Selasa, 10 Juli 2012

Satu benda saja... Radio

"lagu ini untukmu... hanya untuk dirimu... pahamilah maksudku... ku masih inginkanmu"
~Drew, Radio


Sudah berapa lama sejak hari itu? Hampir setahun, bahkan aku sudah lupa kapan tepatnya, hari dimana aku memutuskan untuk tidak lagi menyandang status sebagai penyiar diradio kecil yang terletak dikampus itu, yah... radio kecil, tapi tidak pernah terlalu kecil untuk membatasi kreativitas tiap manusia yang berada didalamnya, tidak terlalu kecil untuk menyalurkan ekspresi yang membuncah dari setiap penyiarnya, tidak terlalu kecil untuk menjadikan seseorang yang dulunya hanya mencari jati diri menemukan karakter kuat pada dirinya.

Musik sendu yang bermain ditiap malamnya pun sudah tidak ada, bisa dipastikan penyiar galau itu sudah tidak lagi mempersiapkan jari"nya diatas mixer menunggu waktu yang tepat untuk call sign, tema" yang selalu menjadi andalannya agar siaran tidak 'itu-itu melulu' pun sudah tidak lagi tersaji manis diudara, gelak tawa yang mungkin menjadi sebuah kewajiban untuknya sudah asing terdengar. Aku tidak berhenti dari dunia ini, aku hanya menutup mulut sebentar untuk menjadi lebih besar, aku tetap belajar dengan mendengar, aku masih mencintai tiap feeder di atas mixer, tiap list lagu yang harus terus berputar, tiap sapaan kepada pendengar yang entah sedang apa saat aku berbicara, aku mencintai setiap hal kecil yang berada didalam ruang siaran.

Bocah itu masih mendengarkan radio dipaginya, sebuah radio yang entah apa merknya, pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, pagi hari diantara memakai baju seragam putih-birunya, pagi hari saat menunggu giliran mandi. Pagi hari adalah waktu yang luarbiasa untuknya karena disana ia lagi" menemukan teman yang akan menemani sebelum bercengkrama dengan teman" sebenarnya, dengan lagu" hits yang selalu diputar oleh sang kawan yang hanya suara saja yang ia kenali, pagi menjadi sangat luarbiasa sepertinya.
Selama SMA ia tetap berteman dengar suara" yang berada dispeaker radio tersebut, bahkan ketika ibunya bertanya mau jadi apa? ia menjawab bahagia "Jadi penyiar mah,". Kuliah ia mencoba merealisasikan cita-citanya, voilaaa... ia diterima disebuah radio eks radio kampus didaerah dan selama empat tahun ia bekerja disana dengan gaji 'kalo ada ambil, kalo gak yah, gimana lagi', bukan hanya jadi penyiar ia juga mengetahui lebih banyak tentang dunia radio disini, ups, tidak... mungkin masih sangat sedikit, sekali lagi tadi radio yang ditempatinya hanya radio kecil.

Empat tahun... Yah empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempelajari banyak hal, empat tahun juga yang mengantarkan aku menuju pintu gerbang radio-radio yang lebih hebat, teringat suatu hari dimana aku menjadi seorang penyiar tamu disalah satu radio yang ratingnya paling tinggi dikota ini dan ditawari untuk menjadi salah satu bagian dari radio tersebut dan aku tolak, lalu datang lagi tawaran dari salah satu radio populer anak muda dan sekali lagi aku tolak. Sombong? Pilih-pilih? Bukan, hanya sebuah kebodohan yang mebuat aku menolak tiap tawaran tersebut hanya karena sebatas angka" dalam nominal rupiah atau pilih" radio dengan label 'terbaik' dikota ini. Aku hanya manusia yang selalu ingin berkreasi, berteriak lantang tentang kebebasan, membuka pintu selebar"nya untuk passion yang tak terbendung, aku ingin mandiri dengan caraku sendiri, aku ingin berlari dan melawati kerikil" tajam, aku ingin menjadi diriku yang mendobrak dunia tanpa harus menjadi budak dari keperkasaan sang waktu.


Aku masih ingin tertawa lepas diruang siaran, aku masih ingin merasakan dinginnya ruangan itu, aku masih ingin memutarkan lagu" sendu peneman malam, aku masih ingin bercerita banyak hal disetiap siaran, menyuguhkan tema" aneh lagi, lagi, dan lagi, aku masih ingin meneriakan call sign diakhir outro lagu, aku masih ingin mengangkat telpon pendengar dan mendengarkan cerita mereka... aku ingin... Someday, sama seperti hal-hal lainnya yang masih menjadi rahasia, aku akan meraih kembali mimpiku ini, berdiri menatap kedepan, mempersiapkan amunisi, mengasah kata demi kata dan kembali ke medan 'perang'. Aku percaya, di tempat yang lebih hebat, dengan tantangan yang luarbiasa, kembali menjadi pribadi bodoh yang terus belajar atau bahkan berlari sampai terengah-engah untuk meraihnya, demi menjadi pemenang dan menggengam setiap kata bernama impian yang tertempel erat dilangit-langit imajinasiku.


~Riczky Syaputra, Announcer & Off Air Manager of Jingga Radio, Padang.

