Jumat, 21 Desember 2012

Mama, Selamat Hari Ibu...

"Sama seperti org" lainnya, aku jg merindukan ibu, bedanya mereka bisa memeluk ibunya dengan erat, aku hanya dgn doa... Selamat hari ibu, Ma."
~Riczky Syaputra, 22 Desember 2012

Senin, 03 Desember 2012

#TerimaKasihSederhana

Hey, Birthday Boy!




I'm 23rd now... sebuah usia yang dulu gue rasa, 'NJRIT, TUA BANGET...'
but i'm 23rd now, dan gue berani buat bilang 'Im Mature Enough Now', banyak pelajaran luarbiasa yang bisa gue dapet dalem hidup selama 23tahun ini, Riczky Syaputra yang dulu cuma anak manja, Riczky Syaputra yang pernah kabur dari rumah, yang pernah ngambek gara" duit jajan kurang, dan sering ngelawan dan ngebantah setiap perkataan alm. mama n papa, People Change! dan Here i am.

2 Desember 2012
Gue kebangun jam 11 pagi setelah begadang sampe subuh, itupun kebangun gara" ada janji buat bikin Buku Tahunan Sekolah dan dengan tololnya BB gue berserakan, batre dimana, tutupnya dimana, henponnya dimana, Buat hal ini gue akuin gue masih tolol, butuh istri sepertinya, hahaha... Gue idupin dan ngeliat banyak BBM masuk, semuanya ngasih ucapan luarbiasa, sama halnya ditwitter, sejak jam 12 mulai banyak  mention masuk, dan berlaku sepanjang hari itu, satu invitation request di BB, seorang teman lama yang tahun lalu begitu spesial, yah Kamu... 2nd december 2011 just gonna be last year... yeah i still cherished all the things happened. Hari ini mungkin agak berbeda karena gak ada kamu sang konseptor ulung ditahun lalu, gue rasa hari-hari gue diumur 23 bakal biasa banget, standar lah... and you know what i did? gue tidur dikostan sampe sore setelah ketemu Anak" SMANTEN yang ngajak gue jadi MC dan sekaligus nawarin Buku Tahunan, yah... wasteing time and replying mention on twitter.

Malem gue ada rapat @StandUpIndo_Pdg di Kopmil, kita mau ngebahas beberapa hal, salah satunya performer buat beberapa gigs kedepan dan juga mau ngebahas pembagian keuntungan acara #AbsurdTourPDG yang cetar membahana kalo kata abege" labil jaman sekarang, dan Voilaaaa... satu surprise dari anak" @StandUpIndo_PDG dan gue yakin konseptor acara ini ada 3 orang, Praz, Gita, dan Ayi... satu kotak penuh cup cake kita makan bareng", dan ditengah kue itu ada BIR BINTANG, iyah... ini ketololan @Praz_Teguh pasti.




We're Just Comedian... We're not trying to be funny... We prepare things to make a lot of laugh...
makasi banyak buat semuanya dimalem itu, @Praz_Teguh @ayiqorry @ghitanh @Famhei @Serlypioz @Zetri12 @BillyCapri @FarandyRyan @dickazz @FadhlyAPK
YOU RAWK GUYS!!! dan satu lagi WE'RE FAMILY DUDE!!! buat yang pada saat itu gak dateng dan tetep ngasih selamat, a lot of thanks for you all guys... terima kasih. Abis itu kita ngopmil bareng" sampe sekitaran jam 10. ternyata benar, sebuah moment luarbiasa pertama terlewati dengan senyuman yang tertempel erat di otak gue, ternyata benar tidak perlu sang konseptor ulung untuk membuat hari ini menjadi lebih ceria.

*nb: Agak mulai 'ngeh' pas si Praz yang ngebatalin gue jemput ghita, ternyata ini maksud semuanya, hahaha... Oiya pas didalem mobil, Praz, Ayi, Ghita prepare kue udah keliatan gara" lampu mobil didalem yang idup, BHAAAK!!!*


Selepas dari kopmil, gue nyampe dikost tanpa mikir apa" lagi, gue udah cukup bersyukur karena hari ini masih ada sahabat" gue buat ngerayain bareng, gue masuk kamar, ganti baju dan kedengeran suara @fandibone dari luar "Mpu... Mpu... Lo ngambil jarkomdat gak? besok kuliah pagi looo..." dan gue buka kamar dengan males, nothing interest to have a conversation about subject when nite force me to take a rest, hahaha... dan pas gue buka pintu... VOILAAAA!!!






Ternyata mereka udah prepare di hari itu, satu buah kue tersaji manis didepan kamar gue, dan disana ada @BangSH4D @fandibone dan lagi" @fadhlyAPK hahaha... what a nite! 2 surprises came to me, meskipun cuma ber4 tapi satu hal yang pasti, GUE GAK SENDIRI! dan malam itu gue tidur nyenyak dengan senyuman luarbiasa dihati gue. Thanks Guys! Kita calon orang" sukses dimasa kita nanti, karena kita Insinyur Ceria. Lagi" tidak memerlukan konseptor ulung untuk menemukan sebuah rasa terima kasih yang tersimpan tulus.














3 Desember 2012
You see those pictures, They're my angels.... No Doubt!
@nisaabcdelf @karinrissa @iNiirini  How cute they are *cubit cubit*... Meskipun udah ditanggal 3 tapi gue masih bisa ngerasain kebahagian yang kata orang semu, karena hidup menuntut keseimbangan, dan lawan bahagia adalah kesedihan. WHATEVER! Hari ini gue ada janji sama nisa buat jalan, gue pun kebangun dari tidur siang yang menyenangkan gara" BBM dari mahluk keparat ini, hahaha *mungkin gue bakal dijambak kalo dia baca ini* kita janjian jam 4, molor jadi jam 5. gue sampe di Rumah Kopi Nunos dan Nisa udah ada didalem, mungkin gue ditakdirkan untuk cukup peka dengan lingkungan, beberapa hal gue tangkep pada saat itu, kue yang dibeli di 'Dallas' (gue sering beli kue sama Nisa disini), Obrolan Kak Vina (orang Rumah Kopi Nunos) tentang Ulang Tahun dan Nisa yang sibuk BBMan entah ama siapa, yapi itu baru tebak"an sotoy gue aja sik.

