ruang tamu, begitu pun dengan Handphone ku yang sedang di charge, dua buah notifications dari Path, satu buah surat di mailing list, dan satu buah notification dari BBM.

Windy Senja Putri Invited You to chat over Blackberry Messenger.           

T:  "Hai, Win... Apa Kabar?"
W: "Baik Tam, Kamu?"
T:  "Aku baik, Stay dimana sekarang?"
W: "Aku di Jakarta kok, Kamu? Kayaknya sibuk banget ya bapak engineer ini, hahaha"
T:  "Gak ah, Aku kan cuma kuli, kamu tuh yang sibuk banget kayaknya sepulang dari paris, menyenangkan ngajar?"
W: "Bangeeet, I love doin' my dream job... kamu dimana sekarang?"
T:  "Aku di lepas pantai Kalimantan Timur"
W: "....."
T:  "Win."
W: "Ya."
T: "Sudah menikah?"
W: "Belum, belum ada yang cocok kayaknya..."

Perhatianku tertuju kepada secarik kertas diatas meja, sebuah tiket perjalanan yang baru sore tadi kudapatkan. "Hatta/Tama Wira/Mr. BPN - CGK".


Padang, Maret 2015