Dear Ayah...
“Ketika kamu kuliah nanti, kamu akan mengerti arti dari kehidupan ini” – Syafrudin Muis, 58tahun, Ayahku.
Aku memanggilmu papa... yah, engkau yang saat ini benar” berbeda dengan dirimu yang dulu. Tidak banyak kenangan yang mampu aku ingat tentang dirimu ketika aku baru beranjak dewasa, hanya hal – hal negatif tentangmu yang terekam jelas diingatanku, ketika engkau membentakku, ketika engkau memukuliku, ketika aku menangis terisak, entah bagaimana pola pendidikanmu terhadap anak-anakmu pada saat itu, engkau tegas... tapi itu berlebihan, engkau disiplin... tapi itu membuatku ingin berontak. Bahkan aku tidak pernah berani membawa temanku saat engkau sedang berada dirumah, aku takut, takut jika mereka melihat sosokmu sama seperti aku memandangmu...
Aku memanggilmu papa... Sampai saat itu kita masih tidak begitu dekat, bahkan aku tidak pernah tau sampai dimana jenjang pendidikanmu, aku selalu menulis ‘sarjana muda’ di biodata yang menanyakan jenjang pendidikanmu. semua tentangmu pada saat itu membuat aku bosan untuk tinggal dirumah, aku ingin lari... Bayangkan engkau pernah memukuliku pada waktu aku tidak mau pergi Kursus Bahasa Inggris, engkau marah, yah aku tahu... biaya kursus ku pada saat itu tidak murah. Akan tetapi, coba renungkan... aku iri jika melihat temanku yang sangat dekat dengan ayahnya, bahkan ketika kami sedang berkumpul dirumahnya, ayah temanku itu ikut tertawa riang bersama kami, bisa dibilang kami tertawa lepas karena cerita dan canda ayah temanku itu, yah... aku iri, membuatku betah berada dirumah sahabatku itu daripada dirumah sendiri. Aku selalu senang jika engkau pergi beberapa hari ke luar kota, semuanya membuatku lebih bebas, tidak ada yang memukul, membentak, dan memarahiku, dulu aku pikir itu hobbynya.
Aku memanggilmu papa... Sosok yang pelit, tidak pernah memberiku uang untuk sesuatu yang aku inginkan, papa hanya selalu bilang kalau semua yang aku inginkan tidak ada gunanya, hanya membuatku malas belajar meskipun ia tahu kalau nilaiku tidak pernah hancur. Saat ulang tahunku misalnya, tidak pernah ada kejutan untukku, tidak pernah ada kado-kado yang membuatku senang... ia memang selalu pelit dengan uangnya, beruntung ada mama yang selalu memberikan senyumnya dan memberiku uang untuk membeli yang aku inginkan. Mama selalu menjadi tokoh protagonis dalam hal ini.
Aku memanggilmu papa... Di dalam sebuah album foto ada banyak foto-fotoku bersamanya, dan satu yang selalu membuat orang yang melihatnya terpingkal, sebuah foto dengan caption “papa saya galak lo” dibawahnya, Ayahku dulu memelihara kumis yang cukup tebal, pernah ketika ia mencukurnya, aku yang sedang bermain dengan teman lingkungan rumah melihat ia memanggilku, dan aku tidak mengenalinya, hanya postur tubuh yang menyerupainya, badannya tegap, padat, dan kuat, mungkin hasil dari kerasnya kehidupan yang ia jalani.
Aku memanggilmu papa... Ingatkah dirimu, saat aku bertengkar hebat denganmu, saat aku bosan dengan semuanya, saat aku jenuh dengan sikapmu, saat aku ingin pergi dari rumah, entah apa masalahnya. Pada saat itu aku memakimu, aku membalas pukulanmu dengan tendanganku (Pa, riki nyesel banget dengan hal ini) pada saat itu aku bangga bisa melakukannya, aku bisa membuatmu sadar bahwa aku tidak diam dengan semua itu, dan entah berapa lama kita tidak saling menyapa sejak saat itu.
Aku memanggilmu papa... Ternyata, banyak hal menyenangkan tentangmu. Aku menemukannya disebuah tempat bernama ‘pesantren kilat’ entah kesurupan jin apa aku mengikuti acara itu, mengaji saja aku patah-patah, sholatku hanya seminggu sekali, tapi aku mengikuti serangkaian acara tersebut dengan sempurna, mengaji bersama-sama, mendengarkan tausyah, sholat berjamaah, Qiyamul lail, Muhasabah, dan aku menemukannya, yah aku menemukannya... sebuah titik balik. Malam itu aku menangis lepas, aku mengeluarkan semua kebodohan dan ketololanku saat itu, aku teringat dengan semua dosa- dosaku. Aku malu papa, aku maluuuu... aku malu karena sampai aku mengikuti pesantren kilat tersebut kita masih tidak saling menyapa, aku malu karena pernah bangga telah membalas pukulanmu dengan tendanganku, entah betapa pedihnya hatimu saat itu, aku malu membalas setiap ucapanmu dengan nada yang lebih keras, aku malu mengajarimu cara yang benar dalam bersikap menjadi seorang ayah... aku malu pernah melakukan semua itu.