Baru sekitar 10 menitan gue diRumah Kopi Nunos, buka leptop pun baru beberapa menit, pesenan belom dateng, dan ngobrol" ama Nisa juga baru beberapa paragraf (Yup, dia sibuk BBMan). Tiba" nongol sesosok mahluk putih, kuyus, lucuuu dari pintu di Lantai 2 Nunos, yep... namanya cencen aka curin aka Rini Febriyanti, beliau yang gue rasa baru pertama kali napakin kaki di Nunos masuk sambil ngebawa Helm, iya Helm! Warna ijo lagi! muncul dengan wajah polos dan ngomong tiga kata "Ngapain lo disini...?" dan gue ngakak paraaaaah! Buahahahaha Curiiiiin! You screw the surprise! *masih ngakak pas nulis ini* karena jujur gue masih gak tau kalo kalian bakal ngelakuin ini semua sampe didetik sebelum si cencen masuk. Dan datanglah seorang bebeeeeeb Karina Dian Erica yang baru pulang dari Bukittinggi dan langsung menuju Ruko Nunos (Aaaaak... pasti capek ya beb, cinih cinih akooh pijitin *kemudian digaplok*) + Annisa Ismed (yg abis pura" ke WC padahal nyiapin semuanya dibawah tuuuh :D) dengan sebuah kue dan lilin yang rempong abis! We do what people do... Tiup lilin dan lanjutin ngakak gara" si cencen.

That moment... One thing that i felt, All of you completed my world, it was like that i never wanted that moment finished... again and again, the time wrapped fastly, we have to ended the moment, with you all dear... world stop cycling even just a sec, with you all dear... ordinary things become extra oradinary. Lalu? kenapa gue mesti kesepian dengan menyandang status sebagai jomblo single, toh gue punya mereka yang selalu ada dimoment" terbaik dan terpait di hidup gue, mereka yang selalu ngasih spirit luarbiasa disaat gue jatuh, mereka yang menambah kebahagiaan gue disaat gue ngerasa cukup, yep! satu hal yang pasti GUE SAYANG KALIAN, seandainya kalian bertiga mau jadi bini gue, gue rela deh, yang penting rukun. BHAAAK!!! Lagi-lagi ratusan kebahagian meretas tanpa adanya konseptor ulung, bukankah intinya satu hal bernama 'ketulusan', dan hari itu semuanya melebur luarbiasa.


Yes, I'm 23rd Now... with Super Fellow around me...

Mungkin gue terlalu bosan untuk menangis, mungkin gue terlalu angkuh untuk menunjukkan rasa terima kasih yang membuncah hebat, tapi satu hal yang gue pengen lo semua tau, Terima Kasih sudah menempatkan gue diposisi hebat ini. Ketika gue ngerasa sendiri, gue bisa baca blog ini sambil tersenyum lagi, yep! Karena Gue Gak Sendiri... Gue punya orang" spesial disekeliling gue. #TerimaKasihLuarbiasa karena gue diberi kesempatan untuk mengenal kalian. kalian luar biasa *ariel noah style*


With a huge Respect
Riczky Syaputra

Senin, 26 November 2012

Melankolia



"Bagaimana kalau gaya gravitasi itu hilang? Apa aku menjadi bisa mencintai kata cinta?"

Mereka menyebut itu cinta, bagiku hanya sapaan sarkastik.
Bagaimana mungkin ketika sebuah perasaan bisa tersenyum dan berkata riang lalu ditepian pohon mahony berdiri lunglai seseorang yang benar" mencintai.
Kunyalakan sebatang rokokku, asapnya menghitam, semakin lama semakin pekat. Angin sore tak lagi menyejukkan, daun" yang berguguran pun tak lagi bernuansa romantis, semua hanya aksesoris diantara senja yang tak lagi meneriakkan kenyamanan.

"Sudah berapa lama disini?" Sapaan itu mengejutkanku
"Sudah hampir satu jam" Jawabku malas.
Seorang gadis yang sudah hampir tiga tahun aku kenal, meletakan tasnya dan duduk dihadapanku, ia melihat kearah asbak, tersenyum miris, empat batang puntung rokok tergeletak tidak berguna.
"Masih berteman dengan ini?" tanyanya sambil mengangkat sebungkus rokok yang tersisa setengahnya tepat diantara mataku dan matanya
"Ya, mungkin ini adalah teman terbaikku saat ini" kuambil barang tersebut dari tangannya, mengeluarkan sebatang lalu menyalakan mancis dan meletakkan kembali disebelah bungkus rokok. kuisap panjang dan menghembuskan perlahan.
"Bodoh..." Gumammu pelan.
"Coba kamu lihat mereka" kukeluarkan satu batang lagi dari bungkus rokok tadi, kuletakkan tepat disebelah mancis.
"Mereka berteman akrab, mereka saling melengkapi, mereka ada karena satu sama lain, mereka adalah sebab dan akibat, aku lebih memilih untuk tidak memiliki keduanya daripada hanya dapat menyimpan satu diantaranya" Aku melanjutkan.
"Kamu terlalu mudah dalam menyimpulkan" ia mematahkan teori sekaligus rokokku bersamaan.
"Itu karena aku selalu yakin dalam memilih"
"Aku rasa kamu akan selalu menjadi pemimpin yang bijak, paling tidak untuk diri kamu sendiri"
"Tidak, aku masih belum bisa menjinakkan hatiku"
Detik berdetak tiga kali, lalu suaramu memecah bisu sekelebat.
"Oh iya, aku lupa bertanya, Apa kabar?" Sebuah nada yang indah, aku tau maksudmu bukan mengalihkan alur pembicaraan, hanya tidak pernah ingin mengubah kebiasaan lama.
"Masih sama, masih menunggu pagi..."
________________________________________________________________________________

Lagi-lagi mereka menyebut itu cinta, aku menyebutnya ambisi semu.
Berlari dan terengah-engah, mencari lalu kehilangan, berbicara tentang kebahagiaan, menjaga selama-lamanya. lalu apa lagi?
Sabtu malam, lagi-lagi lagu cinta, film drama percintaan, kata-kata mutiara bertaburkan pujian, kenapa tidak kepedihan saja yang mereka tawarkan, bukankah dunia ini menuntut keseimbangan?

