"lagu ini untukmu... hanya untuk dirimu... pahamilah maksudku... ku masih inginkanmu"
~Drew, Radio
Sudah berapa lama sejak hari itu? Hampir setahun, bahkan aku sudah lupa kapan tepatnya, hari dimana aku memutuskan untuk tidak lagi menyandang status sebagai penyiar diradio kecil yang terletak dikampus itu, yah... radio kecil, tapi tidak pernah terlalu kecil untuk membatasi kreativitas tiap manusia yang berada didalamnya, tidak terlalu kecil untuk menyalurkan ekspresi yang membuncah dari setiap penyiarnya, tidak terlalu kecil untuk menjadikan seseorang yang dulunya hanya mencari jati diri menemukan karakter kuat pada dirinya.
Musik sendu yang bermain ditiap malamnya pun sudah tidak ada, bisa dipastikan penyiar galau itu sudah tidak lagi mempersiapkan jari"nya diatas mixer menunggu waktu yang tepat untuk call sign, tema" yang selalu menjadi andalannya agar siaran tidak 'itu-itu melulu' pun sudah tidak lagi tersaji manis diudara, gelak tawa yang mungkin menjadi sebuah kewajiban untuknya sudah asing terdengar. Aku tidak berhenti dari dunia ini, aku hanya menutup mulut sebentar untuk menjadi lebih besar, aku tetap belajar dengan mendengar, aku masih mencintai tiap feeder di atas mixer, tiap list lagu yang harus terus berputar, tiap sapaan kepada pendengar yang entah sedang apa saat aku berbicara, aku mencintai setiap hal kecil yang berada didalam ruang siaran.
Bocah itu masih mendengarkan radio dipaginya, sebuah radio yang entah apa merknya, pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, pagi hari diantara memakai baju seragam putih-birunya, pagi hari saat menunggu giliran mandi. Pagi hari adalah waktu yang luarbiasa untuknya karena disana ia lagi" menemukan teman yang akan menemani sebelum bercengkrama dengan teman" sebenarnya, dengan lagu" hits yang selalu diputar oleh sang kawan yang hanya suara saja yang ia kenali, pagi menjadi sangat luarbiasa sepertinya.
Selama SMA ia tetap berteman dengar suara" yang berada dispeaker radio tersebut, bahkan ketika ibunya bertanya mau jadi apa? ia menjawab bahagia "Jadi penyiar mah,". Kuliah ia mencoba merealisasikan cita-citanya, voilaaa... ia diterima disebuah radio eks radio kampus didaerah dan selama empat tahun ia bekerja disana dengan gaji 'kalo ada ambil, kalo gak yah, gimana lagi', bukan hanya jadi penyiar ia juga mengetahui lebih banyak tentang dunia radio disini, ups, tidak... mungkin masih sangat sedikit, sekali lagi tadi radio yang ditempatinya hanya radio kecil.
Empat tahun... Yah empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempelajari banyak hal, empat tahun juga yang mengantarkan aku menuju pintu gerbang radio-radio yang lebih hebat, teringat suatu hari dimana aku menjadi seorang penyiar tamu disalah satu radio yang ratingnya paling tinggi dikota ini dan ditawari untuk menjadi salah satu bagian dari radio tersebut dan aku tolak, lalu datang lagi tawaran dari salah satu radio populer anak muda dan sekali lagi aku tolak. Sombong? Pilih-pilih? Bukan, hanya sebuah kebodohan yang mebuat aku menolak tiap tawaran tersebut hanya karena sebatas angka" dalam nominal rupiah atau pilih" radio dengan label 'terbaik' dikota ini. Aku hanya manusia yang selalu ingin berkreasi, berteriak lantang tentang kebebasan, membuka pintu selebar"nya untuk passion yang tak terbendung, aku ingin mandiri dengan caraku sendiri, aku ingin berlari dan melawati kerikil" tajam, aku ingin menjadi diriku yang mendobrak dunia tanpa harus menjadi budak dari keperkasaan sang waktu.
Aku masih ingin tertawa lepas diruang siaran, aku masih ingin merasakan dinginnya ruangan itu, aku masih ingin memutarkan lagu" sendu peneman malam, aku masih ingin bercerita banyak hal disetiap siaran, menyuguhkan tema" aneh lagi, lagi, dan lagi, aku masih ingin meneriakan call sign diakhir outro lagu, aku masih ingin mengangkat telpon pendengar dan mendengarkan cerita mereka... aku ingin... Someday, sama seperti hal-hal lainnya yang masih menjadi rahasia, aku akan meraih kembali mimpiku ini, berdiri menatap kedepan, mempersiapkan amunisi, mengasah kata demi kata dan kembali ke medan 'perang'. Aku percaya, di tempat yang lebih hebat, dengan tantangan yang luarbiasa, kembali menjadi pribadi bodoh yang terus belajar atau bahkan berlari sampai terengah-engah untuk meraihnya, demi menjadi pemenang dan menggengam setiap kata bernama impian yang tertempel erat dilangit-langit imajinasiku.
~Riczky Syaputra, Announcer & Off Air Manager of Jingga Radio, Padang.