Aku memanggilmu papa... Malam itu aku teringat satu masa, masa saat aku dilahirkan, mama pernah menceritakan semuanya... Aku dilahirkan cesar setelah 4,5 tahun sebelumnya kakakku dapat keluar normal dari rahim mama, “Riki waktu dilahirin kamu itu parah...” teringat jelas kata-kata dari mama, ia bercerita tentang proses ketika aku dilahirkan. Berminggu-minggu aku didalam inkubator, berjuta-juta biaya perawatan yang keluar hanya untuk diriku, Mama pun sempat pasrah melihat kondisiku, begitu juga dengan papa, ia telah pasrah memberiku nama, Riczky Syaputra, Artinya Rezeki. Ia menganggapku Rezeki yang tidak ia dapatkan pada saat itu, ia pasrah dengan nama itu, karena mungkin umurku tidak berapa lama setelah dilahirkan, keadaanku bergantung pada selang – selang inkubator, Mama pernah bercerita kalau papa pernah memohon pada dokter agar aku diselamatkan, aku tidak dapat membayangkan kondisiku pada saat itu.
Aku memanggilmu papa... Tangan-tangan kuatmu mengendongku dengan erat, engkau yang menjagaku setiap detiknya, ternyata aku begitu lemah tanpamu ayah. Ternyata banyak kenangan manis diantara kita, Hari Sabtu adalah hari yang paling kutunggu, pada hari itu engkau datang mengendarai Vespa bututmu, menunggu aku pulang sekolah didepan gerbang SD, aku berlari riang kearahmu ayah karena setiap menjemputku engkau akan mengajakku makan Mie Ayam didekat SD ku dan engkau selalu mengaduk Mangkuk Mie Ayamku agar sausnya merata, bahkan sampai saat ini ketika aku makan disana, tukang pangsit itu masih mengenaliku. Aku paling jago berenang pada waktu SD, itu semua karena papa yang memarahiku jika aku berenang dikolam cetek (dangkal –red), sejak kelas satu SD aku sudah bergabung dikolam yang dalam, yah ia mengajariku untuk lebih hebat dari anak-anak lainnya.
Aku memanggilmu papa... Aku tau engkau begitu menyukai Olahraga tinju yang diputar ditelevisi, tapi selalu saja disiarkan bersamaan dengan film kartun kesukaanku, aku selalu membohongimu dengan berkata kalau tinju tidak disiarkan hari ini, tapi ketika film kartunku selesai aku akan memanggilmu dan bilang kalau tinjunya disiarkan, tentunya setelah pertandingan sampai ronde ke sembilan. Paha ayahku adalah bantal paling nyaman untuk ku semasa kecil, ia selalu duduk dan aku meletakkan kepalaku dipahanya, dan kita menonton tivi bersama, selalu begitu...
Aku memanggilmu papa... Engkau terkapar dirumah sakit, Sebuah penyakit bernama Stroke menyerangmu, tubuhmu yang tegap dan kuat menjadi lemah tak berdaya, aku menangis disampingmu pada saat itu karena aku yang berniat menjagamu malah menambah rumit situasi. yah... sorenya aku berangkat dari padang menuju jakarta dengan keadaan yang parah, tanganku dibalut sebuah jaket dan berdarah-darah, aku baru saja mengalami kecelakaan saat menuju bandara, tanganku patah tak mampu digerakkan, engkau mengetahuinya dimalam pertama aku menjengukmu, padahal aku sengaja menyembunyikannya. Ini adalah stroke keduamu setelah yang pertama terjadi pada saat aku masih duduk dikelas XI SMA, Aku ingat ketika engkau mampu bergerak kembali dan hadir dimalam training centre PASKIBRAKA hanya untuk melihat aku menyebut namamu didepan “Riczky Syaputra, Anak dari Syafrudin Muis dan Eriyanti, Paskibraka Jakarta Pusat Tahun 2005”.