"Mana mimpi kamu dihari kemarin?"
"Mati ditelan gelombang ombak" Kujawab pasrah
"Aku ingin kita berteman selama-lamanya"
"Itu hanya janji bodoh jika aku mengucapkan hal serupa"
"Memangnya kamu tidak ingin menjalin hari-hari seperti ini selamanya" kamu meyakinkan
"Tidak, kalau hari ini aku bertemu kamu dan besok aku bertemu dengan seorang wanita berparas cantik dan berpakaian indah aku akan mengejarnya dan lebih memilih menyayanginya sampai ia berucap seperti dirimu hari ini"
"Lalu kenapa kamu tidak lelah untuk menunggu harapan yang semu ini yang tidak pernah ditawarkan untukmu, aku tidak ingin melihat kamu seperti ini"
"Jika kita harus berpisah dan tidak bertemu lagi aku rela, aku hanya sedang menebak-nebak hari itu, batinku siap" Aku menutup percakapan setelah melihat butiran air mata disudut matamu.
Engkau menangis, menangis sepi, menangis hampa, sekitar 5menit, aku mengusap air mata dipipimu satu kali, lalu membiarkan air mata selanjutnya.
"Kamu berpura-pura sedih"
"Tidak, aku berpura-pura bahagia" Aku menjawab lirih
"Aku ingin kita dekat lalu kamu menolak"
"Suatu saat aku akan memohon agar kita jauh"
Gadis itu berlalu, matanya sembab, pipinya memerah, perlahan ia menghilang dari kejauhan, hatinya berbisik dari kejauhan "Aku tidak akan memutuskan sebuah hubungan terlalu cepat karena aku tidak ingin kehilangan terlalu cepat, kamu akan mengetahuinya suatu saat nanti, aku yang selalu mencoba tegar dan mendoakanmu, aku menangis bukan karena lemah, aku tersenyum bukan karena bahagia, satu hal yang pasti... kamu selalu menjadi tempat terindahku dalam berbagi, kamu dan dunia kamu, menarik".

Kita lebih dari teman meskipun hanya sesekali bersama, kita bukan pribadi-pribadi yang sedang menjalin hubungan penuh kata cinta meskipun kita saling menjaga, kita bukan musuh yang saling mencaci dengan sumpah serapah saat membenci meskipun terkadang tusukan menghujam perih, kita ada hanya karena kebetulan" kecil yang tak pernah dipersiapkan...


P.S.: Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan siapa. mengapa dan bagaimana...

Jumat, 28 September 2012

Kesombongan, Kemunafikan, dan Peremehan





Selamat wahai pemenang...

Lalu siapa yang terkalahkan? Aku? Mungkin saat ini aku masih tertunduk lemas menahan emosiku, ketika dengan angkuhnya engkau bisa berdiri dan menengadahkan kepalamu didepanku, ketika engkau bisa memberikan senyum sinis dan jabat tangan munafik didepanku seakan" akulah si pecundang yang pantas diremehkan.

Dulu disaat aku masih kelas 6 SD, aku ditertawakan oleh teman" sepermainanku dirumah, mereka terlihat puas mengejekku karena tidak bisa bermain basket, aku melakukan kesalahan" bodoh, tidak mengerti peraturan, asal melempar bola, bahkan sampai mereka mengerjaiku dengan melemparkan bola ke badanku, pedih memang, aku dianggap pecundang. Hari itu satu bara api dinyalakan dihatiku, satu hari dimana aku termenung memikirkan betapa mudahnya aku dikerjai, aku bukan si bodoh yang pantas ditertawakan, aku bukan si pecundang yang harus diremehkan.

Suatu waktu di kelas 3 SMP, aku melihat tiga sosok yang cukup aku kenal, mereka teman rumahku yang lebih tua 2 tahun dariku, kita memang jarang berbicara, hanya sebatas sapa, aku lebih merasa dekat dengan teman"ku disekolah yang lebih seumuran. Hari itu kami (aku dan teman" sekolahku) berada dilapangan basket umum yang sedang lengang, jadi kami bebas memakainya, tiga orang tadi melepas seragam SMAnya dan ikut bermain, mereka memulai dengan shooting" biasa ke ring, kemudian menantang kami bermain 3on3, kami menyanggupi.

10 - 1 adalah skor akhir dengan kemenangan pada Tim ku, ku jabat tangan mereka, tersenyum memberikan ucapan terima kasih, lalu berlalu. Hari itu aku mempecundangi mereka, membuat mereka terkulai lemas, membuat mereka tak berdaya, dan berdiri sebagai pemenang didepan mereka, tidak ada yang dipertaruhkan memang, tapi prestise pada saat itu membuatku menemukan kepuasan, seakan ingin berteriak, "LO LIAT GUE YANG SEKARANG!!! YANG DULU LO JADIIN MAENAN!!!" tapi semua tertahan,aku hanya ingin mebuktikan dengan terhormat, seorang bocah yang dulu mereka permainkan dan mereka olok" kini menjelma menjadi harimau bertaring tajam, terbangun dengan buas, mencakar dengan garang, terima kasih telah membangunkan.

Hari ini aku terbangun lagi, sekujur tubuhku gemas ingin menampar waktu, geram segeram"nya, tanganku terkepal keras, keras sekali... tepat saat ini, aku ingin membungkam tiap kesombongan, membredel kemunafikan, menginjak" setiap kata remeh temeh akan diriku, gigi ku bergemeretakan cepat, Aku menanti hari itu, hari ketika aku berdiri, bermandikan keringat, dan berkata lantang "INI AKU, RENCANAKU DAN SETIAP TETES USAHAKU!!! TERIMA KASIH TELAH MEMBANGUNKAN."

