Jumat, 28 September 2012
Kesombongan, Kemunafikan, dan Peremehan
Selamat wahai pemenang...
Lalu siapa yang terkalahkan? Aku? Mungkin saat ini aku masih tertunduk lemas menahan emosiku, ketika dengan angkuhnya engkau bisa berdiri dan menengadahkan kepalamu didepanku, ketika engkau bisa memberikan senyum sinis dan jabat tangan munafik didepanku seakan" akulah si pecundang yang pantas diremehkan.
Dulu disaat aku masih kelas 6 SD, aku ditertawakan oleh teman" sepermainanku dirumah, mereka terlihat puas mengejekku karena tidak bisa bermain basket, aku melakukan kesalahan" bodoh, tidak mengerti peraturan, asal melempar bola, bahkan sampai mereka mengerjaiku dengan melemparkan bola ke badanku, pedih memang, aku dianggap pecundang. Hari itu satu bara api dinyalakan dihatiku, satu hari dimana aku termenung memikirkan betapa mudahnya aku dikerjai, aku bukan si bodoh yang pantas ditertawakan, aku bukan si pecundang yang harus diremehkan.
Suatu waktu di kelas 3 SMP, aku melihat tiga sosok yang cukup aku kenal, mereka teman rumahku yang lebih tua 2 tahun dariku, kita memang jarang berbicara, hanya sebatas sapa, aku lebih merasa dekat dengan teman"ku disekolah yang lebih seumuran. Hari itu kami (aku dan teman" sekolahku) berada dilapangan basket umum yang sedang lengang, jadi kami bebas memakainya, tiga orang tadi melepas seragam SMAnya dan ikut bermain, mereka memulai dengan shooting" biasa ke ring, kemudian menantang kami bermain 3on3, kami menyanggupi.
10 - 1 adalah skor akhir dengan kemenangan pada Tim ku, ku jabat tangan mereka, tersenyum memberikan ucapan terima kasih, lalu berlalu. Hari itu aku mempecundangi mereka, membuat mereka terkulai lemas, membuat mereka tak berdaya, dan berdiri sebagai pemenang didepan mereka, tidak ada yang dipertaruhkan memang, tapi prestise pada saat itu membuatku menemukan kepuasan, seakan ingin berteriak, "LO LIAT GUE YANG SEKARANG!!! YANG DULU LO JADIIN MAENAN!!!" tapi semua tertahan,aku hanya ingin mebuktikan dengan terhormat, seorang bocah yang dulu mereka permainkan dan mereka olok" kini menjelma menjadi harimau bertaring tajam, terbangun dengan buas, mencakar dengan garang, terima kasih telah membangunkan.
Hari ini aku terbangun lagi, sekujur tubuhku gemas ingin menampar waktu, geram segeram"nya, tanganku terkepal keras, keras sekali... tepat saat ini, aku ingin membungkam tiap kesombongan, membredel kemunafikan, menginjak" setiap kata remeh temeh akan diriku, gigi ku bergemeretakan cepat, Aku menanti hari itu, hari ketika aku berdiri, bermandikan keringat, dan berkata lantang "INI AKU, RENCANAKU DAN SETIAP TETES USAHAKU!!! TERIMA KASIH TELAH MEMBANGUNKAN."
Langganan:
Komentar (Atom)