Aku memanggilmu papa... Sejak stroke keduamu, entah bagaimana perasaanmu, aku rasa semuanya berubah menjadi tidak menyenangkan, engkau begitu payah menggerakkan tangan dan kaki kananmu, engkau yang telah pensiun tak lagi mengajar siswa-siswa pelautmu untuk menambah pemasukan keluarga, tapi satu hal ayahku... anak-anakmu akan menjadi tangan dan kakimu yang akan menggantikanmu suatu saat kelak, bukankah saat ini kak boy perlahan mencobanya.
Aku memanggilmu papa... Aku senang melihatmu bisa mandi sendiri lagi, setelah sebelumnya selalu engkau pinta aku untuk memandikanmu ketika aku berada dirumah (kampung), aku tidak pernah berani untuk menolak memandikanmu, karena pada saat itu lagi-lagi aku menahan air mataku, aku membayangkan saat engkau memandikanku ketika aku masih berada dalam pelukan eratmu, mungkin Tuhan mengajarkanku untuk mengingat semua kebaikanmu pa, semua yang tidak pernah ada diotakku sebelum engkau sakit, aku tidak akan pernah menolaknya.
Aku memanggilmu papa... Betapa cerahnya wajahmu dihari idul fitri kemarin, ketika kita berempat (aku, kak boy dan rama) berkumpul bersama, mungkin wajahmu akan semakin bersinar jika mama yang telah mendahului kita semua ada disisimu, engkau yang selama ini kesepian dirumahmu, anak-anak mu kembali hadir semua menjagamu... Betapa terharunya aku, ketika aku pergi kepasar untuk membelikan ayam dan bumbu”nya, engkau memasak dengan semampumu, aku membantumu meskipun tak mengerti bagaimana cara memasak, dimoment itu aku terbawa pada suatu masa, masa dimana kita berdua mencuci mobil, aku yang selalu malas diminggu pagi engkau paksa mencuci mobil, dan dua buah mobil (tua) itu berhasil kita gosok (agak) mengkilap.
Aku memanggilmu papa... Hari ini kita sharing tentang kehidupan, aku banyak bertanya segala hal yang tidak pernah aku ketahui tentang dirimu, engkau yang mulai merantau setamat STM, engkau yang pernah menjadi anak buah kapal selama enam tahun, engkau yang berdagang kaki lima setibanya dijakarta, engkau yang menjadi Perwira tanpa biaya sepeser pun dari orangtua mu. engkau bercerita seandainya engkau menguasai bahasa inggris engkau akan menjadi orang yang sangat sukses, melihat banyaknya panggilan dikapal asing dengan gaji luarbiasa, mungkin ini alasannya ia begitu marah ketika aku tidak mau les bahasa inggris. Aku percaya dengan semua yang engkau ajarkan, engkau mengajarkan aku untuk lebih menghargai uang, engkau yang mengajarkan aku untuk hidup mandiri, engkau yang mengajarkan aku akan kerasnya dunia. Sewaktu mama sakit, aku baru tahu kalau ternyata jenjang pendidikanmu sama dengan S3 didunia kelautan, betapa bodohnya aku dulu. Aku Cuma tahu engkau dipanggil ‘bas’ oleh orang sekitar rumah, ternyata itu sama dengan ‘captain’.
Aku memanggilmu papa... Hari ini aku membawamu ke pasar, naik motor vega R yang sudah tak lagi layak dikatakan bagus, engkau memeluk pinggangku erat, dan tahukah kamu, tadi aku menangis. Teringat ketika aku tidak mau engkau ajarkan mengemudi karena selalu dibentak-bentak, teringat saat aku lebih memilih mobil mama dibandingkan mobil corolla tua mu, dan teringat saat engkau dengan tangan kuatmu mengantarkan kami ke sekolah dengan apa pun itu, vespa tua, aku selalu merasakan seperti bisa terbang diatasnya. mobil tua, entah berapa ratus kali aku terlelap didalamnya karena nikmat angin diluar kaca jendela, dulu engkau yang selalu mengantarkan aku pergi kemana pun.
Aku memanggilmu papa...
Aku memanggilmu papa...
Aku memanggilmu papa...
Aku memanggilmu papa...
Aku memanggilmu papa... dan aku ingin menjadi anak yang baik untuk dirimu dan mama, aku ingin menjadi anak sholeh yang doaku akan mengalirkan pahala untukmu, aku ingin menjadi pengganti tongkatmu yang menopang jalanmu, membantumu melakukan aktivitasmu, engkaulah Ayah Terhebatku Papa...
Your Son...
Riandhika Syaputra, S.T.
Riczky Syaputra,
Rinaldi Syaputra (who waiting for us in heaven),
Rama Antonio Syaputra.