Selasa, 10 Juli 2012

Satu benda saja... Radio

"lagu ini untukmu... hanya untuk dirimu... pahamilah maksudku... ku masih inginkanmu"
~Drew, Radio


Sudah berapa lama sejak hari itu? Hampir setahun, bahkan aku sudah lupa kapan tepatnya, hari dimana aku memutuskan untuk tidak lagi menyandang status sebagai penyiar diradio kecil yang terletak dikampus itu, yah... radio kecil, tapi tidak pernah terlalu kecil untuk membatasi kreativitas tiap manusia yang berada didalamnya, tidak terlalu kecil untuk menyalurkan ekspresi yang membuncah dari setiap penyiarnya, tidak terlalu kecil untuk menjadikan seseorang yang dulunya hanya mencari jati diri menemukan karakter kuat pada dirinya.

Musik sendu yang bermain ditiap malamnya pun sudah tidak ada, bisa dipastikan penyiar galau itu sudah tidak lagi mempersiapkan jari"nya diatas mixer menunggu waktu yang tepat untuk call sign, tema" yang selalu menjadi andalannya agar siaran tidak 'itu-itu melulu' pun sudah tidak lagi tersaji manis diudara, gelak tawa yang mungkin menjadi sebuah kewajiban untuknya sudah asing terdengar. Aku tidak berhenti dari dunia ini, aku hanya menutup mulut sebentar untuk menjadi lebih besar, aku tetap belajar dengan mendengar, aku masih mencintai tiap feeder di atas mixer, tiap list lagu yang harus terus berputar, tiap sapaan kepada pendengar yang entah sedang apa saat aku berbicara, aku mencintai setiap hal kecil yang berada didalam ruang siaran.

Bocah itu masih mendengarkan radio dipaginya, sebuah radio yang entah apa merknya, pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, pagi hari diantara memakai baju seragam putih-birunya, pagi hari saat menunggu giliran mandi. Pagi hari adalah waktu yang luarbiasa untuknya karena disana ia lagi" menemukan teman yang akan menemani sebelum bercengkrama dengan teman" sebenarnya, dengan lagu" hits yang selalu diputar oleh sang kawan yang hanya suara saja yang ia kenali, pagi menjadi sangat luarbiasa sepertinya.
Selama SMA ia tetap berteman dengar suara" yang berada dispeaker radio tersebut, bahkan ketika ibunya bertanya mau jadi apa? ia menjawab bahagia "Jadi penyiar mah,". Kuliah ia mencoba merealisasikan cita-citanya, voilaaa... ia diterima disebuah radio eks radio kampus didaerah dan selama empat tahun ia bekerja disana dengan gaji 'kalo ada ambil, kalo gak yah, gimana lagi', bukan hanya jadi penyiar ia juga mengetahui lebih banyak tentang dunia radio disini, ups, tidak... mungkin masih sangat sedikit, sekali lagi tadi radio yang ditempatinya hanya radio kecil.

Empat tahun... Yah empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempelajari banyak hal, empat tahun juga yang mengantarkan aku menuju pintu gerbang radio-radio yang lebih hebat, teringat suatu hari dimana aku menjadi seorang penyiar tamu disalah satu radio yang ratingnya paling tinggi dikota ini dan ditawari untuk menjadi salah satu bagian dari radio tersebut dan aku tolak, lalu datang lagi tawaran dari salah satu radio populer anak muda dan sekali lagi aku tolak. Sombong? Pilih-pilih? Bukan, hanya sebuah kebodohan yang mebuat aku menolak tiap tawaran tersebut hanya karena sebatas angka" dalam nominal rupiah atau pilih" radio dengan label 'terbaik' dikota ini. Aku hanya manusia yang selalu ingin berkreasi, berteriak lantang tentang kebebasan, membuka pintu selebar"nya untuk passion yang tak terbendung, aku ingin mandiri dengan caraku sendiri, aku ingin berlari dan melawati kerikil" tajam, aku ingin menjadi diriku yang mendobrak dunia tanpa harus menjadi budak dari keperkasaan sang waktu.


Aku masih ingin tertawa lepas diruang siaran, aku masih ingin merasakan dinginnya ruangan itu, aku masih ingin memutarkan lagu" sendu peneman malam, aku masih ingin bercerita banyak hal disetiap siaran, menyuguhkan tema" aneh lagi, lagi, dan lagi, aku masih ingin meneriakan call sign diakhir outro lagu, aku masih ingin mengangkat telpon pendengar dan mendengarkan cerita mereka... aku ingin... Someday, sama seperti hal-hal lainnya yang masih menjadi rahasia, aku akan meraih kembali mimpiku ini, berdiri menatap kedepan, mempersiapkan amunisi, mengasah kata demi kata dan kembali ke medan 'perang'. Aku percaya, di tempat yang lebih hebat, dengan tantangan yang luarbiasa, kembali menjadi pribadi bodoh yang terus belajar atau bahkan berlari sampai terengah-engah untuk meraihnya, demi menjadi pemenang dan menggengam setiap kata bernama impian yang tertempel erat dilangit-langit imajinasiku.


~Riczky Syaputra, Announcer & Off Air Manager of Jingga Radio, Padang.

Minggu, 08 Juli 2012

Wajah" penuh syukur

Pagi itu terlalu pagi untukku, Hari minggu 17 juni 2012, seperti biasa aku masih terbangun dengan suara Adzan subuh dimushola yang terletak didalam komplek Mess Perwira Bahtera Suaka, sebuah tiket disaku jaketku menunjukkan keberangkatan pukul 10.00 dengan sebuah maskapai yang menamai dirinya sebuah kerajaan besar disumatera. Barang"ku sudah menumpuk di ruang tamu, menunggu diangkat dan berpindah tempat. Aku sudah memutuskan untuk berangkat menggunakan sebuah taksi ke bandara, kali ini berbeda, barang yang terlalu banyak menjadi masalah perjalanan kali ini, tidak mungkin aku menaiki DAMRI ke bandara, aku tidak mampu membawa satu buah koper, satu backpack berisi baju, satu buah printer besar, dua jinjing kantong plastik besar, dan satu buah tas kamera yang tidak mungkin aku lepaskan.