Minggu, 08 Juli 2012

Wajah" penuh syukur

Pagi itu terlalu pagi untukku, Hari minggu 17 juni 2012, seperti biasa aku masih terbangun dengan suara Adzan subuh dimushola yang terletak didalam komplek Mess Perwira Bahtera Suaka, sebuah tiket disaku jaketku menunjukkan keberangkatan pukul 10.00 dengan sebuah maskapai yang menamai dirinya sebuah kerajaan besar disumatera. Barang"ku sudah menumpuk di ruang tamu, menunggu diangkat dan berpindah tempat. Aku sudah memutuskan untuk berangkat menggunakan sebuah taksi ke bandara, kali ini berbeda, barang yang terlalu banyak menjadi masalah perjalanan kali ini, tidak mungkin aku menaiki DAMRI ke bandara, aku tidak mampu membawa satu buah koper, satu backpack berisi baju, satu buah printer besar, dua jinjing kantong plastik besar, dan satu buah tas kamera yang tidak mungkin aku lepaskan.

Taxi Bluebird berhasil aku stop didepan rumah, aku berpamitan dengan abangku, sengaja ku pilih burung biru ini, meskipun tidak sesuai dengan kantong mahasiswa tapi ia tidak meminta uang untuk balik tol dari bandara, berbeda dengan taksi lain yang bahkan hanya mau ditumpangi dengan harga tembak. Aku menyandarkan diri dibangku depan, sengaja kupilih didepan karena aku tau aku tidak lebih hebat dari supir taksi ini dan udara jakarta yang menyengat membuatku ingin berada dekat dari AC taksi ini. "Selamat pagi Mas, mau kemana?" sebuah kata sapaan dengan logat daerah jawa barat yang kental, aku mengangguk sambil memberi tahu arah tujuan, kemudian aku memilih menikmati jalan ibu kota, kembali ia mengajakku berbicara, "Mau terbang kemana Mas?" aku kira ini hanya sebuah formalitas awal sang supir, "Padang" jawabku sekenanya, aku lebih memilih untuk bersandar dan menikmati pemandangan keluar, aku masih belum tau kapan bisa menghirup udara jakarta lagi, mungkin nanti setelah aku lulus dan meraih gelar ST. "Di Jakarta ada job ya mas?" suara itu menyentak lamunanku, tiba" mata ku melirik supir taksi tersebut, ia tersenyum puas dengan pernyataan yang seolah terbenarkan oleh reaksiku yang terkejut.

Gaya ku sangat berantakan, kemeja flanel yg tidak dikancingkan, kaus belel yg kerahnya entah kemana, sepatu butut yg putihnya nyaris menjadi hitam, hanya jeansku yang terlihat layak, belum lama ini ku beli mengganti jeans yang sudah sangat parah bentuknya, tapi sopir ini terlihat sangat menghormati diriku, terlihat dari bagaimana ia bersikap. "Pesawatnya jam berapa mas?" tanyanya, "Jam 10.00 Pak" aku lebih memilih memanggilnya pak dibanding 'Mas' atau 'Bang' meskipun kisaran umurnya masih sekitar 35-40 tahun, kulihat identitas taksinya, tertulis nama Hariyanto disana, "Sudah lama bekerja di BlueBird Pak?", entah apa yang ada dipikiranku saat itu, yang jelas aku tertarik untuk berbicara dengan Pak Hariyanto, sebuah jawaban yang tak kusangka terlontar, jawaban panjang  dari pertanyaan tersebut, berbagai topik kami diskusikan, tentang BlueBird dan Gaji yang didapat, tentang supir tembak yang semakin merajalela, tentang persaingan sesama supir Bluebird, tentang sekolah dan kuliah. Singkat cerita Pak Hariyanto adalah seorang suami, ayah 2 orang anak yang sudah 13 tahun menjadi pengendara taksi di Jakarta, tempat yang ia pilih untuk merubah nasibnya, sama seperti jutaan warga lain yang menetap di Ibukota ini, satu kalimat luarbiasa yang saya dengarkan dari 45 menit pembicaraan kita adalah "Saya takut mas kalo mainin rezeki, harusnya saya dapet rezeki sehari seratus dua puluh lima ribu, trus saya curangin nembak penumpang dan dapet dua ratus ribu, itu malah jadinya bukan rezeki di saya ntar, belum lagi kalo ketauan atasan, anak saya dua mas, kalo saya dipecat mau gimana, toh sekarang aja saya udah ngerasa bersyukur koq" Jawab Pak Hariyanto, klise memang tapi inilah yang aku dapatkan dari Pak Hariyanto, Argo taksiku menunjukan angka Rp.96.000,- kuserahkan uang Rp 100.000,- lalu diam, supir lain biasanya berlalu saja daripada mengembalikan Rp.4000,- perak, tapi Pak hariyanto berbeda, ia menurunkan barangku yang banyak, lalu merogoh kantongnya dan memberikan kembalian 4.000 rupiah tersebut sambil berterima kasih dan mengucapkan selamat jalan, aku masih terdiam, entah apa yang ada dipikiranku saat itu, mungkin kagum.
#bahagiaitusederhana