Sabtu, 26 November 2011

Aku dan Seribu Rupiah...

Perlahan - lahan, yah... Seribu demi seribu, aku mengumpulkannya setiap waktu, berharap makin banyak hal kecil yang dapat mendobrak kemustahilan...

MIMPI - MIMPI DIATAS KERTAS
Subhanallah, Segala Puji Hanya untuk Allah... Aku masih memiliki catatan itu, catatan dengan mimpi - mimpi yang aku buat ditahun kedua kuliah, selepas gagal meraih jurusan di SPMB ke2, aku mencoba bangkit untuk berjuang kembali, aku mencari hal yang bisa aku kerjakan, Aku menulis target 100 mimpi disebuah catatan kecil, aku membuatnya meskipun tidak sampai seratus, 70 mungkin.


Halaman Pertama...

2,5 tahun kemudian, beberapa planning ini TERWUJUD, Voila,, sebuah kalimat pertama "Seberapun Indahnya Rencana saya, Jauh lebih indah rencana Allah untuk saya!" Aku mengumpulkan seribu demi seribu rupiah, aku berjuang untuk kehidupanku saat ini, mencoba menggapai setiap mimpi demi mimpi...

Ketika target ini dibuat, mama selalu melarang aku untuk mencari uang sendiri, aku dituntut untuk kuliah secepatnya, ia tau kalau aku sudah terlambat 6 bulan dari teman-teman yang lain setelah cuti kuliah,  tapi aku hanya anak keras kepala yang telingaku jarang digunakkan untuk mendengar, bahkan sampai terakhir mama masih bersamaku, aku belum pernah bisa membuktikan kalau aku mampu meraih hal tersebut.

Sebuah pintu mimpi pertama terbuka, aku mengetahui sebuah pengumuman yang membuka kesempatan mahasiswa dalam berwirausaha, H-1 aku membuatnya dan aku berhasil... sebuah modal awal yang luarbiasa aku dapatkan, Kamera dan Komputer seharga 17juta berhasil aku miliki, pintu - pintu itu kembali terbuka dengan izinNya, aku kembali mendapatkan kesempatan untuk meraih seribu demi seribu, Papa menjadi saksinya.

Satu project besar berhasil aku tangani meskipun tidak sempurna, tapi aku yain ketidaksempurnaan itulah yang akan membuat aku lebih baik dikemudian hari, membuat aku mengerti untuk memuaskan pelanggan lebih dan lebih, perlahan lagi beberapa pintu kembali terbuka, sebuah tawaran Wedding Photography, Luarbiasa... Aku bisa mendapatan uang saku selama sebulan dari satu hari pemotretan, Menjual Baju pun pernah aku lakukan, dan luarbiasanya dua bulan uang saku kembali aku dapatkan hanya membuat design dan mengirimnya ke Bandung, rencana Allah memang luarbiasa.

2buah baju dan satu pasang sepatu baru untuk papa.
Ya Allah, Aku ingin menangis saat itu, aku menahannya, aku ingin melihat ekspresinya, ketika aku membawakan sebuah baju berkerah, kemeja, dan sepasang sepatu, aku tidak perduli berapa harganya, saat itu, aku hanya ingin ia mengenakan pakaian terbaiknya. Ia langsung memakainya pada hari itu, entah apa yang ia rasakan saat itu, aku tidak pernah bertanya... yang jelas ia tidak pernah kulihat memakainya lagi sampai hari terakhirnya, entah apa alasannya...

Sampai saat ini, aku masih mencari kunci untuk membuka pintu - pintu mimpi, entah berada dimana, sejauh apa, sesulit apapun, yang jelas dengan tanganku sendiri aku akan membukanya, seribu demi seribu, aku akan terus berdo'a, meraih segala sesuatu, membuat checklist diakhir target-target itu, tersenyum saat satu dari banyak hal terselesaikan, perjuangan ini masih sangat panjang, peluh dan keringat masih banyak yang harus terkucurkan, aku siap! lebih dari orang lain. KARENA AKU ADALAH NAKHODA DARI KEHIDUPANKU SENDIRI.

Minggu, 20 November 2011

Aku terbangun dipagi hari, dan aku merasakan sisa air mata disudut mataku...



Entah sudah berapa hari? Kejadian ini terjadi begitu saja, aku terbangun dan air mata ini menguap begitu saja, sebuah pertanyaan, apakah aku menangis disaat tertidur? Sampai kemarin masih ada saja orang yang mengucapkan “Turut berduka ya mpu?”. Jujur bukannya ingin melupakan begitu saja, tapi aku lebih memilih untuk tidak telarut, terlalu sesak rasanya merasakan hal tersebut, aku bukan sosok sok kuat yang akan berkata “Gw gak kesepian” aku kesepian... sangat kesepian, sepi itu merasuk jauh, membeku, bagaimana tidak? Mereka orang-orang yang selalu memberikan suppport untuk hal-hal kecil yang aku lakukan sudah tidak lagi bisa aku kecup pipinya, sudah tidak bisa lagi memeluk erat tubuhku dan berkata “Papa, mama sayang kamu” kata-kata itu begitu luarbiasa, tapi apa harus terus menerus berteman dengan sepi itu.

Sampai saat ini aku hanya bisa mengalihkan pikiran ini, jujur aku hanya beranggapan kalau mereka masih ada, Papa sedang menungguku pulang dikampung (solok, Sumatera barat) dan Mama sedang berpeluh bekerja dirumah (jakarta) dan aku kuliah disini (padang). Bohong memang, kalau mengingat ternyata mereka telah berada didalam dekapanMu Ya Rabb,, memandang diriku hangat dari sana... tapi aku HARUS kembali ceria, tertawa,  melawan dunia dan menggapai mimpi-mimpi itu.

“Jika aku tidak mampu menghapus airmata ini disetiap pagi, biarkan saja aku menangis lepas hingga lelah... sesudah itu aku akan tersenyum memandang dunia, karena disana aku akan berjuang meraih tiap kepingan mimpi-mimpi”

Riki sayang mama & papa... selalu... Nama kalian akan selalu ada didalam do'a ku...