Taxi Bluebird berhasil aku stop didepan rumah, aku berpamitan dengan abangku, sengaja ku pilih burung biru ini, meskipun tidak sesuai dengan kantong mahasiswa tapi ia tidak meminta uang untuk balik tol dari bandara, berbeda dengan taksi lain yang bahkan hanya mau ditumpangi dengan harga tembak. Aku menyandarkan diri dibangku depan, sengaja kupilih didepan karena aku tau aku tidak lebih hebat dari supir taksi ini dan udara jakarta yang menyengat membuatku ingin berada dekat dari AC taksi ini. "Selamat pagi Mas, mau kemana?" sebuah kata sapaan dengan logat daerah jawa barat yang kental, aku mengangguk sambil memberi tahu arah tujuan, kemudian aku memilih menikmati jalan ibu kota, kembali ia mengajakku berbicara, "Mau terbang kemana Mas?" aku kira ini hanya sebuah formalitas awal sang supir, "Padang" jawabku sekenanya, aku lebih memilih untuk bersandar dan menikmati pemandangan keluar, aku masih belum tau kapan bisa menghirup udara jakarta lagi, mungkin nanti setelah aku lulus dan meraih gelar ST. "Di Jakarta ada job ya mas?" suara itu menyentak lamunanku, tiba" mata ku melirik supir taksi tersebut, ia tersenyum puas dengan pernyataan yang seolah terbenarkan oleh reaksiku yang terkejut.

Gaya ku sangat berantakan, kemeja flanel yg tidak dikancingkan, kaus belel yg kerahnya entah kemana, sepatu butut yg putihnya nyaris menjadi hitam, hanya jeansku yang terlihat layak, belum lama ini ku beli mengganti jeans yang sudah sangat parah bentuknya, tapi sopir ini terlihat sangat menghormati diriku, terlihat dari bagaimana ia bersikap. "Pesawatnya jam berapa mas?" tanyanya, "Jam 10.00 Pak" aku lebih memilih memanggilnya pak dibanding 'Mas' atau 'Bang' meskipun kisaran umurnya masih sekitar 35-40 tahun, kulihat identitas taksinya, tertulis nama Hariyanto disana, "Sudah lama bekerja di BlueBird Pak?", entah apa yang ada dipikiranku saat itu, yang jelas aku tertarik untuk berbicara dengan Pak Hariyanto, sebuah jawaban yang tak kusangka terlontar, jawaban panjang  dari pertanyaan tersebut, berbagai topik kami diskusikan, tentang BlueBird dan Gaji yang didapat, tentang supir tembak yang semakin merajalela, tentang persaingan sesama supir Bluebird, tentang sekolah dan kuliah. Singkat cerita Pak Hariyanto adalah seorang suami, ayah 2 orang anak yang sudah 13 tahun menjadi pengendara taksi di Jakarta, tempat yang ia pilih untuk merubah nasibnya, sama seperti jutaan warga lain yang menetap di Ibukota ini, satu kalimat luarbiasa yang saya dengarkan dari 45 menit pembicaraan kita adalah "Saya takut mas kalo mainin rezeki, harusnya saya dapet rezeki sehari seratus dua puluh lima ribu, trus saya curangin nembak penumpang dan dapet dua ratus ribu, itu malah jadinya bukan rezeki di saya ntar, belum lagi kalo ketauan atasan, anak saya dua mas, kalo saya dipecat mau gimana, toh sekarang aja saya udah ngerasa bersyukur koq" Jawab Pak Hariyanto, klise memang tapi inilah yang aku dapatkan dari Pak Hariyanto, Argo taksiku menunjukan angka Rp.96.000,- kuserahkan uang Rp 100.000,- lalu diam, supir lain biasanya berlalu saja daripada mengembalikan Rp.4000,- perak, tapi Pak hariyanto berbeda, ia menurunkan barangku yang banyak, lalu merogoh kantongnya dan memberikan kembalian 4.000 rupiah tersebut sambil berterima kasih dan mengucapkan selamat jalan, aku masih terdiam, entah apa yang ada dipikiranku saat itu, mungkin kagum.
#bahagiaitusederhana


Jumat, 11 Mei 2012

#SUN1 Padang

Sabtu, 5 Mei 2012...
Hari ini mungkin adalah Salah satu Malem terbaik buat gue, Yap... gue yang baru aja belajar gimana caranya jadi seorang Stand-up Comedian bakal perform di #SUN1Padang (Stand-up Night) yang bakal ngebawa seorang Pandji Pragiwaksono yg merupakan founder dari bangkitnya Stand-up di Indonesia setelah mati suri.


BACKDROP #SUN1 Padang
Jam terbang gue sebagai comic belum banyak, 3 kali Open Mic dan 2 kali Show (aiesec n teknik) + 1 War of comic selebihnya paling cuma Nge-MC diacara @StandUpIndo_Pdg, bukan jam terbang yang bisa dikatakan layak sebenernya) dan gue dikasih kesempatan buat perform sebagai Opener di Acara #MerdekaDalamBercandaInConjuctionWithStandupNightPadang
nih posternya: 

Padang Jadi Kota Pertama yang didatengin euy...


The show will be start in 30 minutes remaining... dan gue masih bolak balik antara kamar (yg disewa si praz) dan venue, gue sibuk ngeliat audience sambil ngapalin set materi, gak ada waktu buat duduk" manis lagi, orang udah rame yg dateng ke venue. Gue belom tidur dari semalem, bukan, bukan karena tegang, hari ini tanggal 5 Mei, nyokap ulangtahun dan semaleman mata ini sudah puas untuk menangis, yeah... gue cuma buat malem tadi buat nginget semua tentang nyokap, dia terlalu spesial soalnya.

The show will be start in 15 minutes remaining... Gue udah divenue, masih seperi tadi, ngeliatin audience sambil sesekali ngobrol dengan penonton yang gue kenal, yep! semuanya berbeda dari show biasanya, gue rasa acara sekarang lebih dahsyat, ini Stand Up Night mpuuuu, audiencenya banyak yang gue baru liat, dan semua penonton yang harusnya dibagi dua kali show digabung jadi satu, sekitar 300 orang #jleb.

 The show will be start in 5 minutes remaining... gue akhirnya mutusin buat keluar sebentar, dan pas gue keluar pandji dateng ama bhironk, okeeeh gue harus masuk lagi, gue duduk dikursi paling depan, disana udah ada mas dimas sama istrinya, praz nyusul belakangan. Pandji masih belom kenal sama gue dan masih belom tau kalo gue yang bakal jadi openernya, baru tau setelah dibilangin ama bhironk kalo gue yang bakal perform pertama, dia tau banget kalo gue nervous dan nyoba nenangin gue, dia bilang "udaaah... anggep aja Open Mic", Siap! Gue udah ada ditengah peperangan, maju untuk menang atau mati, gak ada kata mundur lagi.

Gue tampil pertama dan Hell yeah, itu beban kapten! Opener itu gak tau atmosphere acara seperti apa, gak tau bakal ngadepin audience yang kayak gimana, gue cuma nyoba tenang, udah 2kali show gue jadi opener dan gue harus bisa belajar dari 2kali itu. Gue gak pernah nyiapin materi baru buat perform diacara ini, gue cuma nge-set ulang materi-materi lama yg terbukti bisa bikin pecah, tapi gue masih ragu, bagaimana dengan audience kali ini? gimana kalo materi gue malah ngeBomb? okey, i try to be possitive, gue ilangin semua pikiran bodoh itu sebelum 'naik', gue cuma mikir kalo orang dateng buat nonton perform Pandji, bukan gue, jadi gue harus tampil lepas aja tanpa beban. Yeah!

Opening anthem sudah dimainkan, nama gue udah disebut, riuhnya tepuk tangan sudah mengudara, semua mata sudah tertuju ke gue, dan gue menikmatinya, i really love this feeling yah, gue emang banci tampil. I'm on the stage now!

5 minutes on the stage... i enjoy all the things, i love the audience, semuanya terasa luarbiasa, gue mencoba improvisasi dengan spontan, pecaaaah! banyak tawa disana, penonton datang memang untuk tertawa, materi demi materi tersusun dengan baik, act out yg gue pelajarin pas combud terdelivery secara lancar, tidak ada lagi kegugupan, gue masih bisa inget materi yg gue apal dengan sempurna dan seketika gue terdiam, yah terdiam... ada seseorang diantara kerumunan penonton yang sangat tidak asing buat gue, sosok yang gue kenal lebih dekat selama dua tahun terakhir, sosok yang entah apapun gue menyebutnya dia pernah menjadi seseorang yang sangat spesial, yah kamu dateng dan gue ngeliat langsung ketika sedang perform, Yah pas lagi perform, kamu dateng bareng orang lain yg sekarang sudah kamu sebut 'pacar'.

Sekitar dua detik gue sempet terdiam ngeliat ke lantai, jelas... jelas banget! biasanya gue mikir materi selanjutnya pada saat penonton lagi ketawa, tapi sekarang gak! gue cuma bisa ngeliat ke lantai, eye contact dengan penonton mati pada saat itu. Yang gue pikirin emang harusnya cuma perform gue aja. Kalo gue blank gue bakal ancur, gue gagal, terus gimana dengan comic setelah gue, suasananya bakal berubah, padahal penontonnya luarbiasa, dan mereka bayar tiket buat masuk, satu lagi... gue diliat oleh seorang comic yang udah sangat terkenal, yah Pandji Pragiwaksono. Dua kata 'Bodo Amat' jadi andelan gue saat itu, gue milih buat 'Bodo Amat', gak peduli dengan siapa yang ada dibangku penonton, gak peduli dia mau ketawa atau gak, ini acara gue dan temen" @standupindo_pdg, kita udah capek" buat bikin acara ini, materi, keringet, jerih payah, semua tertuang diacara ini, gue bakal jadi orang paling tolol kalo masih mikirin hal seperti itu. Finally, gue berhasil ngelupain semuanya, meskipun tatapan gue terkadang masih kearah yang sama, tatapan yang hanya akan menjadi cerita ketika gue turun stage nanti.

The Show was Over... Bit demi Bit tertuang malam itu dan lagi-lagi gue ngedenger semuanya sambil menikmati, gemuruh tepuk tangan itu, gelak tawa yang terkunci diruangan itu, tatapan penonton yang terlihat terpuaskan, dan di bangku terdepan terlihat seorang Pandji Pragiwaksono memberikan standing applause, temen" sesama comic @standupindo_pdg yang ngasi selamet, pada saat itu lagi-lagi gue terdiam. Yah... semua terjadi secara luarbiasa dan lagi-lagi gue cuma bisa bilang kalo gue sangat menikmatinya.

inih gue kasih liat videonya ya...


 
Video StandUpNight Padang (@Mpuwhcihuy)
Klik aja gambar ini yang mau liat videonya... ^.^





Jumat, 04 Mei 2012

Selamat Ulang Tahun... Mama







Ma, Aku ingin menangis detik ini... Aku ingin menyebut namamu lalu menangis...
Aku mencintaimu ma, aku menyanyangimu... aku yakin semua anak"mu memiliki rasa yang sama, ingin menangis dipangkuanmu, lalu menceritakan semua masalah yang ada, dan diakhiri dengan kecupan dikeningmu.

Ma, Aku ingin mengadu... Entah kepada siapa aku harus mengadu saat ini, setelah Papa lebih memilih untuk menyusulmu, aku tidak ada lagi tempat mengadu, aku kesepian ma... lalu jika aku saja kesepian, bagaimana dengan Rama, si anak bontot mu itu... Aku yakin ia lebih sering menangis didalam hatinya melebihi abang"nya, meskipun pada saat aku mengetik blog ini air mata ku terus mengalir.

Rama sudah beranjak remaja sekarang ma, ia telah menjadi anak yang tangguh... mungkin didikan dari ibuk sudah bisa diterimanya meskipun setiap minggu ia tetap mengadu kepada abang"nya ma, oh iya... sekarang logatnya juga udah keminang"an, hehehe. Hobinya masih tetap sama, main bola dan main game, bahkan ia mencuri" waktu untuk melakukannya dari ibuk, tapi ya gapapa ya ma... toh dedek sama ka' boy dulu juga begitu, mumpung masih kecil yah, yang penting dia masih di kelas unggul dan nilainya juga masih terjaga koq.

Ma, Hari ini 5 mei 2012... Umur mama seharusnya udah 57, Selamat ulang tahun ya ma... Dedek kangen mamaaaa, kangen diem" ngecup kening mama pas mama ketiduran sehabis diurut, kangen juga ngurut mama sambil nonton tipi dan cerita banyak hal, kangen pergi ke pasar subuh" beli kue, hobi kita kan sama, Dedek cuma bisa doain mama sekarang, yah cuma itu ma.

Ma, Inget gak parcel lebaran yang setiap tahunnya dikirim untuk ibu Eriyanti ? dan setiap ada parcel dateng selalu ada anak gendut yang curi" mata ke arah parcel tersebut, sepertinya dia sudah mengincar minuman dan keu" yang ada didalamnya, tapi sayang ia bukan anak Ibu Eriyanti seperti yang tertulis di parcel tersebut karena yang ia ketahui, ia adalah anak bu i'i, bukan nama yang berada diparcel tersebut, satu hari parcel tersebut dirumah, ia selalu mengamatinya, dan mama cuma ketawa ngeliat tingkah laku anak itu, hari kedua engkau buka parcel tersebut meskipun lebaran masih jauh, "Nanti mama bilangin ya ke Ibu Eriyanti kalo parcelnya dedek minta fantanya, boleh koq" katamu memberitahu, namun anak itu masih ragu mengambilnya, dan hatinya senang bukan kepalang ketika fanta tersebut engkau ambilkan dari dalam parcel tersebut, ia masih belum mengetahui jikalau Ibu Eriyanti dan Bu i'i adalah orang yang sama.

 Ma, Anak itu kini sudah besar, ia terus beranjak dan mencari arti dari kehidupan, ia sedang belajar berjalan dengan kakinya sendiri, tanpa bantuan dari orang lain, persis seperti katamu "Jangan pernah meminta dari orang lain jika kamu bisa mengusahakannya ki". Pada saatnya nanti anak tersebut akan berlari mengejar mimpi"nya, yah... Aku akan berlari sekencang"nya untuk mimpiku ma, meskipun aku tahu kalau hambatan yang berada didepanku tidak mudah dilewati, tapi aku adalah anak dari wanita tangguh seperti dirimu dan keyakinan yang aku punya selalu mengatakan bahwa AKU BISA!.

Ma, Aku ingin mengecup kening dan pipimu, aku ingin menggenggam erat tanganmu ma, aku ingin memelukmu... sekali lagi ajaaa... Yah, Aku tau koq itu gak bisa saat ini, tapi aku akan melakukan itu dengan cara yang berbeda ma. Mama pasti bisa liat dedek disana, Aku akan tunjukkin ke mama kalau bukan mama doank yang Luar Biasa, dedek juga maaaaa... Pokoknya mama doain aja ya dari sana, Posisi mama kan sama Allah deket, jadi biar doa'nya cepet sampe gituh.

Ma... Selamat Ulang Tahun yaaaaaa... Dedek, Ka' Boy dan Rama sayang mama selamanyaaaaa...


P.S. : 
Aku selalu memanggil diriku sendiri dengan sebutan 'dedek' hanya kepadanya selama hampir 20 tahun meskipun aku telah memiliki adik saat usiaku 9 tahun, karena hanya kepadanya aku bisa bermanja" dan selalu menjadi anak kecil.

Almh Hj. Eriyanti, S.H.
5 Mei 1955 - 11 Januari 2010
Look! How similiar i'm with her






Minggu, 15 April 2012

"It Could Have Been A Perfect World"



RandomPanda

"It Could Have Been A Perfect World"

Deskripsi:
Seorang pria mengunjungi kenangan atas wanita yang ia cintai. Bagaimana ia membenci cinta, jatuh kepadanya, dan bagaimana semuanya berubah. Tapi apakah yang kita ingat sama dengan apa yang terjadi?... atau benarkah itu?

Rabu, 11 April 2012

Dunia Mimpi

"Hari ini bahagia. Setengah perasaan cintaku padamu sepertinya memudar :)" - @falafu

Memudar, seperti senja yang tak lagi mau menyapa...
Memudar, seperti matahari pagi yang tak lagi membangunkan...
Memudar, seperti tetesan hujan yang enggan menghujam bumi...
Memudar, seperti Seorang Ratu yang meletakkan mahkotanya lalu pergi...

Ya sudah, toh semuanya memang pasti akan terjadi, yang aku ingat dulu aku begitu ganasnya dalam memaki diri sendiri, begitu brutalnya dalam menyalahkan hati, tapi sekarang tidak.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, mungkin dihari kemarin aku masih hidup diantara mimpi-mimpi kosong, lalu hari itu aku terbangun dan banyak hal yang ternyata menungguku. Aku memiliki sahabat-sahabat luarbiasa yang setia untuk berlari bersama dan menggapai cita, mereka tidak akan menungguku untuk hal-hal remeh, Aku memilih untuk terus berlari. Aku memiliki banyak pekerjaan yang membutuhkan tangan dan otakku ini agar segera terselesaikan, mereka hanya akan luntur dan tak lagi ada jika aku memilih untuk berdiam diri. Aku memiliki sebuah prioritas bernama 'Kuliah', sejak dulu aku bukan orang bodoh dan sebuah tambahan nama bertitelkan S.T. harus segera kusandang. Mereka lah yang membangunkanku dari mimpi tentang dirimu dan semua hal tentang kamu.

Bye, Merry Strawberry...


Senin, 19 Maret 2012

10 Minutes Before Adzan..


"Diantara gema takbir, aku akan melangkah dengan keyakinan Laailaaha Illallaah dan menunggumumu di Janatul Firdaus Na'im"

Alif laam miim..
Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqiin..
Alladziina yu'minuuna bil ghaibi wa yu qiimuunash shalaata wa mim maa razaqnaahum yunfiquun..
Wal ladziina yu'minuuna bi maa unzila ilaika wa maa unzila min qablika wa bil aakhirati hum yuuqinuun..
Ulaa-ika 'alaa hudam mir rabbihim wa uaa-ika humul muflihuun.. (QS Al Baqarah 1-5)

Itulah yang ku dengar sesaat sebelum Adzan maghrib dikumandangkan di rumahmu, dari toa masjid terdengar beberapa orang tampak sedang mengaji melantunkan ayat-ayat suci Al quran.

"Kita sholatnya bareng aja ya." katamu padaku

Aku terdiam sesaat, apakah aku pantas menjadi imam bagimu? Tapi dilain sisi aku berpikir "aku adalah laki-laki.. suatu saat, kelak menjadi imam bagi keluargaku." Namun apakah wanita ini yang akan menjadi ma'mumku nanti? Apakah wanita ini yang akan mengamini setiap doaku?

"Kok diem sih? Gak mau ya jadi imam aku?" Tanyamu lagi
"Eng.. Mmm.. Kenapa gak sholat sendiri-sendiri aja?" Kataku
"Kan pahalanya lebih besar kalau sholat berjamaah, sekalian kamu latihan jadi imam."

Latihan jadi imam? Hmm.. mungkin ada benarnya juga, tapi jika ini sebuah latihan.. aku takut jika sholatku tidak khusyu dan itu akan mengacaukan sholatnya nanti. Ini sholat, bukan main-main karena ini berurusan dengan Allah walaupun kamu bilang  latihan jadi imam tetap saja aku tidak boleh sembarangan.

"Gimana? Mau imamin aku gak?"
"Aku coba."

Aku coba? Jawaban macam apa itu, kenapa kata-kata penuh keraguan seperti itu yang keluar dari mulutku? Ini masalah keyakinan, aku harus menjawabnya dengan yakin bukan dengan keraguan. Dan lagi apakah benar aku pantas menjadi imam baginya? Aku ini hanyalah laki-laki yang tidak begitu paham masalah agama, aku hanya hafal 4 surat pendek dan itu pun benar-benar surat yang paling pendek dalam Al quran.

"Tapi aku baca doanya masih jelek loh, kamu yakin mau aku imamin?"
"Gak masalah, yang penting kamu niat jadi imam aku."

Astaghfirullah, entah kenapa wanita ini begitu yakin untuk menjadi ma'mumku? Sedangkan aku yang dia pilih menjadi imam ini malah penuh dengan keraguan. Apakah Allah memang sengaja menggerakkan hati wanita ini dengan sebuah keyakinan untuk meyakiniku? Apakah sudah saatnya aku mempersiapkan diri menjadi imam?

"Yaudah kamu ambil wudhu aja dulu, sebentar lagi Adzan" Katamu
"Kamu? Gak wudhu?"
"Aku udah wudhu tadi, sekarang kamu."

Ya Allah, aku mencintai wanita itu sejak lama dan kini aku semakin jatuh cinta dengan keyakinan dan ketaatannya padaMu. Jika Engkau mempercayakan aku untuk menjadi imamnya, aku harap namanya benar-benar tertulis di Lauhul Mahfudz untuk diriku. Bukan untuk sekedar aku cintai tapi juga untuk aku solehahkan dirinya.

Aku percaya padaMu ya Allah, jika Engkau maha mengetahui dan pasti Engkau pun menyadari apa yang aku lakukan setiap malam dalam sholatku. Berjuta rindu yang aku dzikirkan berlomba dengan begitu banyak doa yang aku selipkan namanya, apakah masih belum cukup membuatMu mendekatkannya padaku? Entahlah, aku percaya Allah punya cara sendiri untukku.

"Aku udah wudhu, yuk kita siap-siap sholat."
"Yuk."

Dan begitu kami bersiap, tak lama kemudian adzan berkumandang.. memanggil umat muslim untuk segera datang menghadapMu dalam sholat. Maka dengan penuh keyakinan dan keikhlasan aku akan menjadi imam baginya.

Allahu akbar, Allahu akbar..
Asy-hadu allaa ilaaha illallaah
Asy-hadu anna muhammadar rasulullah
Hayya'alash shalaah
Hayya'alal falaah
Allahu akbar, Allahu akbar
Laailaaha illallaah..

" Aku berwudhu dengan rindu, lalu ku shalawatkan sebuah cinta, ku doakan namamu dan ku dzikirkan kisah kita.. agar Tuhan setuju, aku dan kamu."

Reblog dari blog @wira_panda

Rabu, 22 Februari 2012

Lalu setelah itu apa?

Sebuah tantangan atau tamparan? begitu saya menyikapinya...

"Ini dunia kerja, Relasi... Sedikit keberuntungan... itu yang penting. IP mah buat orang yang gak punya keduanya." ~Republik Twitter,

Saya Mahasiswa Expired, seharusnya sudah wisuda, begitu kata orang. Paradigma yang membuat saya harus segera menamatkan kuliah agar tidak di cap main-main saja dalam menyikapi hidup *lapkeringet*. Lalu setelah itu apa? Apa yang harus saya lakukan setelah itu? bekerja? bekerja seperti apa? sudah banyak teman saya yang sudah wisuda dan bekerja, Lalu apa?.

Abang saya sudah bekerja, 3 dari 3 teman dekat saya sudah bekerja, Sahabat sekaligus partner siaran saya selama 4tahun juga sudah bekerja, lalu apa?. Hasrat ingin tahu saya yang besar memaksa saya untuk berkunjung atau sekedar melihat-lihat tempat kerja mereka, lalu? Saya melihat rutininas yang dipaksa, ekspresi yang dikerdilkan, lalu diakhirnya mereka tersenyum setelah melihat angka" rupiah direkening mereka.

Pada saatnya nanti saya akan menjadi bagian dari mereka, bekerja... Bekerja dimana? Menjadi apa? Lalu apa? beribu tanda tanya seolah bermain-main liar diotak saya. Bekerja untuk mencari KESUKSESAN. Definisi sukses itu masih melayang-layang diudara kawan, ia masih mencari tau jawaban sebenarnya atau bahkan didalam diri setiap individu memiliki cara pandang yang berbeda-beda. Lalu bagaimana definisi menurut saya? saya hanya ingin mimpi-mimpi yang setiap harinya selalu bertambah dilist otak saya dan saya mengejar mereka sampai terengah", sampai saya hanya mampu terkulai lemas mencium tanah, sampai saya jatuh dan tidak bisa bangkit lagi, sampai saya MATI.

Saat ini otak kanan saya sedang bergerak abstract, mohon maaf jika tidak bisa memahami blog ini.
Adios!